Hikmah Sholat

Buah dan hikmah sholat adalah dapat menghibur hati dan membuat wajah berseri-seri.

Berdoalah Kepada Allah

Allah memerintahkan kepada hambanya untuk mengembalikan segala keluh kesah kepadaNya meminta tolong dengan sholat, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Manfaat Sujud dalam Sholat

Memperkuat saraf mata, saraf hidung, saraf telinga, saraf leher, saraf otak atau kepala. Memperkuat lutut, Memperkuat saraf pada kaki dan memperkuat organ-organ dalam tubuh, jantung, hati, pancreas, dan sebagainya.

Menguak Misteri dan Rahasia Adzan Shalat Subuh


Ada sebuah misteri dan rahasia adzan shalat subuh yang perlu para pecinta misteri ketahui. Misteri ini ada kaitannya dengan salah satu bait yang ada dari bunyi azdan subuh, yang artinya “Sholat lebih baik dari pada tidur”. Kalimat seperti ini hanya ada ketika adzan subuh dan tidak ada pada adzan yang lainnya. kalimat seperti itu tentu mengandung sebuah makna tersendiri.

Penjelasan Ilmiah tentang fungsi syaraf
Dalam sebuah studi kasus, didapat sebuah kesimpulan bahwa kebanyakan puncak terjadinya serangan jantung dimulai pada jam 6 pagi sampai dengan jam 12 siang. Itu terjadi karena telah terjadi ketegangan pada saraf simpatis dan menurunnya rasa tegang pada saraf parasimpatis. Istilah seperti itu digunakan oleh bangsa China dengan sebutan Yang dan Yin.

Syaraf simpatis yang tegang akan meningkat dan membuat tubuh kita merasa segar bahkan siap untuk beraktifitas, ketika tekanan darah meningkat maka denyut jantung menjadi lebih kuat dan organ tubuh lainnya juga mulai berfungsi.

Ketika saraf parasimpatis menjadi tegang dan terjadi peningkatan, maka tekanan darah akan turun, denyut jantung berkurang dan ritmenya mulai melambat. Akibatnya terjadi peningkatan aliran darah ke daerah perut, yang berfungsi untuk menggiling makanan dan aliran darah ke otak menjadi berkurang sehingga kita akan merasa mengantuk.

Penjelasan ilmian tentang darah
Pada saat pergantian waktu terutama menjelang dini hari hingga siang hari maka secara perlahan ada peningkatan adrenalin yang dapat mengakibatkan penyempitan pembuluh darah dan dapat meningkatkan agregrasi trombosit walaupun kita sedang tertidur. Agregrasi trombosit adalah saling menempelnya sel trambosit satu dengan yang lain agar darah menjadi beku. Kondisi tersebut dapat terjadi pada siapa saja, baik orang dewasa maupun pada bayi. Maka dari itu kebanyakan bayi akan bangun pada saat menjelang subuh, karena pola tubuh bayi masih sangat baik dan dapat membaca pergerakan alam dengan baik. Ritme seperti ini disebut dengna ritme Circadian atau sama dengan ritme sehari-hari.

Pada tahun 1980 Furchgott dan Zawadsky meneliti tentang sel dinding arteri yang ada dalam pembuluh darah. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa pembuluh darah yang masih normal atau tidak hilang akan segera melapisi dinding sel bagian dalam dan akan melebar jika ditetesi sebuah zat kimia yang disebut dengan Asetikolin. Sedangkan jika sel-sel pembuluh darah yang berada di luar tubuh dan kemudian ditetesi Asetikolin tidak melebar, itu adalah sebuah penemuan besar, yang belum pernah ada. Dengan adanya penelitian tersebut maka seluruh dunia mulai meneliti mengapa sel yang berada di dalam tubuh bereaksi terhadap zat sedangkan yang di luar tubuh tidak memberikan reaksi. Salah satu dari hasil penelitian tersebut menyebutkan adanya kandungan NO atau disebut dengan Nitrit Oksida. Hasil penelitian tersebut berhasil ditemukan oleh Ignarro dengan Murad. Dengan demikian maka Furchgott, Ignarro, dan Murad berhasil mendapat NOBEL pada tahun 1998.

Pada kenyataanya zat NO tersebut selalu diproduksi, baik dalam keadaan istirahat tidur atau pada saat sedang beraktifitas. Produksi zat tersebut dapat meningkat karena obat Nifedipin, nitrat dll, akan tetapi produksi zat tersebut juga dapat meningkat dengan cara bergerak atau berolahraga. Efek lain yang diberikan Nitrik oksida adalah dapat mencegah pembekuan darah, atau dapat mengurangi agregrasi dalam sel trombosit. Maka dari itu ketika kita bangun pada saat subuh dan melakukan beberapa aktifitas ringan seperti jalan ke mesjid dan melakukan sholat subuh maka itu akan memberikan pengaruh yang sangat baik untuk tubuh, terutama pada jantung. Ketika kadar NO yang ada dalam darah naik karena aktifitas yang kita lakukan, seperti wudhu, shalat bahkan disertai dengan jalan kaki ke masjid ,maka secara tidak langsung itu akan mencegah terjadinya penyakit jantung.

Posisi Ruku
Misteri dan rahasia adzan shalat subuh berikutnya adalah tentang berbagai macam posisi ketika kita melakukan sholat dan salah satunya adalah ruku dan juga sujud. Apakah kita tahu, bahwa ketika kita mengerjakan posisi ini maka dapat meningkatkan tonus parasimpatis.

Ketika kita berolahraga maka tubuh akan membuat NO yang berfungsi untuk melawan zat adrenalin yang meningkat, dan itu akan berakibat pada menyempitkan pembuluh darah dan akan membuat sel trombosit darah menjadi kacau bahkan saling menempel.

Petunjuk Shalat subuh
Shalat subuh sudah diperkenalkan sejak lama, terutama pada zaman nabi. Hanya saja masih banyak yang belum mengerti manfaat ketika kita menjalankan shalat Subuh seperti ini. Memang belum banyak yang meneliti secara dalam manfaat ketika kita shalat subuh dan manfaat kenapa kita harus bangun pagi. Dengan adanya hasil penelitian ini maka diharapkan bahwa mulai saat ini, ketika waktu Subuh tiba, maka kita akan bangun dan melakukan ibadah sholat. Setelah itu melakukan beberapa aktifitas yang lain. Namun jika kita merasa malas maka tubuh tidak akan mendapatkan manfaat yang lebih. Itulah sedikit penjelasan tentang misteri dan rahasia adzan shalat subuh, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Penulis: ARIS FOURTOFOUR
Sumber: http://m.log.viva.co.id


Bolehkan Melafalkan Niat Ketika Sholat?

Melafalkan niat dalam ibadah termasuk masalah furu’iyah, yang diperselisihkan di kalangan ulama fuqaha, antara yang mengatakan sunnah dan tidak sunnah. Akan tetapi dari segi dalil, para ulama fuqaha yang mengatakan sunnah, memiliki dalil yang sangat kuat dan otoritatif. Sebelum menjelaskan dalil kesunnahan melafalkan niat dalam ibadah, ada baiknya kami paparkan terlebih dahulu, tentang pendapat para ulama fuqaha madzhab yang empat seputar melafalkan niat.

Ada tiga pendapat mengenai hukum melafalkan niat dalam ibadah.

Pertama, pendapat yang mengatakan sunnah, agar ucapan lidah dapat membantu memantapkan hati dalam niat ibadah. Pendapat ini diikuti oleh madzhab Hanafi dalam pendapat yang mukhtar, madzhab Syafi’i, dan madzhab Hanbali sesuai dengan kaedah madzhab. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Nujaim dalam al-Asybah wa al-Nazhair hal. 48, al-Imam al-Khathib al-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj juz 1 hal. 57, dan al-Imam al-Buhuti al-Hanbali dalam Kasysyaf al-Qina’ juz 1 hal. 87.

Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa melafalkan niat dalam ibadah adalah makruh. Pendapat ini diikuti oleh sebagian ulama madzhab Hanafi dan sebagian ulama madzhab Hanbali. Hal ini juga diceritakan oleh Ibnu Nujaim dalam al-Asybah wa al-Nazhair hal. 48 dan al-Buhuti dalam Kasysyaf al-Qina’ juz 1 hal. 87.

Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa melafalkan niat dalam ibadah adalah boleh (mubah), akan tetapi sebaiknya ditinggalkan. Kecuali bagi orang yang waswas, maka melafalkan niat disunnahkan baginya, untuk menghilangkan keraguannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Arafah dalam Hasyiyah al-Dusuqi ‘ala al-Syarh al-Kabir juz 1 hal. 233-234 dan al-Shawi dalam al-Syarh al-Shaghir juz 1 hal. 304.

Demikian pendapat para ulama fuqaha madzhab empat tentang hukum melafalkan niat dalam ibadah.

Sedangkan dalil yang dijadikan dasar para ulama yang menganjurkan melafalkan niat dalam ibadah adalah hadits sebagai berikut ini:
عن أَنَسٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ وَحَجٍ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata (ketika akan menunaikan ibadah haji dan umrah): “Aku penuhi panggilan-Mu, untuk menunaikan ibadah umrah dan haji.” HR Muslim.

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalmam melafalkan niat dalam ibadah haji dan umrah. Apabila dalam satu ibadah, melafalkan niat itu dianjurkan, maka dalam ibadah lainnya juga dianjurkan, karena sama-sama ibadah. Dalam hadits lain juga diriwayatkan:
عَنْ عَائِشَة َأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمًا : هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ غَدَاءٍ ؟ قَالَتْ لَا ، قَالَ : فَإِنِّي إذَنْ أَصُومُ ، قَالَتْ : وَقَالَ لِي يَوْمًا آخَرَ أَعِنْدَكُمْ شَيْءٌ ؟ قُلْتُ نَعَمْ ، قَالَ : إذَنْ أُفْطِرُ وَإِنْ كُنْتُ فَرَضْتُ الصَّوْمَ ” رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيّ وَصَحَّحَ إسْنَادَهُ

“Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Apakah kalian mempunya makanan untuk sarapan?” Ia menjawab: “Tidak ada.” Lalu beliau bersabda: “Kalau begitu, aku berniat puasa.” Aisyah berkata: “Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Apakah kalian mempuanyai sesuatu (makanan)?” Aku menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, aku niat berbuka, meskipun tadi aku bermaksud puasa.” HR. al-Daraquthni dan ia menshahihkan sanadnya.”
Dalam hadits di atas, jelas sekali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melafalkan niatnya untuk menunaikan ibadah puasa. Dalam ibadah puasa, melafalkan niat disunnahkan, berarti dalam ibadah yang lain juga dianjurkan karena sama-sama ibadah.

Perlu diketahui, bahwa dalam niat puasa, tidak harus menggunakan redaksi nawaitu shauma ghadin (saya niat puasa besok), bahkan boleh juga dengan redaksi ashumu ghadan (aku niat puasa besok) atau inni sha’imun ghadan (sungguh aku puasa besok). Demikian pula, dalam niat shalat, tidak harus dengan redaksi ushalli (saya niat shalat), akan tetapi boleh dengan redaksi nawaitu shalatal ‘ashri (saya niat shalat ashar) dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kitab-kitab fiqih Syafi’iyah.

Sekarang, apabila melafalkan niat dalam ibadah shalat dan wudhu’, disunnahkan karena diqiyaskan dengan ibadah haji dan puasa, lalu bagaimana dengan pernyataan sebagian kalangan Wahabi yang mengharamkan dan membid’ahkan melafalkan niat dengan alasan kaedah la qiyasa fil ‘ibadat (tidak boleh menggunakan qiyas dalam hal ibadah)? Tentu saja kaedah la qiyasa fil ‘ibadat tersebut tidak benar dan bertentangan dengan penerapan para ulama salaf terhadap dalil qiyas.

Ketika qiyas itu diakui sebagai salah satu dalil dalam pengambilan hukum Islam, maka penerapannya bersifat umum, termasuk dalam bab ibadah. Oleh karena itu, kita dapati para ulama salaf sejak generasi sahabat melakukan qiyas dalam hal ibadah. Misalnya, al-Imam al-Hafizh Nuruddin al-Haitsami meriwayatkan dalam kitabnya Majma’ al-Zawaid, bahwa sebagian sahabat seperti Anas bin Malik menunaikan shalat sunnah 4 raka’at sebelum shalat ‘id. Sementara sahabat Ibnu Mas’ud menunaikan shalat sunnah sesudah shalat ‘id empat raka’at. Padahal dalam kitab tersebut juga diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukan dan tidak menganjurkannya. Hal ini mereka lakukan karena diqiyaskan dengan shalat maktubah, yang memiliki shalat sunnah rawatib, sebelum dan sesudahnya.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali, madzhab resmi Wahabi Saudi Arabia, juga melakukan qiyas dalam hal ibadah. Al-Imam Ibnu Nashr al-Marwazi meriwayatkan:

“Al-Imam Ahmad ditanya tentang qunut dalam shalat witir, sebelum ruku’ atau sesudahnya, dan apakah dengan mengangkat tangan dalam doa ketika shalat witir?” Beliau menjawab: “Qunut dilakukan setelah ruku’, dan mengangkat kedua tangannya ketika berdoa. Demikian ini diqiyaskan pada perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam qunut shalat shubuh.” HR. Ibnu Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, hal. 318.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz, mufti Wahabi Saudi Arabia, yang wafat beberapa waktu yang lalu, juga melakukan qiyas dalam bab ibadah. Dalam hal ini, beliau berfatwa:

“Hukum mengangkat kedua tangan dalam doa witir. Soal: Bagaimana hukum mengangkat kedua tangan dalam shalat witir? Jawab: Disyariatkan (dianjurkan) mengangkat kedua tangan dalam qunut shalat witir, karena termasuk jenis qunut nazilah (yang dilakukan karena ada bencana). Dan telah sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau mengangkat kedua tangannya dalam doa qunut nazilah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Baihaqi rahimahullah dengan sanad yang shahih.” Fatawa Islamiyyah, juz 1 hal. 349, dan Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 30 hal. 51.

Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa anjuran melafalkan niat dalam ibadah adalah pendapat mayoritas ulama madzhab yang empat (madzahib al-arba’ah). pendapat tersebut memiliki dalil yang kuat dan otoritatif (mu’tabar), yaitu diqiyaskan kepada ibadah haji dan puasa, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, melafalkan niat dalam keduanya. Pendapat tersebut tidak dapat ditolak dengan alasan kaedah, la qiyasa fil ‘ibadat (tidak boleh melakukan qiyas dalam bab ibadah). Karena qiyas termasuk dalil pengambilan hukum dalam Islam, yang berlaku dalam semua bab. Oleh karena itu, qiyas dalam bab ibadah telah diterapkan oleh para sahabat, al-Imam Ahmad bin Hanbal dan bahkan oleh sebagian ulama terkemuka kaum Wahabi kontemporer  seperti Syaikh Ibnu Baz.
Wallahu a’lam.


Muhammad Idrus Ramli di www.idrusramli.com

Sholat Dhuha Setiap Pagi: Kunci Meraih Rizki Sepanjang Hari

Dalam doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT, kita selalu menyelipkan permohonan doa agar di mudahkan meraih rezeki-Nya dari arah yang tak terduga...min haitsu laa yahtasib. Pertanyaannya, bagaimana agar rezeki kita dimudahkan? Adakah ibadah membantu kita untuk memperlancar datangnya rezeki?

Ternyata Rasulullah telah mencontohkannya untuk kita teladani, yaitu dengan shalat dhuha. Shalat dhuha adalah ibadah shalat yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Shalat sunnat ini yang dilakukan seorang muslim saat waktu dhuha.Waktu dhuha tiba saat matahari mulai naik, kira-kira tujuh hasta sejak terbitnya. Jumlah rakaat shalat dhuha, dari dua hingga duabelas rakaat.Meskipun bernilai sunnah, shalat ini mengandung manfaat yang sangat besar bagi umat Islam. Salah satunya adalah membuka pintu-pintu rezeki dan keberkahannya.

Rasulullah bersabda di dalam Hadists Qudsi,“Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat shalat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR Hakim dan Thabrani). Dalam hadist yang lain dikatakan,“Barangsiapa yang masih berdiam diri di mesjid atau tempat shalatny setelah shubuh karena melakukan I’tikaf, berzikir, dan melakukan dua rakaat shalat dhuha disertai tidak berkata sesuatu kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun bnyaknya melebihi buih di lautan.” (HR. Abu Daud)

"Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus disedekahkan untuk setiap ruas itu." Para shahabat bertanya, "Siapa yang kuat melaksanakan itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, "Dahak yang di masjid itu lalu ditutupinya dengan tanah, atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari tengah jalan itu berarti sedekah. Atau, sekiranya tidak dapat melakukan itu, cukuplah diganti dengan mengerjakan dua rakaat shalat dhuha." (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Shalat-shalat sunah sangat dianjurkan. Karena ada faedah yang terkandung di dalamnya. Salah satunya untuk membuka pintu-pintu rezeki dan keberkahannya. Di antara shalat sunah tersebut adalah shalat dhuha.Hadits Rasulullah SAW terkait shalat dhuha antara lain: "Siapapun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa lautan." (H.R Turmudzi).

Rezeki adalah hak semua orang dan kemiskinan mendekati kekufuran, maka ibadah dan usaha adalah jawabannya.Dengan mengenal keutamaan dan keajaiban shalat dhuha, semoga kita akan lebih tergerak untuk merawat shalat sunah ini.


Sumber: www.sholat-dhuha.info

Mengapa Para Ulama Tak Mau Shalat Malamnya Diketahui Orang Lain?

Malam itu, muktamar baru saja usai. Lelah menghampiri setelah pikiran dan fisik terkuras. Tak terkecuali Imam Hasan Al Banna dan Umar Tilmisani. Keduanya pun beristirahat di ruangan yang sama.
“Wahai Umar apakah kamu sudah tidur?” tanya Hasan Al Banna kepada Umar Tilmisani yang berbaring tak jauh darinya.
“Belum”

Beberapa saat kemudian Hasan Al Banna kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama dan dijawab oleh Umar dengan jawaban yang sama. “Nanti kalau beliau bertanya lagi, saya tidak akan menjawabnya,” kata Umar dalam hati.

Ketika Hasan Al Banna kembali mengulangi perkataannya, Umar pun diam. Mengira Umar sudah tidur, Hasan Al Banna keluar pelan-pelan, mengendap-endap. Beliau meninggalkan kamar menuju tempat wudhu. Selesai berwudhu, Hasan Al Banna pergi ke salah satu ruangan paling ujung. Menggelar sajadah, bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla.

Bukan hanya Hasan Al Banna yang melakukan hal demikian. Banyak ulama yang merahasiakan shalat malamnya. Hingga, hanya istrinya yang tahu. Bahkan, ada pula yang sampai istrinya tidak tahu.

Ayyub As Sakhtiani, salah seorang ulama tabiu’t tabi’in, memiliki cara tersendiri untuk merahasiakan shalat malamnya. “Ayyub As Sakhtiani selalu melakukan shalat malam,” kata Salam yang mengetahui rahasianya, “tetapi hal itu dirahasiakannya. Jika Subuh menjelang, ia mengeraskan suaranya seolah-olah baru bangun dari tidurnya.”

Mirip kisah Hasan Al Banna, Abdullah bin Mubarak juga pernah ketahuan secara diam-diam shalat malam dalam waktu yang sangat lama. Saat itu Muhammad bin Al Wazir menemaninya dalam sebuah safar. Muhammad bin Al Wazir yang berbaring istirahat, mungkin dikira telah tidur. Abdullah bin Mubarak pun kemudian mengambil wudhu dan melakukan shalat malam hingga fajar tiba.

Mengapa para ulama merahasiakan shalat malamnya, hingga seakan-akan mereka tak mau orang lain mengetahuinya? Jika kita melihat ayat-ayat Al Qur’an dan hadits, tahulah kita bahwa setidaknya mereka memiliki tiga alasan:

Pertama, menjaga keikhlasan. Meskipun tingkatan mereka adalah ulama, mereka menyadari bahwa ketika orang lain melihat ibadah mereka, hal itu bisa menjadi buah bibir yang kadang menjadi godaan untuk tercampuri ujub, riya’ dan sum’ah.

Kedua, dengan merahasiakan shalat malamnya, para ulama dapat berdzikir dan bermunajat kepada Allah lalu berlinanglah air matanya. Kebiasaan ini akan menempatkan mereka pada golongan orang yang mendapat naungan Allah.
 “Dan (orang ketujuh yang mendapat naungan Allah ialah) orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, keutamaan shalat sunnah yang dirahasiakan, setara dengan 25 shalat sunnah yang dilihat orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 “Shalat sunnah seseorang yang tidak dilihat orang lain, setara dengan 25 ganjaran (shalat sunnah) yang dilihat orang lain.” (HR. Abu Ya’la, shahih menurut Al Albani)

Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

Sumber : sedekahdoa.wordpress.com

Haram Melintas Di Depan Orang Yang Sedang Shalat

Imam atau orang yang ingin menunaikan shalat sendiri (munfarid), disunnahkan untuk meletakkan sutrah (pembatas) dihadapannya. Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda :

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُم فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئاً، فإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَنْصُبْ عَصاً، فإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ عَصاً فَلْيَخْطُطْ خَطَّاً ثُمَّ لاَ يَضُرُّهُ مَا مَرَّ أَمَامَهُ
"Jika salah seorang dari kalian shalat maka hendaknya dia meletakkan sesuatu di hadapannya, jika ia tidak mendapatkannya, maka hendaknya dia menancapkan tongkat, jika dia tidak mempunyai tongkat maka hendaknya dia membuat garis, maka apa yang lewat di depannya (di luar garis) tidak akan merugikannya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad).
لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلَى سُتْرَةٍ، وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ، فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِيْنَ

"Janganlah engkau shalat melainkan ke arah sutrah (di hadapanmu ada sutrah) dan jangan engkau biarkan seseorangpun lewat di depanmu. Bila orang itu menolak (tetap bersikeras ingin lewat), maka perangilah dia, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan).” (HR Ibnu Khuzaimah)

Sutrah dapat berupa kursi, tongkat, tembok, tempat tidur atau segala sesuatu lainnya yang dapat mencegah seseorang melintas di hadapannya, ketika ia sedang shalat. Menurut pendapat terkuat, sebagaimana dikemukakan oleh Habib ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, melintas diantara orang yang shalat dan sutrah-nya adalah haram. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda :

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ
"Seandainya seseorang yang lewat di hadapan orang yang shalat itu tahu sebesar apakah dosanya, maka berhenti menunggu selama 40 adalah lebih baik baginya daripada ia melintas di hadapan orang yang shalat itu. (HR Bukhari)

Perawi hadits ini tidak mengetahui dengan pasti apakah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam menyebut 40 hari, bulan ataukah tahun.

Dan sebagian ulama fiqih mengecualikan jika shalatnya dilakukan di Masjidil Haram, maka ada keringanan untuk lewat di depan orang yang shalat, sebagaimana diriwayatkan Katsir bin Katsir bin al-Muthalib dari bapaknya dari kakeknya, berkata: “Aku melihat Rasulullah shalat menghadap hajar aswad sedangkan manusia berlalu lalang diantara keduanya.” Dan pada riwayat Muthalib bahwasanya ia berkata: “Aku melihat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah selesai melakukan thawaf 7 kali, kemudian mendekat ke sudut antara dirinya dan saqifah, kemudian shalat dua rakaat di pinggir tempat thawaf tersebut, sedangkan antara beliau dan tempat tersebut tidak terdapat sutrah”. Dan hadits ini seandainya sanadnya dhoif maka masih terdapat atsar-atsar yang bisa menguatkan hal ini, dan diperkuat dengan keumuman dalil raf’ul kharaj (mengangkat kesulitan), karena larangan lewat di depan orang yang shalat di Masjidil Haram adalah perkara yang berat dan sulit.
Wallahu a’lam

Sumber: kyaijawab.com, fatawaulamaislam.wordpress.com


Telah Kufur Orang Yang Meninggalkan Sholat

Meninggalkan shalat wajib adalah kufur. Oleh karena itu, barang siapa meninggalkan shalat dengan mengingkari hukum wajibnya, menurut kesepakatan ijma’ para ulama, dia telah masuk dalam kategori kufur besar, meski terkadang dia juga mengerjakannya . (Abdullah bin Baaz , kitab Tuffatu al ikhwaan bi ajwibatin Muhimmatin Tata’allaqu bi arkaani al Islam)

Adapun orang yang meninggalkan shalat secara total, sedang dia meyakini hukum wajibnya dan tidak mengingkarinya, dia juga kufur. Yang benar dari pendapat para ulama adalah bahwa kufurnya itu adalah kufur besar yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Hal itu didasarkan pada dalil yang cukup banyak, diantaranya :

 “Pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera (QS al Qalam 42- 43)

Hal itu menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu masuk dalam golongan orang orang kafir dan orang orang munafik yang punggung mereka tetap tegak ketika kaum muslimin bersujud. Seandainya mereka termasuk golongan kaum muslimin, niscaya mereka akan diperkenankan untuk bersujud sebagaimana yang diperkenankan kepada kaum muslimin.

“Tiap tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada dalam surge, mereka saling bertanya, tentang keadaan orang orang yang berdosa. “apakah yang memasukkan kamu ke dalam Neraka Saqar? Mereka menjawab,” Kami dahulu tidak termasuk orang orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak pula memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan. (QS Al Muddatsir 38-46)

Dengan demikian, orang yang meninggalkan shalat termasuk orang orang yang berbuat dosa dan akan masuk ke dalam Neraka saqar.

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka mereka itu adalah saudara saudara seagama, dan Kami menjelaskan ayat ayat itu bagi kaum yang mengetahui (QS At Taubah 11).

صحيح مسلم ١١٦: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ كِلَاهُمَا عَنْ جَرِيرٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرًا يَقُولُا
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

Dari Jabir RA, dia bercerita,”Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,” Pemisah antara seseorang dengan syirik dan kekufuran adalah perbuatan meninggalkan shalat.” (HR Muslim)

Imam Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu dinilai telah kafir besar, Ibnu Qayyim menyebutkan lebih dari 22 dalil yang mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat dengan kufur besar.

Sumber : Shalaatul Mu’min Ensiklopedia via eramuslim.com


Waktu-waktu yang Dilarang Mengerjakan Shalat

Ada beberapa waktu yang dilarang shalat di dalamnya, baik larangan tersebut terhitung sebagai haram atau makruh. Karenanya setiap muslim wajib mengetahui waktu-waktu tersebut sehingga dia tidak shalat pada waktu-waktu yang dilarang.

Secara ringkas, waktu-waktu yang dilarang shalat di dalamnya ada tiga. Yaitu:
  • Setelah shalat shubuh sehingga matahari naik setinggi tombak.
  • Setelah shalat Ashar sehingga matahari terbenam.
  • Ketika matahari di tengah-tengah sehingga tergelincir ke barat.

Dan kalau dirinci dan diperluas maka ada lima. Yaitu:
  • Setelah shubuh sampai terbitnya matahari.
  • Setelah ‘Ashar sampai matahari menguning (hamper tenggelam).
  • Ketika matahari di tengah-tengah sampai bertegelincir (± 10 menit sebelum adzan)
  • Sejak terbitnya matahari sampai naik setinggi tombak (± 12 menit sebelum adzan)
  • Sejak menguningnya matahari sehingga benar-benar tenggelam.


Waktu-waktu terlarang di atas didasarkan kepada beberapa dalil berikut ini:

-  Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu 'anhuma, ia berkata, “Beberapa orang yang aku percaya dan dipercaya oleh Umar bersaksi bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam melarang shalat setelah Shubuh sehingga matahari terbit dan sesudah ‘Ashar sehingga matahari tenggelam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

-  Hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada shalat sesudah Shubuh hingga matahari meninggi dan tidak ada shalat sesudah ‘Ashar hingga matahari tenggelam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

-   Hadits Ibnu Umar radhiyallaahu 'anhuma, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Apabila terbit matahari, maka akhirkan shalat sehingga matahari meninggi. Dan apabila matahari mulai tenggelam sehingga benar-benar menghilang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

-  Hadits ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: “Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam melarang kami mengerjakan shalat atau menguburkan mayat kami pada tiga waktu: Ketika matahari terbit hingga naik, saat tengah hari sehingga matahari tergelincir, dan ketika matahari akan tenggelam sehingga tenggelam.” (HR. Muslim)
Alasan dari larangan

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menjelaskan alasan dilarangnya shalat pada waktu-waktu tersebut berdasarkan sabdanya kepada Amr bin ‘Abasah al-Sulami:

Kerjakan shalat Shubuh, kemudian jangan  kerjakan shalat hingga matahari terbit dan meninggi. Karena (saat itu) matahari terbit di antara dua tanduk syetan dan saat itu pula orang-orang kafir bersujud kepadanya. Setelah itu silahkan mengerjakan shalat (sunnah) karena shalat itu disaksikan dan dihadiri (oleh Malaikat) sehingga bayangan tegak lurus (tengah hari). (Saat itu) jangan kerjakan shalat, karena neraka sedang dinyalakan. Jika bayangan telah condong, silahkan kerjakan shalat karena shalat disaksikan dan dihadiri (oleh Malaikat) sehingga engkau mengerjakan shalat ‘Ashar. Sesudah itu janganlah engkau mengerjakan shalat hingga matahari terbenam. Sesungguhnya matahari terbenam di antara dua tanduk syetan dan ketika itu orang-orang kafir bersujud kepadanya.” (HR. Muslim)

Hukum shalat di dalamnya
Pada waktu-waktu tersebut, apakah sama sekali tidak boleh mengerjakan shalat? Menurut Syaikh Abdurrahman al-Sahim dalam tulisan beliau, Al-Shalatu fi Auqat al-Nahyi, pada saat sesudah Shubuh dan sesudah 'Ashar dibolehkan shalat-shalat yang memiliki sebab. Sedangkan untuk shalat sunnah rawatib tidak dibolehkan kecuali untuk melaksanakan shalat sunnah Fajar.  

Sedangkan pada ketiga waktu –pada saat matahari terbit, tenggelam, dan di tengah-tengah- sama sekali tidak boleh kecuali shalat tengah hari pada hari Jum’at. Karena pada saat itu dianjurkan untuk mengerjakan shalat sunnah mutlak sebelum dilangsungkannya shalat Jum’at hingga imam keluar (untuk naik mimbar).

Larangan pada ketiga waktu tersebut lebih ketat karena waktu-waktu tersebut sangat sempit atau sebentar. Shalat di dalamnya menyerupai ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik yang menyembah matahari. Wallhu a’lam.

Oleh: Badrul Tamam

Di www.voa-islam.com 

Bolehkah Berwudhu di Kamar Mandi yang Ada WC-nya?


Pada dasarnya tidak ada larangan berwudhu di kamar mandi. Namun yang menjadi masalah adalah terkait dengan pembacaan basmalah sebelum berwudhu di dalam kamar mandi yang ada WC-nya. Karena membaca basmalah disyariatkan sebelum melakukan segala hal yang penting (baik).

Rasulullah saw bersabda, “Segala urusan penting yang tidak dimulai dengan basmalah, maka ia terputus.” (HR Abu Daud). 

Rasulullah saw. juga bersabda, “Tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah di dalamnya.” (HR Abu Daud). 

Dari kedua hadis ini sebagian ulama berpandangan bahwa membaca basmalah sebelum wudhu adalah wajib, sementara sebagian lagi berpandangan bahwa ia merupakan sunnah.

Sementara itu dalam hadits lain, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra. disebutkan bahwa Rasulullah saw. bila hendak masuk ke tempat buang air (khala’) melepas cincinnya. (HR. Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i dan Ibnu Majah). Rasulullah saw. melepas cincinnya karena padanya tertulis kalimat “Muhammadur Rasulullah”. Kalau lafadz Allah saja tidak boleh dibawa ke dalam toilet apalagi membacanya.

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka bagi yang menganggap bacaan basmalah sebagai sunnah, boleh tidak dibaca jika berwudhu di kamar kecil, terutama jika kamar kecilnya sangat kotor. Namun, bagi mereka yang menganggap membaca basmalah adalah wajib hukumnya, maka sebaiknya dibaca dengan sirr (di dalam hati), atau dibaca sebelum masuk kamar mandi, atau kalau kamar mandinya bersih boleh juga dibaca dengan suara jahr (terdengar).

Lantas bagaimana dengan doa sesudah wudhu? Sebaiknya dibaca di luar kamar mandi. Jadi kesimpulannya, boleh berwudhu di kamar mandi dengan ketentuan seperti di atas.

Sumber : Ustadz Subkialbughury di www.akhwatmuslimah.com

Tidak Ada Sholat Witir Dua Kali Dalam Satu Malam


Tidak ada sholat witir dua kali dalam satu malam dan sholat yang dilakukan setelah sholat witir tidak menjadi batal.

Hal ini didasarkan pada hadits Dari Thalq bin Ali, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘
لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ

tidak ada dua witir dalam semalam
( Hr. Ahmad: 15704, Abu Daud: 1227, Nasa’i: 1661, dan Tirmidzi: 432).

Nabi juga pernah mengerjakan sholat dua rakaat setelah mengerjakan sholat witir. Oleh karena itu jika seorang muslim hendak mengerjakan sholat witir sebelum tidur, dan ia kemudian dimudahkan Allah untuk bangun pada malamnya untuk mengerjakan sholat sunnah lainnya dua rakaat dua rakaat, dan ia tidak perlu untuk menutupnya dengan sholat witir. Cukuplah sholat witirnya hanya yang ia lakukan pada saat sebelum tidur. Dan sholat witirnya itu tetap sah sama seperti tidak batalnya sholat sunnah setelahnya.

Wallahua’lam



Manfaat Sholat Dhuha Secara Medis


Abu Dzar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Setiap tulang dan persendian badan dari kamu ada sedekahnya; setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap amar ma’ruf adalah sedekah, dan setiap nahi munkar adalah sedekah. Maka, yang dapat mencukupi hal itu hanyalah dua rakaat yang dilakukannya dari Shalat Dhuha.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud).

Abu Hurairah r.a. berkata, “Kekasihku, Muhammad Saw. Berwasiat kepadaku agar melakukan tiga hal: Berpuasa tiga hari pada setiap bulan(Hijriah, yaitu puasa putih atau Bidl, tanggal 13,14,15), dua rakaat shalat Dhuha, dan agar aku melakukan shalat Witir dulu sebelum tidur.” (HR Bukhari-Muslim).

Rasulullah Saw. bersabda: “Shalat Dhuha itu shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim)

Buraidah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Dalam tubuh manusia terdapat 360 persendian, dan ia wajib bersedekah untuk tiap persendiannya.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang sanggup, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ludah dalam masjid yang dipendamnya atau sesuatu yang disingkirkannya dari jalan. Jika ia tidak mampu,maka dua rakaat Dhuha sudah mencukupinya.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Peregangan sungguh mutlak diperlukan, untuk kesiapan kita menyongsong hari penuh tantangan. Dan, Rasulullah Saw. menyinggungnya dengan ungkapan santun: “hak dari setiap persendian.” Semuanya cukup dengan dua rakaat dhuha.

Shalat memang memiliki kombinasi unik dari tiap gerakannya bagi tubuh. Hanya saja untuk Dhuha, waktunyalah yang memang unik; waktu ketika tubuh memerlukan energy namun juga harus bersiap menghadang stress yang menerpa.

Dr. Ebrahim Kazim-seorang dokter, peneliti, serta direktur dari Trinidad Islamic Academy-menyatakan, “Repeated and regular movements of the body during prayers improve muscle tone and power, tendon strength, joint flexibility and the cardio-vascular reserve.” Gerakan teratur dari shalat menguatkan otot berserta tendonnya, sendi serta berefek luar biasa terhadap system kardiovaskular.

Itulah peregangan dan persiapan untuk menghadapi tantangan, tapi bedanya dengan olah raga biasa adalah: pahalanya luar biasa! Abu Darda r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Wahai anak Adam kerjakanlah shalat empat rakaat kepada-Ku pada permulaan siang niscaya Aku akan member kecukupan kepadamu sampai akhir siang.” (HR at-Tirmidzi).

Terlebih lagi shalat Dhuha tidak hanya berguna untuk mempersiapkan diri menghadapi hari dengan rangkaian gerakan teraturnya, tapi juga menangkal stress yang mungkin timbul dalam kegiatan sehari-hari, sesuai dengan keterangan dr. Ebrahim Kazim tentang shalat: “Simultaneously, tension is relieved in the mind due to the spiritual component, assisted by the secretion of enkephalins, endorphins, dynorphins, and others.”

Ada ketegangan yang lenyap karena tubuh secara fisiologis mengelurakan zat-zat seperti enkefalin dan endorphin. Zat ini sejenis morfin,termasuk opiate. Efek keduanya juga tidak berbeda dengan opiate lainnya. Bedanya, zat ini alami, diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga lebih bermanfaat dan terkontrol.

Jika barang-barang terlarang macam morfin bisa memberi rasa senang-namun kemudian mengakibatkan ketagihan disertai segala efek negatifnya- endorphin dan enkefalin tidak. Ia memberi rasa bahagia, lega, tenang, rileks, secara alami. Menjadikan seseorang tampak ebih optimis, hangat, menyenangkan, serta seolah menebarkan aura ini kepada lingkungan di sekelilingnya.

Subhanallah….Maka, shalat Dhuha-lah, peregangan sekaligus pereda stress. Inilah rehat yang tidak sekadar rehat. Daripada sekadar duduk-duduk mengobrol, ayo rehat dengan ber-Dhuha dan segera kembali beraktivitas setelahnya. Kemudian, rasakan bedanya!.

Semoga bermanfaat.


Sumber: http://www.sholat-dhuha.info

Empat Rakaat Sunnah Yang Bisa Membuka Pintu Langit


Ada banyak amalan-amalan sunnah dengan janji imbalan melimpah dari Allah Ta’ala. Sebelum diperintahkan untuk diteladani, amalan-amalan ini sudah lebih dahulu dilakukan oleh Rasulullah Saw. Karenanya, ketika amalan-amalan tersebut dikerjakan, ia sudah memenuhi kriteria untuk disebut sebagai amalan yang ikhlas sebab dikerjakan karena Allah Ta’ala dan mencontoh Rasulullah Saw.

Di antara banyak amalan sunnah itu, ada banyak amalan-amalan yang hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Saw. Bahkan, tatkala beliau terlewatkan melakukan amalan itu karena banyak sebab, Rasulullah Saw menggantinya dalam kesempatan yang lain.

‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq meriwayatkan, “Ketika Rasulullah Saw belum shalat empat raka’at sebelum Zhuhur,” lanjutnya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Baihaqi, “beliau melakukan setelahnya.”

Mengomentari hadits ini, Abu Isa at-Tirmidzi menerangkan, “Hadits tersebut menunjukkan perintah untuk menjaga amalan-amalan sunnah sebelum shalat wajib.”

Jika Nabi Saw amat menjaga sebuah amalan, maka di dalamnya terdapat rahasia yang amat besar. Lantas, ada rahasia dan keutamaan seagung apakah yang terkandung di dalam shalat sunnah empat raka’at sebelum Zhuhur ini sehingga Nabi Saw amat menjaganya?

Secara marfu’ mursalan, Abu Shalih sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah menyampaikan sabda Rasulullah Saw, “Empat raka’at sebelum Zhuhur setara dengan shalat menjelang Subuh.”

Sedangkan dari jalur lain dari Abu Ayyub al-Anshari, Imam Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan, “Empat rakaat sebelum Zhuhur dapat membuka pintu langit.”

Lantaran keutamaan shalat sunnah empat raka’at sebelum Zhuhur ini, Dr. Muhammad bin Ibrahim an-Nu’aim dalam bukunya “Mizan, Jurus Jitu Memperberat Timbangan Amal” memasukkan amalan ini ke dalam jajaran amal yang setara dengan shalat Sunnah Tahajjud (Qiyamullail) selain shalat Isya’ dan Subuh berjama’ah awal waktu di masjid, mendirikan shalat Tarawih sampai tuntas di belakang imam, membaca seratus ayat al-Qur’an di malam hari, membaca dua ayat terakhir surah al-Baqarah di malam hari, memiliki akhlak yang mulia, menyantuni janda dan orang miskin, menjaga sunnah di hari Jum’at, Ribath di jalan Allah Ta’ala, niat shalat malam sebelum tidur dan mengajari orang lain tentang amalan-amalan tersebut.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk melakukan amalan-amalan tersebut. Sebab melalui amalan sunnah ini, seorang hamba bisa semakin dicintai Allah Ta’ala. Aamiin.

Sumber
http: kisahikmah.com

Shalat Perspektif Syariah, Tarekat, dan Hakikat (3)

Para ahli hakikat dalam ilmu huruf memaknai kata shalawat tersusun dari seluruh hakikat pertalian berdasarkan dari pecahan katanya, yaitu, wushlah, shila, washlu, wishal, shaulah, dan shalaa.

Sifat-sifat tersebut merupakan subtansi atau hakikat pertalian, penggabungan, dan hubungan. Perkongsian makna yang menghimpun dalam susunan-susunan ini adalah penggabungan, pendekatan, pengikutan, dan penyatuan.

Makna wushlah adalah bersambungnya sesuatu yang bergabung dan bergabungnya sesuatu yang bersambung yang sebelumnya telah berpisah. Sedangkan, shilah ialah menyampaikan pemberian yang diingini dan diminta dari Sang Pemberi kepada yang diberi.

Kemudian, shaulah adalah terkoneksinya sambungan gerakan qahriyah dari Allah kepada hamba. Adapun salwu ialah mencondongkan punggung untuk khusyuk. Terakhir, du’au ialah permohonan untuk sampainya apa yang dimintanya dari tempat berdoa itu.

Adapun “shalawat” hamba kepada Allah adalah merupakan pengembalian kembali dirinya kepada hakikat ciptaannya sebagai al-insaniya al-kamaliyyah al-kulliyah al-ahadiyah al-jam’iyyah dan mengikatnya dengan kehadiran (khadhrah) yang dari sananya memikul bentuknya dan darinya pula berawal dan berkembang.

Sementara, lima kulliyah berdasarkan al-hadharaatul khamsah al-ilahiyah adalah pertama hakikatnya, yaitu al-‘ain al-tsabit yang bentuknya hanya dalam pengetahuan Allah sejak pertama pada zaman azali dan berakhirnya.

Kedua, Ruhnya. Hakikat nafas rahmani yang  terakses dari al-‘ain al-tsabit di atas. Ketiga, jasmaninya, yaitu bentuk dan posturnya secara fisik. Keempat, hakikat hati, ahadiyah jam’i rohaninya dan tabiatnya.

Terakhir akal, adalah kekuatan yang dengannya dapat mencermati berbagai hakikat dan merasionalkannya, mengetahui berbagai ilmu pengetahuan, baik secara global maupun detail.


Prof Dr Nasaruddin Umar
http://www.republika.co.id/