Hikmah Sholat

Buah dan hikmah sholat adalah dapat menghibur hati dan membuat wajah berseri-seri.

Berdoalah Kepada Allah

Allah memerintahkan kepada hambanya untuk mengembalikan segala keluh kesah kepadaNya meminta tolong dengan sholat, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Manfaat Sujud dalam Sholat

Memperkuat saraf mata, saraf hidung, saraf telinga, saraf leher, saraf otak atau kepala. Memperkuat lutut, Memperkuat saraf pada kaki dan memperkuat organ-organ dalam tubuh, jantung, hati, pancreas, dan sebagainya.

Ketika Kembali ke Rumah, Musafir Tidak Boleh Qashar Shalat

Apakah musafir masih boleh qashar shalat yaitu menjadikan shalat empat raka’at menjadi dua raka’at ketika ia sudah balik ke rumahnya atau ke kotanya?

Dijelaskan dalam Ensiklopedia Fikih:
Jika musafir masuk ke negerinya, maka hilanglah hukum safar dan statusnya menjadi seorang yang mukim, baik ia masuk ke dalam negerinya untuk berniat mukim atau untuk menunaikan hajat tertentu.

Alasannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar sebagai musafir dalam beberapa peperangan. Lalu beliau kembali ke Madinah tanpa memperbaharui niatnya untuk mukim. Karena jelas, Madinah adalah tempat beliau bermukim, sehingga tak perlu lagi menegaskan niat untuk mukim kala itu.

Selama belum masuk ke dalam negeri atau kotanya, selama itu musafir masih boleh mengqashar shalat.

Ada riwayat menyebutkan bahwa ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu ketika datang dari Bashroh menuju Kufah, beliau shalat layaknya musafir. Kala itu ia telah melihat dari jauh rumah-rumah yang ada di Kufah.

Begitu pula ada riwayat yang menyebutkan bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan pada musafir, “Shalatlah dua raka’at selama engkau belum memasuki rumahmu. Namun jika engkau telah memasuki negeri atau kotamu, wajib shalat sempurna (tidak diqashar).” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27: 287).
Hanya Allah yang memberi taufik.

Sumber http://rumaysho.com

Keajaiban Sholat Shubuh Sebagai Terapi Paru-paru


Seperti kita ketahui, waktu pelaksanaan shalat shubuh adalah sejak terbit fajar sampai hampir terbit matahari. Pada saat manusia beristirahat secara jasmaniah, semua aktivitas otot dan persendian tubuh mengalami masa pasif. Ini membantu otot-otot otonomik pada organ-organ viscera dan semua sistem saraf yang terus bekerja dapat beristirahat lebih maksimal. Begitu juga dengan otak, yang mengalami penerangan pikiran secara alamiah.

Setelah masa istirahat tersebut, ketika kita bangun pagi-pagi saat shubuh, mulai aktiflah semua otot penggerak pada tiap persendian tubuh, lebih banyak energi mengalir, dan juga terjadi peregangan pada tiap persendian terutama bagian pada sendi-sendi ruas tulang belakang. Di samping itu, ada beberapa bagian tubuh penting yang menjadi aktif pada saat kita melakukan ibadah shalat shubuh, seperti telah dijelaskan sebelumnya.

Shubuh merupakan waktu yang tepat untuk proses terapi sistem pernapasan dalam paru-paru. Ini sesuai dengan waktu pagi hari karena pada saat itu udara masih bersih. Dengan bangun pada waktu shubuh, dimulailah terapi untuk membersihkan paru-paru dari sisa-sisa oksigen yang kita hirup pada malam hari.

Penelitian mutakhir dalam ilmu medis barat juga mengungkapkan manfat kebiasaan bangun pada waktu shubuh. Ditemukan bahwa pada dini hari sekitar pukul 3.00 sampai 5.00 terjadi proses detoksin (pembuangan zat racun) di bagian paru-paru. Oleh karena itu, biasanya selama durasi waktu ini, penderita batuk akan mengalami batuk yang hebat. Ini karena proses pembersihan (detoksin) telah mencapai saluran pernapasan. Penelitian ini menegaskan bahwa penjagaan pola makan dan pengaturan aktivitas sesuai dengan waktu metabolisme tubuh sangat penting agar tubuh kita dapat melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan jadwalnya.

Paru-paru dan usus besar merupakan organ yang berpasangan. Usus besar merupakan pengatur panas dalam perut. Jantung termasuk organ yang memiliki sifat panas. Apabila jantung memiliki panas yang berlebihan, dengan pernapasan yang dilakukan pada saat udara benar-benar bersih, kita dapat mengarahkan panas jantung ke paru-paru dan dengan demikian mendinginkan panas di dalam perut.

Paru-paru merupakan organ pertama yang merasakan perubahan cuaca. Jika paru-paru tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan, akan timbul beberapa akibat, semisal masuk angin. Paru-paru memasukkan udara dari luar melalui hidung, yang bertugas mengambil oksigen. Di dalam oksigen terdapat ion-ion medan energi dari udara yang bertanggung jawab menjaga keadaan tubuh.

Di samping itu, ion-ion ini juga membangkitkan energi pelindung tubuh yang terus-menerus menjadi semacam perisai yang mengelilingi tubuh kita. Paru-paru juga mengendalikan metabolisme yang mendistribusikan cairan tubuh ke kulit. Paru-paru sangat peka terhadap perubahan-perubahan emosional, khususnya jika kita sedang bersedih atau marah, karena paru-paru merupakan bagian yang paling awal mendapat serangan penyakit di sekitarnya, maka ia disebut juga sebagai organ rawan.

Shubuh merupakan waktu yang tepat untuk proses terapi sistem pernapasan pada rongga dalam paru-paru. Ini sesuai dengan waktu pagi hari karena pada saat itu udara masih bersih.

Dalam ilmu kesehatan cina, terapi paru-paru yang paling adalah pada pukul 3.00 sampai dengan pukul 5.00. hal ini disebabkan adanya unsur yang saling bersinggungan antara chi atau energi manusia dan chi atau energi alam sekitarnya. Dalam masa penyeimbangan sirkulasi energi panas (tubuh manusia) dan energi dingin (alam sekitarnya), terjadilah proses saling mengisi.

Dari keterangan di atas, jelaslah manfaat yang kita peroleh dengan selalu melaksanakan shalat shubuh pada waktu pagi hari. Dengan menghirup udara yang masih murni, ditambah melakukan wudhu dan shalat dengan gerakan yang benar, kita telah melakukan beberapa terapi yang bermanfaat untuk kesehatan:

1. Untuk mengerjakan shalat, kita harus bersuci dulu, baik dengan mandi wajib (jika kita junub) maupun wudhu. Dengan demikian, kita melakukan langkah-langakah higienis yang membersihkan badan kita baik dari bekas-bekas jimak maupun ihtilam (mimpi basah), juga kotoran-kotoran yang sering dikeluarkan tubuh tanpa sadar saat tidur, seperti mazi, keringat, ingus, kotoran mata.

2. Dengan membasuh beberapa anggota tubuh dengan air, kita menstimulasi pori-pori sekaligus saraf-saraf yang pada saat kita tidur, relatif tak aktif. Ini menyebabkan tubuh menjadi segar, sepenuhnya sadar, dan siap braktifitas.

3. Dengan melaksanakan gerakan-gerakan shalat, sebenarnya kita melakukan peregangan ringan. Tubuh yang kaku, terutama persendian, setelah beberapa jam sedikit bergerak, akan kembali lentuk.

4. Gerakan-gerakan shalat akan menstimulasi organ-organ untuk bekerja. Pada waktu shubuh, organ yang paling mendapat manfaat adalah paru-paru. Ini terutama disebabkan oleh sistem sirkulasi chi dan udara yang masih bersih.


Bertaubat, Haruskah Menqadha' Shalat dan Puasa yang Pernah Ditinggalkan?

Pertanyaan yang sering muncul dalam diri orang yang bertaubat dari meninggalkan shalat dan shaum, apakah ia harus menqadha’ (mengulang) shalat dan puasanya yang telah ditinggalkannya dahulu. Terkadang kebimbangan ini dimanfaatkan syetan untuk melemahkan semangatnya dalam bertaubat. Sehingga ia merasa awang-awangen (sangat tidak mampu) dalam menempuh jalan taubat itu. Akibatnya, ia berputus asa dari rahmat Allah sehingga tetap dalam penderitaan jiwanya.

Syaikh bin Bazz pernah mendapatkan pertanyaan serupa, tentang orang yang tidak pernah shalat dan puasa. Ia melakukannya dengan sengaja. Setelah mendapat petunjuk, ia bertaubat kepada Allah, menyesali dan menangisi kelalaiannya tersebut. Sampai-sampai ia menjalankan qadha’ atas shalat-shalat, puasa, dan semua ibadah yang telah ditinggalkannya dahulu. Pertanyaannya, apakah orang tadi memang diperintahkan untuk menqadha’ shalat dan puasa, ataukah cukup ia taubat dan jalankan ibadahnya sekarang?
Beliau menjawab, “Siapa yang meninggalkan shalat dan puasa lalu bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha, ia tidak harus menqadha’ apa yang pernah ditinggalkan. Karena meninggalkan shalat adalah perbuatan besar yang mengeluarkan dari agama (Islam), walaupaun orang yang meninggalkannya tidak menentang kewajibannya menurut satu dari dua pendapat ulama yang lebih shahih. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

قُل لِلَّذِينَ كَفَرُواْ إِن يَنتَهُواْ يُغَفَرْ لَهُم مَّا قَدْ سَلَفَ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu. . . ” (QS. Al-Anfal: 38)

. . . Siapa yang meninggalkan shalat dan puasa lalu bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha, ia tidak harus menqadha’ apa yang pernah ditinggalkan . . . (Syaikh Ibnu Bazz)
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Islam menghancurkan apa yang sudah dikerjakan sebelumnya (dari kekufuran), dan taubat menutup perbuatan-perbuatan sebelumnya.”

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaahaa: 82)
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,. . . ” (QS. Al-Tahriim: 8)

Di antaranya sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
اَلتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ

"Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa." (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).

Bagi orang yang bertaubat disyariatkan memperbanyak amal-amal shalih setelah bertaubat. Juga sering memohon kepada Allah agar tsabat (keteguhan) di atas kebenaran dan husnul khatimah. Wallahu waliyyut taufiq.” (Selesai dari penuturan Syaikh Ibnu Bazz. Lihat: Fatawa Islamiyah yang dikumpulkan Muhammad Musnid: 4/165)

Bisa kita bayangkan, jika orang yang bertaubat dari meninggalkan shalat berbulan-bulan atau bertahun-tahun, lalu ia harus tetap menqadha’ (mengganti pelaksanaan) semua shalat dan puasa tersebut, tentunya ini akan meyersulitkannya. Ini bisa membuatnya awang-awangen (bahasa jawa,- merasa sangat berat) untuk bertaubat. Dikhawatirkan, ia berputus asa lalu nekat dengan maksiatnya. Walaupun diakui, di sana ada pendapar Jumbur ulama yang tetap mewajibkan orang yang bertaubat dari meninggalkan shalat agar menqadha’nya. Mereka berdalil dengan hadits-hadits qadha’ atas orang yang meningalkan shalat karena tertidur dan lupa. Wallahu Ta’ala A’lam.

Oleh: Badrul Tamam

www.voa-islam.com

Menguak Misteri dan Rahasia Adzan Shalat Subuh


Ada sebuah misteri dan rahasia adzan shalat subuh yang perlu para pecinta misteri ketahui. Misteri ini ada kaitannya dengan salah satu bait yang ada dari bunyi azdan subuh, yang artinya “Sholat lebih baik dari pada tidur”. Kalimat seperti ini hanya ada ketika adzan subuh dan tidak ada pada adzan yang lainnya. kalimat seperti itu tentu mengandung sebuah makna tersendiri.

Penjelasan Ilmiah tentang fungsi syaraf
Dalam sebuah studi kasus, didapat sebuah kesimpulan bahwa kebanyakan puncak terjadinya serangan jantung dimulai pada jam 6 pagi sampai dengan jam 12 siang. Itu terjadi karena telah terjadi ketegangan pada saraf simpatis dan menurunnya rasa tegang pada saraf parasimpatis. Istilah seperti itu digunakan oleh bangsa China dengan sebutan Yang dan Yin.

Syaraf simpatis yang tegang akan meningkat dan membuat tubuh kita merasa segar bahkan siap untuk beraktifitas, ketika tekanan darah meningkat maka denyut jantung menjadi lebih kuat dan organ tubuh lainnya juga mulai berfungsi.

Ketika saraf parasimpatis menjadi tegang dan terjadi peningkatan, maka tekanan darah akan turun, denyut jantung berkurang dan ritmenya mulai melambat. Akibatnya terjadi peningkatan aliran darah ke daerah perut, yang berfungsi untuk menggiling makanan dan aliran darah ke otak menjadi berkurang sehingga kita akan merasa mengantuk.

Penjelasan ilmian tentang darah
Pada saat pergantian waktu terutama menjelang dini hari hingga siang hari maka secara perlahan ada peningkatan adrenalin yang dapat mengakibatkan penyempitan pembuluh darah dan dapat meningkatkan agregrasi trombosit walaupun kita sedang tertidur. Agregrasi trombosit adalah saling menempelnya sel trambosit satu dengan yang lain agar darah menjadi beku. Kondisi tersebut dapat terjadi pada siapa saja, baik orang dewasa maupun pada bayi. Maka dari itu kebanyakan bayi akan bangun pada saat menjelang subuh, karena pola tubuh bayi masih sangat baik dan dapat membaca pergerakan alam dengan baik. Ritme seperti ini disebut dengna ritme Circadian atau sama dengan ritme sehari-hari.

Pada tahun 1980 Furchgott dan Zawadsky meneliti tentang sel dinding arteri yang ada dalam pembuluh darah. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa pembuluh darah yang masih normal atau tidak hilang akan segera melapisi dinding sel bagian dalam dan akan melebar jika ditetesi sebuah zat kimia yang disebut dengan Asetikolin. Sedangkan jika sel-sel pembuluh darah yang berada di luar tubuh dan kemudian ditetesi Asetikolin tidak melebar, itu adalah sebuah penemuan besar, yang belum pernah ada. Dengan adanya penelitian tersebut maka seluruh dunia mulai meneliti mengapa sel yang berada di dalam tubuh bereaksi terhadap zat sedangkan yang di luar tubuh tidak memberikan reaksi. Salah satu dari hasil penelitian tersebut menyebutkan adanya kandungan NO atau disebut dengan Nitrit Oksida. Hasil penelitian tersebut berhasil ditemukan oleh Ignarro dengan Murad. Dengan demikian maka Furchgott, Ignarro, dan Murad berhasil mendapat NOBEL pada tahun 1998.

Pada kenyataanya zat NO tersebut selalu diproduksi, baik dalam keadaan istirahat tidur atau pada saat sedang beraktifitas. Produksi zat tersebut dapat meningkat karena obat Nifedipin, nitrat dll, akan tetapi produksi zat tersebut juga dapat meningkat dengan cara bergerak atau berolahraga. Efek lain yang diberikan Nitrik oksida adalah dapat mencegah pembekuan darah, atau dapat mengurangi agregrasi dalam sel trombosit. Maka dari itu ketika kita bangun pada saat subuh dan melakukan beberapa aktifitas ringan seperti jalan ke mesjid dan melakukan sholat subuh maka itu akan memberikan pengaruh yang sangat baik untuk tubuh, terutama pada jantung. Ketika kadar NO yang ada dalam darah naik karena aktifitas yang kita lakukan, seperti wudhu, shalat bahkan disertai dengan jalan kaki ke masjid ,maka secara tidak langsung itu akan mencegah terjadinya penyakit jantung.

Posisi Ruku
Misteri dan rahasia adzan shalat subuh berikutnya adalah tentang berbagai macam posisi ketika kita melakukan sholat dan salah satunya adalah ruku dan juga sujud. Apakah kita tahu, bahwa ketika kita mengerjakan posisi ini maka dapat meningkatkan tonus parasimpatis.

Ketika kita berolahraga maka tubuh akan membuat NO yang berfungsi untuk melawan zat adrenalin yang meningkat, dan itu akan berakibat pada menyempitkan pembuluh darah dan akan membuat sel trombosit darah menjadi kacau bahkan saling menempel.

Petunjuk Shalat subuh
Shalat subuh sudah diperkenalkan sejak lama, terutama pada zaman nabi. Hanya saja masih banyak yang belum mengerti manfaat ketika kita menjalankan shalat Subuh seperti ini. Memang belum banyak yang meneliti secara dalam manfaat ketika kita shalat subuh dan manfaat kenapa kita harus bangun pagi. Dengan adanya hasil penelitian ini maka diharapkan bahwa mulai saat ini, ketika waktu Subuh tiba, maka kita akan bangun dan melakukan ibadah sholat. Setelah itu melakukan beberapa aktifitas yang lain. Namun jika kita merasa malas maka tubuh tidak akan mendapatkan manfaat yang lebih. Itulah sedikit penjelasan tentang misteri dan rahasia adzan shalat subuh, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Penulis: ARIS FOURTOFOUR
Sumber: http://m.log.viva.co.id


Bolehkan Melafalkan Niat Ketika Sholat?

Melafalkan niat dalam ibadah termasuk masalah furu’iyah, yang diperselisihkan di kalangan ulama fuqaha, antara yang mengatakan sunnah dan tidak sunnah. Akan tetapi dari segi dalil, para ulama fuqaha yang mengatakan sunnah, memiliki dalil yang sangat kuat dan otoritatif. Sebelum menjelaskan dalil kesunnahan melafalkan niat dalam ibadah, ada baiknya kami paparkan terlebih dahulu, tentang pendapat para ulama fuqaha madzhab yang empat seputar melafalkan niat.

Ada tiga pendapat mengenai hukum melafalkan niat dalam ibadah.

Pertama, pendapat yang mengatakan sunnah, agar ucapan lidah dapat membantu memantapkan hati dalam niat ibadah. Pendapat ini diikuti oleh madzhab Hanafi dalam pendapat yang mukhtar, madzhab Syafi’i, dan madzhab Hanbali sesuai dengan kaedah madzhab. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Nujaim dalam al-Asybah wa al-Nazhair hal. 48, al-Imam al-Khathib al-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj juz 1 hal. 57, dan al-Imam al-Buhuti al-Hanbali dalam Kasysyaf al-Qina’ juz 1 hal. 87.

Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa melafalkan niat dalam ibadah adalah makruh. Pendapat ini diikuti oleh sebagian ulama madzhab Hanafi dan sebagian ulama madzhab Hanbali. Hal ini juga diceritakan oleh Ibnu Nujaim dalam al-Asybah wa al-Nazhair hal. 48 dan al-Buhuti dalam Kasysyaf al-Qina’ juz 1 hal. 87.

Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa melafalkan niat dalam ibadah adalah boleh (mubah), akan tetapi sebaiknya ditinggalkan. Kecuali bagi orang yang waswas, maka melafalkan niat disunnahkan baginya, untuk menghilangkan keraguannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Arafah dalam Hasyiyah al-Dusuqi ‘ala al-Syarh al-Kabir juz 1 hal. 233-234 dan al-Shawi dalam al-Syarh al-Shaghir juz 1 hal. 304.

Demikian pendapat para ulama fuqaha madzhab empat tentang hukum melafalkan niat dalam ibadah.

Sedangkan dalil yang dijadikan dasar para ulama yang menganjurkan melafalkan niat dalam ibadah adalah hadits sebagai berikut ini:
عن أَنَسٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ وَحَجٍ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata (ketika akan menunaikan ibadah haji dan umrah): “Aku penuhi panggilan-Mu, untuk menunaikan ibadah umrah dan haji.” HR Muslim.

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalmam melafalkan niat dalam ibadah haji dan umrah. Apabila dalam satu ibadah, melafalkan niat itu dianjurkan, maka dalam ibadah lainnya juga dianjurkan, karena sama-sama ibadah. Dalam hadits lain juga diriwayatkan:
عَنْ عَائِشَة َأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمًا : هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ غَدَاءٍ ؟ قَالَتْ لَا ، قَالَ : فَإِنِّي إذَنْ أَصُومُ ، قَالَتْ : وَقَالَ لِي يَوْمًا آخَرَ أَعِنْدَكُمْ شَيْءٌ ؟ قُلْتُ نَعَمْ ، قَالَ : إذَنْ أُفْطِرُ وَإِنْ كُنْتُ فَرَضْتُ الصَّوْمَ ” رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيّ وَصَحَّحَ إسْنَادَهُ

“Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya: “Apakah kalian mempunya makanan untuk sarapan?” Ia menjawab: “Tidak ada.” Lalu beliau bersabda: “Kalau begitu, aku berniat puasa.” Aisyah berkata: “Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Apakah kalian mempuanyai sesuatu (makanan)?” Aku menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, aku niat berbuka, meskipun tadi aku bermaksud puasa.” HR. al-Daraquthni dan ia menshahihkan sanadnya.”
Dalam hadits di atas, jelas sekali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melafalkan niatnya untuk menunaikan ibadah puasa. Dalam ibadah puasa, melafalkan niat disunnahkan, berarti dalam ibadah yang lain juga dianjurkan karena sama-sama ibadah.

Perlu diketahui, bahwa dalam niat puasa, tidak harus menggunakan redaksi nawaitu shauma ghadin (saya niat puasa besok), bahkan boleh juga dengan redaksi ashumu ghadan (aku niat puasa besok) atau inni sha’imun ghadan (sungguh aku puasa besok). Demikian pula, dalam niat shalat, tidak harus dengan redaksi ushalli (saya niat shalat), akan tetapi boleh dengan redaksi nawaitu shalatal ‘ashri (saya niat shalat ashar) dan lain sebagainya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kitab-kitab fiqih Syafi’iyah.

Sekarang, apabila melafalkan niat dalam ibadah shalat dan wudhu’, disunnahkan karena diqiyaskan dengan ibadah haji dan puasa, lalu bagaimana dengan pernyataan sebagian kalangan Wahabi yang mengharamkan dan membid’ahkan melafalkan niat dengan alasan kaedah la qiyasa fil ‘ibadat (tidak boleh menggunakan qiyas dalam hal ibadah)? Tentu saja kaedah la qiyasa fil ‘ibadat tersebut tidak benar dan bertentangan dengan penerapan para ulama salaf terhadap dalil qiyas.

Ketika qiyas itu diakui sebagai salah satu dalil dalam pengambilan hukum Islam, maka penerapannya bersifat umum, termasuk dalam bab ibadah. Oleh karena itu, kita dapati para ulama salaf sejak generasi sahabat melakukan qiyas dalam hal ibadah. Misalnya, al-Imam al-Hafizh Nuruddin al-Haitsami meriwayatkan dalam kitabnya Majma’ al-Zawaid, bahwa sebagian sahabat seperti Anas bin Malik menunaikan shalat sunnah 4 raka’at sebelum shalat ‘id. Sementara sahabat Ibnu Mas’ud menunaikan shalat sunnah sesudah shalat ‘id empat raka’at. Padahal dalam kitab tersebut juga diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukan dan tidak menganjurkannya. Hal ini mereka lakukan karena diqiyaskan dengan shalat maktubah, yang memiliki shalat sunnah rawatib, sebelum dan sesudahnya.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali, madzhab resmi Wahabi Saudi Arabia, juga melakukan qiyas dalam hal ibadah. Al-Imam Ibnu Nashr al-Marwazi meriwayatkan:

“Al-Imam Ahmad ditanya tentang qunut dalam shalat witir, sebelum ruku’ atau sesudahnya, dan apakah dengan mengangkat tangan dalam doa ketika shalat witir?” Beliau menjawab: “Qunut dilakukan setelah ruku’, dan mengangkat kedua tangannya ketika berdoa. Demikian ini diqiyaskan pada perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam qunut shalat shubuh.” HR. Ibnu Nashr al-Marwazi dalam Qiyam al-Lail, hal. 318.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz, mufti Wahabi Saudi Arabia, yang wafat beberapa waktu yang lalu, juga melakukan qiyas dalam bab ibadah. Dalam hal ini, beliau berfatwa:

“Hukum mengangkat kedua tangan dalam doa witir. Soal: Bagaimana hukum mengangkat kedua tangan dalam shalat witir? Jawab: Disyariatkan (dianjurkan) mengangkat kedua tangan dalam qunut shalat witir, karena termasuk jenis qunut nazilah (yang dilakukan karena ada bencana). Dan telah sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau mengangkat kedua tangannya dalam doa qunut nazilah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Baihaqi rahimahullah dengan sanad yang shahih.” Fatawa Islamiyyah, juz 1 hal. 349, dan Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 30 hal. 51.

Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa anjuran melafalkan niat dalam ibadah adalah pendapat mayoritas ulama madzhab yang empat (madzahib al-arba’ah). pendapat tersebut memiliki dalil yang kuat dan otoritatif (mu’tabar), yaitu diqiyaskan kepada ibadah haji dan puasa, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, melafalkan niat dalam keduanya. Pendapat tersebut tidak dapat ditolak dengan alasan kaedah, la qiyasa fil ‘ibadat (tidak boleh melakukan qiyas dalam bab ibadah). Karena qiyas termasuk dalil pengambilan hukum dalam Islam, yang berlaku dalam semua bab. Oleh karena itu, qiyas dalam bab ibadah telah diterapkan oleh para sahabat, al-Imam Ahmad bin Hanbal dan bahkan oleh sebagian ulama terkemuka kaum Wahabi kontemporer  seperti Syaikh Ibnu Baz.
Wallahu a’lam.


Muhammad Idrus Ramli di www.idrusramli.com

Sholat Dhuha Setiap Pagi: Kunci Meraih Rizki Sepanjang Hari

Dalam doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT, kita selalu menyelipkan permohonan doa agar di mudahkan meraih rezeki-Nya dari arah yang tak terduga...min haitsu laa yahtasib. Pertanyaannya, bagaimana agar rezeki kita dimudahkan? Adakah ibadah membantu kita untuk memperlancar datangnya rezeki?

Ternyata Rasulullah telah mencontohkannya untuk kita teladani, yaitu dengan shalat dhuha. Shalat dhuha adalah ibadah shalat yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Shalat sunnat ini yang dilakukan seorang muslim saat waktu dhuha.Waktu dhuha tiba saat matahari mulai naik, kira-kira tujuh hasta sejak terbitnya. Jumlah rakaat shalat dhuha, dari dua hingga duabelas rakaat.Meskipun bernilai sunnah, shalat ini mengandung manfaat yang sangat besar bagi umat Islam. Salah satunya adalah membuka pintu-pintu rezeki dan keberkahannya.

Rasulullah bersabda di dalam Hadists Qudsi,“Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat shalat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR Hakim dan Thabrani). Dalam hadist yang lain dikatakan,“Barangsiapa yang masih berdiam diri di mesjid atau tempat shalatny setelah shubuh karena melakukan I’tikaf, berzikir, dan melakukan dua rakaat shalat dhuha disertai tidak berkata sesuatu kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan diampuni meskipun bnyaknya melebihi buih di lautan.” (HR. Abu Daud)

"Dalam tubuh manusia itu ada 360 ruas tulang. Ia harus disedekahkan untuk setiap ruas itu." Para shahabat bertanya, "Siapa yang kuat melaksanakan itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, "Dahak yang di masjid itu lalu ditutupinya dengan tanah, atau menyingkirkan sesuatu gangguan dari tengah jalan itu berarti sedekah. Atau, sekiranya tidak dapat melakukan itu, cukuplah diganti dengan mengerjakan dua rakaat shalat dhuha." (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Shalat-shalat sunah sangat dianjurkan. Karena ada faedah yang terkandung di dalamnya. Salah satunya untuk membuka pintu-pintu rezeki dan keberkahannya. Di antara shalat sunah tersebut adalah shalat dhuha.Hadits Rasulullah SAW terkait shalat dhuha antara lain: "Siapapun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa lautan." (H.R Turmudzi).

Rezeki adalah hak semua orang dan kemiskinan mendekati kekufuran, maka ibadah dan usaha adalah jawabannya.Dengan mengenal keutamaan dan keajaiban shalat dhuha, semoga kita akan lebih tergerak untuk merawat shalat sunah ini.


Sumber: www.sholat-dhuha.info

Mengapa Para Ulama Tak Mau Shalat Malamnya Diketahui Orang Lain?

Malam itu, muktamar baru saja usai. Lelah menghampiri setelah pikiran dan fisik terkuras. Tak terkecuali Imam Hasan Al Banna dan Umar Tilmisani. Keduanya pun beristirahat di ruangan yang sama.
“Wahai Umar apakah kamu sudah tidur?” tanya Hasan Al Banna kepada Umar Tilmisani yang berbaring tak jauh darinya.
“Belum”

Beberapa saat kemudian Hasan Al Banna kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama dan dijawab oleh Umar dengan jawaban yang sama. “Nanti kalau beliau bertanya lagi, saya tidak akan menjawabnya,” kata Umar dalam hati.

Ketika Hasan Al Banna kembali mengulangi perkataannya, Umar pun diam. Mengira Umar sudah tidur, Hasan Al Banna keluar pelan-pelan, mengendap-endap. Beliau meninggalkan kamar menuju tempat wudhu. Selesai berwudhu, Hasan Al Banna pergi ke salah satu ruangan paling ujung. Menggelar sajadah, bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla.

Bukan hanya Hasan Al Banna yang melakukan hal demikian. Banyak ulama yang merahasiakan shalat malamnya. Hingga, hanya istrinya yang tahu. Bahkan, ada pula yang sampai istrinya tidak tahu.

Ayyub As Sakhtiani, salah seorang ulama tabiu’t tabi’in, memiliki cara tersendiri untuk merahasiakan shalat malamnya. “Ayyub As Sakhtiani selalu melakukan shalat malam,” kata Salam yang mengetahui rahasianya, “tetapi hal itu dirahasiakannya. Jika Subuh menjelang, ia mengeraskan suaranya seolah-olah baru bangun dari tidurnya.”

Mirip kisah Hasan Al Banna, Abdullah bin Mubarak juga pernah ketahuan secara diam-diam shalat malam dalam waktu yang sangat lama. Saat itu Muhammad bin Al Wazir menemaninya dalam sebuah safar. Muhammad bin Al Wazir yang berbaring istirahat, mungkin dikira telah tidur. Abdullah bin Mubarak pun kemudian mengambil wudhu dan melakukan shalat malam hingga fajar tiba.

Mengapa para ulama merahasiakan shalat malamnya, hingga seakan-akan mereka tak mau orang lain mengetahuinya? Jika kita melihat ayat-ayat Al Qur’an dan hadits, tahulah kita bahwa setidaknya mereka memiliki tiga alasan:

Pertama, menjaga keikhlasan. Meskipun tingkatan mereka adalah ulama, mereka menyadari bahwa ketika orang lain melihat ibadah mereka, hal itu bisa menjadi buah bibir yang kadang menjadi godaan untuk tercampuri ujub, riya’ dan sum’ah.

Kedua, dengan merahasiakan shalat malamnya, para ulama dapat berdzikir dan bermunajat kepada Allah lalu berlinanglah air matanya. Kebiasaan ini akan menempatkan mereka pada golongan orang yang mendapat naungan Allah.
 “Dan (orang ketujuh yang mendapat naungan Allah ialah) orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, keutamaan shalat sunnah yang dirahasiakan, setara dengan 25 shalat sunnah yang dilihat orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 “Shalat sunnah seseorang yang tidak dilihat orang lain, setara dengan 25 ganjaran (shalat sunnah) yang dilihat orang lain.” (HR. Abu Ya’la, shahih menurut Al Albani)

Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

Sumber : sedekahdoa.wordpress.com

Haram Melintas Di Depan Orang Yang Sedang Shalat

Imam atau orang yang ingin menunaikan shalat sendiri (munfarid), disunnahkan untuk meletakkan sutrah (pembatas) dihadapannya. Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda :

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُم فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئاً، فإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَنْصُبْ عَصاً، فإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ عَصاً فَلْيَخْطُطْ خَطَّاً ثُمَّ لاَ يَضُرُّهُ مَا مَرَّ أَمَامَهُ
"Jika salah seorang dari kalian shalat maka hendaknya dia meletakkan sesuatu di hadapannya, jika ia tidak mendapatkannya, maka hendaknya dia menancapkan tongkat, jika dia tidak mempunyai tongkat maka hendaknya dia membuat garis, maka apa yang lewat di depannya (di luar garis) tidak akan merugikannya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad).
لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلَى سُتْرَةٍ، وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ، فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِيْنَ

"Janganlah engkau shalat melainkan ke arah sutrah (di hadapanmu ada sutrah) dan jangan engkau biarkan seseorangpun lewat di depanmu. Bila orang itu menolak (tetap bersikeras ingin lewat), maka perangilah dia, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan).” (HR Ibnu Khuzaimah)

Sutrah dapat berupa kursi, tongkat, tembok, tempat tidur atau segala sesuatu lainnya yang dapat mencegah seseorang melintas di hadapannya, ketika ia sedang shalat. Menurut pendapat terkuat, sebagaimana dikemukakan oleh Habib ‘Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur, melintas diantara orang yang shalat dan sutrah-nya adalah haram. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda :

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ
"Seandainya seseorang yang lewat di hadapan orang yang shalat itu tahu sebesar apakah dosanya, maka berhenti menunggu selama 40 adalah lebih baik baginya daripada ia melintas di hadapan orang yang shalat itu. (HR Bukhari)

Perawi hadits ini tidak mengetahui dengan pasti apakah Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam menyebut 40 hari, bulan ataukah tahun.

Dan sebagian ulama fiqih mengecualikan jika shalatnya dilakukan di Masjidil Haram, maka ada keringanan untuk lewat di depan orang yang shalat, sebagaimana diriwayatkan Katsir bin Katsir bin al-Muthalib dari bapaknya dari kakeknya, berkata: “Aku melihat Rasulullah shalat menghadap hajar aswad sedangkan manusia berlalu lalang diantara keduanya.” Dan pada riwayat Muthalib bahwasanya ia berkata: “Aku melihat Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah selesai melakukan thawaf 7 kali, kemudian mendekat ke sudut antara dirinya dan saqifah, kemudian shalat dua rakaat di pinggir tempat thawaf tersebut, sedangkan antara beliau dan tempat tersebut tidak terdapat sutrah”. Dan hadits ini seandainya sanadnya dhoif maka masih terdapat atsar-atsar yang bisa menguatkan hal ini, dan diperkuat dengan keumuman dalil raf’ul kharaj (mengangkat kesulitan), karena larangan lewat di depan orang yang shalat di Masjidil Haram adalah perkara yang berat dan sulit.
Wallahu a’lam

Sumber: kyaijawab.com, fatawaulamaislam.wordpress.com


Telah Kufur Orang Yang Meninggalkan Sholat

Meninggalkan shalat wajib adalah kufur. Oleh karena itu, barang siapa meninggalkan shalat dengan mengingkari hukum wajibnya, menurut kesepakatan ijma’ para ulama, dia telah masuk dalam kategori kufur besar, meski terkadang dia juga mengerjakannya . (Abdullah bin Baaz , kitab Tuffatu al ikhwaan bi ajwibatin Muhimmatin Tata’allaqu bi arkaani al Islam)

Adapun orang yang meninggalkan shalat secara total, sedang dia meyakini hukum wajibnya dan tidak mengingkarinya, dia juga kufur. Yang benar dari pendapat para ulama adalah bahwa kufurnya itu adalah kufur besar yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Hal itu didasarkan pada dalil yang cukup banyak, diantaranya :

 “Pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera (QS al Qalam 42- 43)

Hal itu menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu masuk dalam golongan orang orang kafir dan orang orang munafik yang punggung mereka tetap tegak ketika kaum muslimin bersujud. Seandainya mereka termasuk golongan kaum muslimin, niscaya mereka akan diperkenankan untuk bersujud sebagaimana yang diperkenankan kepada kaum muslimin.

“Tiap tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada dalam surge, mereka saling bertanya, tentang keadaan orang orang yang berdosa. “apakah yang memasukkan kamu ke dalam Neraka Saqar? Mereka menjawab,” Kami dahulu tidak termasuk orang orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak pula memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan. (QS Al Muddatsir 38-46)

Dengan demikian, orang yang meninggalkan shalat termasuk orang orang yang berbuat dosa dan akan masuk ke dalam Neraka saqar.

“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka mereka itu adalah saudara saudara seagama, dan Kami menjelaskan ayat ayat itu bagi kaum yang mengetahui (QS At Taubah 11).

صحيح مسلم ١١٦: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ كِلَاهُمَا عَنْ جَرِيرٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرًا يَقُولُا
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

Dari Jabir RA, dia bercerita,”Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,” Pemisah antara seseorang dengan syirik dan kekufuran adalah perbuatan meninggalkan shalat.” (HR Muslim)

Imam Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu dinilai telah kafir besar, Ibnu Qayyim menyebutkan lebih dari 22 dalil yang mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat dengan kufur besar.

Sumber : Shalaatul Mu’min Ensiklopedia via eramuslim.com


Waktu-waktu yang Dilarang Mengerjakan Shalat

Ada beberapa waktu yang dilarang shalat di dalamnya, baik larangan tersebut terhitung sebagai haram atau makruh. Karenanya setiap muslim wajib mengetahui waktu-waktu tersebut sehingga dia tidak shalat pada waktu-waktu yang dilarang.

Secara ringkas, waktu-waktu yang dilarang shalat di dalamnya ada tiga. Yaitu:
  • Setelah shalat shubuh sehingga matahari naik setinggi tombak.
  • Setelah shalat Ashar sehingga matahari terbenam.
  • Ketika matahari di tengah-tengah sehingga tergelincir ke barat.

Dan kalau dirinci dan diperluas maka ada lima. Yaitu:
  • Setelah shubuh sampai terbitnya matahari.
  • Setelah ‘Ashar sampai matahari menguning (hamper tenggelam).
  • Ketika matahari di tengah-tengah sampai bertegelincir (± 10 menit sebelum adzan)
  • Sejak terbitnya matahari sampai naik setinggi tombak (± 12 menit sebelum adzan)
  • Sejak menguningnya matahari sehingga benar-benar tenggelam.


Waktu-waktu terlarang di atas didasarkan kepada beberapa dalil berikut ini:

-  Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu 'anhuma, ia berkata, “Beberapa orang yang aku percaya dan dipercaya oleh Umar bersaksi bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam melarang shalat setelah Shubuh sehingga matahari terbit dan sesudah ‘Ashar sehingga matahari tenggelam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

-  Hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallaahu 'anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada shalat sesudah Shubuh hingga matahari meninggi dan tidak ada shalat sesudah ‘Ashar hingga matahari tenggelam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

-   Hadits Ibnu Umar radhiyallaahu 'anhuma, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Apabila terbit matahari, maka akhirkan shalat sehingga matahari meninggi. Dan apabila matahari mulai tenggelam sehingga benar-benar menghilang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

-  Hadits ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: “Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam melarang kami mengerjakan shalat atau menguburkan mayat kami pada tiga waktu: Ketika matahari terbit hingga naik, saat tengah hari sehingga matahari tergelincir, dan ketika matahari akan tenggelam sehingga tenggelam.” (HR. Muslim)
Alasan dari larangan

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menjelaskan alasan dilarangnya shalat pada waktu-waktu tersebut berdasarkan sabdanya kepada Amr bin ‘Abasah al-Sulami:

Kerjakan shalat Shubuh, kemudian jangan  kerjakan shalat hingga matahari terbit dan meninggi. Karena (saat itu) matahari terbit di antara dua tanduk syetan dan saat itu pula orang-orang kafir bersujud kepadanya. Setelah itu silahkan mengerjakan shalat (sunnah) karena shalat itu disaksikan dan dihadiri (oleh Malaikat) sehingga bayangan tegak lurus (tengah hari). (Saat itu) jangan kerjakan shalat, karena neraka sedang dinyalakan. Jika bayangan telah condong, silahkan kerjakan shalat karena shalat disaksikan dan dihadiri (oleh Malaikat) sehingga engkau mengerjakan shalat ‘Ashar. Sesudah itu janganlah engkau mengerjakan shalat hingga matahari terbenam. Sesungguhnya matahari terbenam di antara dua tanduk syetan dan ketika itu orang-orang kafir bersujud kepadanya.” (HR. Muslim)

Hukum shalat di dalamnya
Pada waktu-waktu tersebut, apakah sama sekali tidak boleh mengerjakan shalat? Menurut Syaikh Abdurrahman al-Sahim dalam tulisan beliau, Al-Shalatu fi Auqat al-Nahyi, pada saat sesudah Shubuh dan sesudah 'Ashar dibolehkan shalat-shalat yang memiliki sebab. Sedangkan untuk shalat sunnah rawatib tidak dibolehkan kecuali untuk melaksanakan shalat sunnah Fajar.  

Sedangkan pada ketiga waktu –pada saat matahari terbit, tenggelam, dan di tengah-tengah- sama sekali tidak boleh kecuali shalat tengah hari pada hari Jum’at. Karena pada saat itu dianjurkan untuk mengerjakan shalat sunnah mutlak sebelum dilangsungkannya shalat Jum’at hingga imam keluar (untuk naik mimbar).

Larangan pada ketiga waktu tersebut lebih ketat karena waktu-waktu tersebut sangat sempit atau sebentar. Shalat di dalamnya menyerupai ibadah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik yang menyembah matahari. Wallhu a’lam.

Oleh: Badrul Tamam

Di www.voa-islam.com 

Bolehkah Berwudhu di Kamar Mandi yang Ada WC-nya?


Pada dasarnya tidak ada larangan berwudhu di kamar mandi. Namun yang menjadi masalah adalah terkait dengan pembacaan basmalah sebelum berwudhu di dalam kamar mandi yang ada WC-nya. Karena membaca basmalah disyariatkan sebelum melakukan segala hal yang penting (baik).

Rasulullah saw bersabda, “Segala urusan penting yang tidak dimulai dengan basmalah, maka ia terputus.” (HR Abu Daud). 

Rasulullah saw. juga bersabda, “Tidak ada wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah di dalamnya.” (HR Abu Daud). 

Dari kedua hadis ini sebagian ulama berpandangan bahwa membaca basmalah sebelum wudhu adalah wajib, sementara sebagian lagi berpandangan bahwa ia merupakan sunnah.

Sementara itu dalam hadits lain, yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra. disebutkan bahwa Rasulullah saw. bila hendak masuk ke tempat buang air (khala’) melepas cincinnya. (HR. Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i dan Ibnu Majah). Rasulullah saw. melepas cincinnya karena padanya tertulis kalimat “Muhammadur Rasulullah”. Kalau lafadz Allah saja tidak boleh dibawa ke dalam toilet apalagi membacanya.

Berdasarkan dalil-dalil di atas, maka bagi yang menganggap bacaan basmalah sebagai sunnah, boleh tidak dibaca jika berwudhu di kamar kecil, terutama jika kamar kecilnya sangat kotor. Namun, bagi mereka yang menganggap membaca basmalah adalah wajib hukumnya, maka sebaiknya dibaca dengan sirr (di dalam hati), atau dibaca sebelum masuk kamar mandi, atau kalau kamar mandinya bersih boleh juga dibaca dengan suara jahr (terdengar).

Lantas bagaimana dengan doa sesudah wudhu? Sebaiknya dibaca di luar kamar mandi. Jadi kesimpulannya, boleh berwudhu di kamar mandi dengan ketentuan seperti di atas.

Sumber : Ustadz Subkialbughury di www.akhwatmuslimah.com

Tidak Ada Sholat Witir Dua Kali Dalam Satu Malam


Tidak ada sholat witir dua kali dalam satu malam dan sholat yang dilakukan setelah sholat witir tidak menjadi batal.

Hal ini didasarkan pada hadits Dari Thalq bin Ali, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘
لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ

tidak ada dua witir dalam semalam
( Hr. Ahmad: 15704, Abu Daud: 1227, Nasa’i: 1661, dan Tirmidzi: 432).

Nabi juga pernah mengerjakan sholat dua rakaat setelah mengerjakan sholat witir. Oleh karena itu jika seorang muslim hendak mengerjakan sholat witir sebelum tidur, dan ia kemudian dimudahkan Allah untuk bangun pada malamnya untuk mengerjakan sholat sunnah lainnya dua rakaat dua rakaat, dan ia tidak perlu untuk menutupnya dengan sholat witir. Cukuplah sholat witirnya hanya yang ia lakukan pada saat sebelum tidur. Dan sholat witirnya itu tetap sah sama seperti tidak batalnya sholat sunnah setelahnya.

Wallahua’lam