Hikmah Sholat

Buah dan hikmah sholat adalah dapat menghibur hati dan membuat wajah berseri-seri.

Berdoalah Kepada Allah

Allah memerintahkan kepada hambanya untuk mengembalikan segala keluh kesah kepadaNya meminta tolong dengan sholat, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Manfaat Sujud dalam Sholat

Memperkuat saraf mata, saraf hidung, saraf telinga, saraf leher, saraf otak atau kepala. Memperkuat lutut, Memperkuat saraf pada kaki dan memperkuat organ-organ dalam tubuh, jantung, hati, pancreas, dan sebagainya.

Doa Setelah Wudhu


ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLOOHU WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAHU WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHUUWA ROSUULUHUU, ALLOOHUMMAJ'ALNII MINAT TAWWAABIINA WAJ'ALNII MINAL MUTATHOHHIRIINA

Artinya :

"Aku mengaku bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku mengaku bahwa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan Utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang bersuci"


Bacaan Niat Sebelum Wudhu

Bacaan  niat sebelum wudhu adalah sebagai berikut:


Nawaitul Wudhu a lirof’il hadatsil ishghori fardhan lillaahi ta’aala

artinya
Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil karena Alla

Namun jika tidak dengan niat di atas, sebelum wudhu bisa juga dengan hanya mengucapkan bismillahirrahmaanirrahiim.


Wallahu A'lam.. 

Doa Setelah Azan




ALLOOHUMMA ROBBA HAADZIHID DA'WATIT TAAMMATI WASHSHOLAATIL QOO-IMATI AATI MUHAMMADANIL WASHIILATA WAL FADHIILATA WASY SYAROFA WAD DARAJATAL 'AALIYATAR ROFII'ATA WAB'ATSHU MAQOOMAM MAHMUUDAL LADZII WA'ADTAH INNAKA LAA TUKHLIFUL MII'AADA YA ARHAMAR ROOHIMIINA

Artinya :

"Ya Allah Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna dan shalat yang tetap didirikan, kurniailah Nabi Muhammad wasilah (tempat yang luhur) dan kelebihan serta kemuliaan dan derajat yang tinggi dan tempatkanlah dia pada kependudukan yang terpuji yang telah Engkaujanjikan, sesungguhnya Engkau tiada menyalahi janji, wahai dzat yang paling Penyayang."


Larangan Membaca Al-Quran Saat Sujud


Para ulama umumnya sepakat mengharamkan baca ayat Al-Quran pada saat sedang sujud. Hal itu berdasarkan larangan dari Rasulullah SAW dalam hadits berikut ini :

نَهَانِي رَسُول  عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَأَنَا رَاكِعٌ أَوْ سَاجِدٌ.
Dari Ali bin Abi Thalib,"Rasulullah SAW melarangku untuk membaca Al-Quran pada saat sedang rukuk dan sujud. (HR. Muslim)

أَلاَ وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا، فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ، وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ.

Ketahuilah bahwa Aku dilarang untuk membaca Al-Quran pada saat rukuk dan sujud. Pada saat rukuk maka agungkan Allah. Pada saat sujud maka bersungguh-sungguhlah dala m berdoa, seraya cepat dikabulkan bagi kalian. (HR. Muslim)


Di dalam mazhab Asy-Syafi'iyah, apabila seseorang membaca surat Al-Fatihah di dalam sujud, maka shalatnya menjadi batal. Karena seperti memindahkan salah satu rukun shalat bukan pada tempatnya. Sedangkan menurut jumhur ulama, dibacanya Al-Fatihah atau surat yang lain tidak sampai membuat shalat menjadi batal.

Ketentuan Bacaan dan Tata Cara Adzan dan Iqamah


Secara bahasa, adzan bermakna i’lam yaitu pengumuman, pemberitahuan atau pemakluman. Secara istilah adzan adalah merupakan panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu masuknya sholat fardu dengan lafad-lafadz tertentu. Adzan dikumandangkan oleh seorang muadzin.

Adzan mulai disyri’atkan pada tahun pertama dari hijrah. Sebagaimana disebutkan dalam satu hadits Rasulullah Saw,

Dari Nafi’ bahwa Umar mengatakan sebagai berikut : “Dulu kaum Muslimin berkumpul dan mengira-ngirakan waktu sholat dan tak ada orang yang menyerukannya. Maka pada suatu hari mereka bicarakanlah hal itu. Diantaranya ada yang mengetakan , “Pergunakanlah lonceng seperti lonceng orang-orang Nasrani! Ada pula yang menganjurkan : “Lebih baik tanduk seperti serunai orang Yahudi!” maka berkatalah Umar : “Kenapa tidak disuruh saj seseorang buat menyerukan sholat?” Maka bersabdalah Rasulullah Saw, “Hai Bilal, Bangkitlah! lalu serukan adzan.” (HR. Ahmad dan Bukhari)



Dari Abdullah bin Zaid bin Abdirabbihi berkata,”Ada seorang yang mengelilingiku dalam mimpi dan berseru : “Allahu akbar alahu akbar”, dan (beliau) membacakan adzan dengan empat takbir tanpa tarji’, dan iqamah dengan satu-satu, kecuali qad qamatishshalah”. Paginya Aku datangi Rasulullah SAW, maka beliau bersabda,”Itu adalah mimpi yang benar." (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Lafadz Adzan


اَللهُ اكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ
اَثْهَدُاَنْ لآاِلَهَ اِلَّااللهُ
اَثْهَدُاَنَّ مُهَمَّدًارَسُوْلُ اللهِ
حَيَّ عَلَ الصَّلَاةِ
حَيَّ عَلَ اْلفَلَاةِ
اَللهُ اكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ
لَآاِلَهَ اِلَّااللهُ

Allaahu akbar, Allaahu akbar 2x
Asyhadu an laa ilaaha illallaah 2x
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah 2x
Hayya 'alash-shalaah 2x
Hayya 'alal-falaah 2x
Allaahu akbar, Allaahu akbar 1x
Laa ilaaha illallaahu 1x

Keterangan :
Dalam adzan shalat subuh, di antara kalimat "Hayya 'alal-falaah" dan "Allaahu akbar, Allaahu akbar" yakni antara kalimat ke-5 dan ke-6 ditambah kalimat :

اَلصَّلَاةُ خَيْرُمِنَ النَّوْمِ

Ash-shalaatu khairum minan-nauum 2x

Artinya :
"Shalat itu lebih baik daripada tidur."

Lafazh Iqamah
Lafazh iqamah itu sama dengan adzan, hanya adzan diucapkan masing-masing dua kali, sedang iqamah cukup diucapkan sekali saja.

Dan di antara kalimat ke-5 dan ke-6 ditambah kalimat :

"QAD QAAMATISH-SHALAAH" 2x

Artinya :
"Shalat telah dimulai."

Iqamah sunah diucapkan agak cepat dan dilakukan dengan suara agak rendah daripada adzan.
Lafazh Iqamah sebagai berikut :


اَللهُ اكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ
اَثْهَدُاَنْ لآاِلَهَ اِلَّااللهُ
اَثْهَدُاَنَّ مُهَمَّدًارَسُوْلُ اللهِ
حَيَّ عَلَ الصَّلَاةِ
حَيَّ عَلَ اْلفَلَاةِ
قَدْقَامَتِ الصَّلَاةُ
اَللهُ اكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ
لَآاِلَهَ اِلَّاالله

Allaahu akbar, Allaahu akbar 1x
Asyhadu an laa ilaaha illallaah 1x
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullaah 1x
Hayya 'alash-shalaah 1x
Hayya 'alal-falaah 1x
Qad qaamatish-shalaah 2x
Allaahu akbar, Allaahu akbar 1x
Laa ilaaha illallaahu 1x

Menjawab Adzan.

Rasulullah shallahu alaihiwasalam bersabda :

"Apabila muadzin mengucapkan, ”Allahu Akbar Allahu Akbar,” lalu salah seorang dari kalian menjawab, ’Allahu Akbar Allahu Akbar’, kemudian muadzin mengucapkan, ’Asyhadu Anla Ilaha Illallah,’ dia menjawab,’ ’Asyhadu Anla Ilaha Illallah’, kemudian muadzin mengucapkan, ’Asyhadu Anna Muhammadar Rosulullah,’ dia menjawab,’ ’Asyhadu Anna Muhammadar Rosulullah’, kemudian muadzin mengucapkan, ’Hayya Alash Sholah.’ dia menjawab ’La Haula Wala Quwwata Illa Billah,’ kemudian muadzin mengucapkan,’Hayya Alal Falah,’ dia menjawab, ’La Haula Wala Quwwata Illa Billah,’ kemudian muadzin mengucapkan,’Allahu Akbar Allahu Akbar,’ dia menjawab, ’Allahu Akbar Allahu Akbar,’ kemudian muadzin mengucapkan, ’La Ilaha Illallah,’ dia menjawab ,’La Ilaha Illallah,’ dan semua itu dari hatinya, niscaya dia masuk surga”(HR.Muslim)

Nabi Muhammad bersabda :


إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

“Apabila kalian mendengar azan, maka jawablah dengan seperti apa yang diucapkan muazzin.” (HR. Al-Bukhari -Muslim)

Kemudian setelah adzan selesai hendaknya kita membaca doa dibawah ini , sesuai dengan sabda Rasulullah saw yang berjanji akan memberikan syafaat kepada siapa yang sesudah adzan membaca doa yang didalamnya mengandung permohonan agar nabi Muhammad saw ditempatkan di al-Wasilah (derajat yang tertinggi di surga), sabda beliau:

“Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bersholawatlah kepadaku, karena barang siapa bersholawat kepadaku satu kali niscaya Allah bersholawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian memohonlah al-Wasilah (kedudukan tertinggi) kepada Allah untukku, karena itu adalah kedudukan di surga yang tidak layak kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap aku adalah hamba tersebut, barang siapa memohon al-Wasilah untukku niscaya dia (berhak) mendapatkan syafaat.” (HR. Muslim 2/327)

Syarat Melaksanakan Adzan

1. Telah Masuk Waktu.
Bila seseorang mengumandangkan adzan sebelum masuk waktu shalat, maka adzannya itu haram hukumnya sebagaimana telah disepakati oleh para ulama. Dan bila nanti waktu shalat tiba, harus diulang lagi adzannya. Kecuali adzan shubuh yang memang pernah dilakukan 2 kali di masa Rasulllah SAW. Adzan yang pertama sebelum masuk waktu shubuh, yaitu pada 1/6 malam yang terakhir. Dan adzan yang kedua adalah adzan yang menandakan masuknya waktu shubuh, yaitu pada saat fajar shadiq sudah menjelang.

2. Harus Berbahasa Arab.
Adzan yang dikumandangkan dalam bahasa selain arab tidak sah. Sebab adzan adalah praktek ibadah yang bersifat ritual, bukan semata-mata panggilan atau menandakan masuknya waktu sholat.

3. Tidak Bersahutan.
Bila adzan dilakukan dengan cara sambung menyambung antara satu orang dengan orang lainnya dengan cara bergantian, hukumnya tidak sah.

Sedangkan mengumandangkan adzan dengan beberapa suara vokal secara berberengan, dibolehkan hukumnya dan tidak dimakruhkan sebagaimana dikatakan Ibnu Abidin. Hal ini pertama kali dilakukan oleh Bani Umayyah.

4. Muslim, Laki, Akil Baligh.
Adzan tidak sah bila dikumandangkan oleh non-muslim, wanita, orang tidak waras atau anak kecil. Sebab mereka semua bukan orang yang punya beban ibadah.

Bahkan Al-Hanafiyah mensyaratkan bahwa orang itu tidak boleh fasik, bila sudah terjadi maka harus diulangi oleh orang lain yang tidak fasik. Al-Malikiyah mengatakan bahwa dia harus adil.

5. Tertib Lafaznya.
Tidak diperbolehkan untuk terbolak-balik dalam mengumandangkan lafadz adzan. Urutannya harus benar. Namun para ulama sepakat bahwa untuk mengumandangkan adzan tidak disyaratkan harus punya wudhu`, menghadap kiblat, atau berdiri. Hukum semua itu hanya sunnah saja, tidak menjadi syarat sahnya adzan.

Disunnahkan orang yang mengumandangkan adzan juga orang yang mengumandangkan iqamat. Namun bukan menjadi keharusan yang mutlak, lantaran di masa Rasululah SAW, Bilal radhiyallahu ‘anhu mengumandangkan adzan dan yang mengumandangkan iqamat adalah Abdullah bin Zaid, shahabat Nabi yang pernah bermimpi tentang adzan. Dan hal itu dilakukan atas perintah nabi juga.

Sunnah Adzan.

1. Hendaklah muadzin suci dan hadast besar dan kecil. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam pembahasan hal-hal yang dianjurkan baginya berwudhu’.

2. Hendaklah ia berdiri menghadap kiblat. Ibnu mundzir berkata sesuatu yang telah menjadi ijma’ (kesempatan para ulama) bahwa berdiri ketika adzan termasuk sunnah Nabi karena suara bisa lebih keras, dan termasuk sunnah juga ketika adzan menghadap ke arah kiblat, sebab para muadzin Rasullullah mengumandangkan adzan sambil menghadap kearah kiblat.

3. Menghadapkan wajah dan lehernya ke sebelah kanan ketika mengucapkan ‘Hayya ‘alalfalah’ dan ke sebelah kiri ketika mengucapkan, ‘Hayya ‘alal falah’, sebagaimana yang telah dijelaskan sebagai berikut :

Dari Abu Juhaifah ia pernah melihat Bilal beradzan, ia berkata, “Kemudian saya ikuti mulutnya ketika ke arah sini dan sini dengan adzan tersebut.” ( Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari II: 114 no: 634, Muslim I : 360 no no: 503, ‘Aunul Ma’bud II: 219no: 516, Tarmidzi I: 126 no: 197, dan Nasa’I II: 12).

(Adapun memalingkan dada ke kanan dan ke kiri ketika adzan, maka sama sekali tidak dijelaskan dalam sunnah Nabi saw. dan tidak pula disebutkan dalam hadits-hadits yang menerangkan menghadapkan leher ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri. Selesai. Berasal dari kitab Tamamul Minnah ha.150)

4.Memasukkan dua jari ke dalam telinganya, karena ada pernyataan Abu Juhaifah:

"Saya melihat Bilal adzan dan berputar serta mengarahkan mulut ke sini dan ke sini, sedangkan dua jarinya berada ditelinganya.” (Shahih: Shahih Tirmidzi no: 164 dan Sunan Tirmidzi I: 126 no: 197).

5. Mengeraskan suaranya ketika adzan, sebagaimana yang dijelaskan dalam sabda Nabi saw., 

“Karena sesungguhnya tidaklah akan mendengar sejauh suara muadzin, baik jin, manusia, adapun sesuatu yang lain, melainkan mereka akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.” (Shahih: Shahih Nasa’i no: 625, Fathul Bari H: 87: 609 dan Nasa’i II: 12).

Imam Tirmidzi berkata, “Hadits ini Hasan Shahih dan sudah diamalkan oleh para ulama’ mereka menganjurkan muadzin memasukkan dua jari ke dalam dua telinganya ketika adzan.”


Bacaan Doa Dalam Sujud

Selain bertasbih, ketika sujud juga disunnahkan untuk berdoa dan memperbanyaknya. Dasarnya adalah hadits shahih berikut ini :

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثَرُوا الدُّعَاءَ
Jarak yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah doa. (HR Muslim)

Diantara hadits-hadits yang sampai kepada kita tentang bacaan doa tatkala sujud adalah lafadz-lafadz sunnah berikut ini.

a. Doa Versi Pertama
Di dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan lafadz sujud yang disamakan dengan lafadz ruku', yaitu :
كَانَ النَّبِيُّ  يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
Nabi SAW pada saat rukuk dan sujud membaca : Maha Suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, ampunilah Aku. (HR. Bukhari)

b. Doa Versi Kedua
Selain itu juga ada doa lainnya seperti berikut ini :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِعَفْوِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Ya Allah, ampunilah diriku dari dosaku semuanya, yang detail atau yang besar, yang awal dan yang akhir, yang terlihat ataupun yang tidak terlihat. Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu, dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu dan Aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Tidak terhitung pujian bagi-Mu Engkau sebagaimana pujian-Mu atas diri-Mu. (HR. Muslim)

c. Doa Versi Ketiga
Doa versi lainnya diriwayatkan dari Ali ra sebagai berikut :

إِذَا وَضَعْتَ وَجْهَكَ سَاجِداً فَقُلْ- اللَّهُمَّ أَعِنيِّ عَلىَ شُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Dari Abi Said radhiyallahuanhu berkata bahwa Nabi SAW bersabda,"Wahai Muaz, bila kamu meletakkan wajahmu dalam sujud, katakanlah : Ya Allah, tolonglah aku untuk bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu."

أحب الكلام إلى الله أن يقول العبد، وهو ساجد: رب إني ظلمت نفسي فاغفر لي
Kalimat yang paling disukai Allah adalah ketika seorang hamba berdoa sambil sujud,"Ya Allah, sungguh Aku telah zalim pada diriku maka ampunilah Aku.

Kedua hadits ini diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam kitab Sunannya.


http://www.rumahfiqih.com

Bacaan Ketika Sujud dan Hukumnya


Hukum Membaca Bacaan Sujud

a. Jumhur Ulama : Sunnah
Jumhur ulama diantaranya para ulama dari mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah menyebutkan bahwa lafadz-lafadz yang dibaca saat sujud berupa takbir, tasbih dan doa hukumnya sunnah dan bukan wajib.

Apabila sama sekali tidak dibaca dan ditinggalkan baik secara sengaja atau tidak sengaja, sama sekali tidak merusak shalat. Shalatnya tetap sah tanpa membaca apapun pada saat sujud.

Dasarnya adalah hadits Nabi SAW tentang bagaimana beliau mengajarkan orang yang shalatnya buruk, dimana beliau mengajarkan tata cara sujud tanpa menyebutkan harus membaca sesuatu. Seandainya bacaan saat sujud itu wajib hukumnya, pastilah beliau SAW mengajarkan kepada orang tersebut.

b. Al-Hanabilah : Wajib
Sedangkan dalam pandangan mazhab Al-Hanabilah, membaca lafadz sujud ini hukumnya wajib. Apabila seseorang secara sengaja meninggalkannya, maka dia batal shalatnya. Namun bila meninggalkannya karena lupa, shalatnya masih sah. Namun disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi.

Dasarnya menurut mereka bahwa Rasulullah SAW mengerjakannya dan memerintahkan kita untuk mengerjakannya.

Anjuran Membaca Tasbih Saat Sujud
a. Al-Quran
Dasar perintah untuk membaca tasbih ketika sujud adalah ayat Al-Quran berikut ini :
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكِ الأَْعْلَى
Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (QS. Al-A'la : 1)

b. As-Sunnah
Di dalam hadits Rasulullah SAW telah bersabda :
لَمَّا نَزَلَتْ فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ قَال رَسُول اللَّه  اجْعَلُوهَا فِي رُكُوعِكُمْ. فَلَمَّا نَزَلَتْ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكِ الأَْعْلَى قَال: اجْعَلُوهَا فِي سُجُودِكُمْ
Dari Uqbah bin Amir bahwa ketika turun ayat (fasabbih bismirabbikal'adzhim), Rasulullah SAW bersabda, "Jadikanlah lafadz ini sebagai bacaan dalam rukukmu". Dan ketika turun ayat (sabbihismarabbikal 'ala), Rasulullah SAW memerintahkan,"Jadikanlah lafadz ini bacaan di dalam sujudmu". (HR. Abu Daud)

Maka para ulama umumnya sepakat mengatakan bahwa lafadz tasbih yang dibaca dalam sujud adalah :
سبحان ربي الأعلى
Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi

Banyaknya Bacaan Dalam Sujud
Dalam hal berapa kali dibaca lafadz tasbih ini, para ulama berbeda pendapat.

a. Mazhab Al-Hanafiyah
Mazhab Al-Hanafiyah mensyaratkan bahwa minimal membaca tasbih di dalam sujud itu tiga kali. Apabila kurang dari tiga kali, hukumnya makruh tanzih.
Apabila shalat sendirian, akan menjadi lebih utama bila dibaca lebih dari tiga kali. Sedangkan bila sedang menjadi imam dalam shalat fardhu lima waktu, jangan lebih dari tiga kali, agar orang-orang yang shalat di belakangnya tidak merasa terlalu lama.

b. Mazhab Al-Malikiyah
Mazhab Al-Malikiyah menyebutkan bahwa tasbih dalam sujud hukumnya sunnah dengan lafadz apapun. Tapi yang paling utama adalah lafadz subhana rabbiyal a'la wabihamdih. Bila diulang-ulang maka pahalanya lebih banyak lagi.
Namun imam dalam shalat fardhu lima waktu tidak dianjurkan mengulang-ulangnya karena khawatir memberatkan para makmum.

c. Mazhab Asy-Syafi'iyah
Mazhab Asy-Syafi'iyah memandang bahwa asalnya tasbih dalam sujud itu cukup sekali saja, minimal membaca subhanallah, atau subhanarabbi. Sedangkan bila mau yang sempurna adalah bacaan subhana rabbiyal a'la wabihamdih yang dibaca minimal tiga kali. Bila dibaca lima kali, tujuh kali, sembilan kali dan sebelas kali, maka akan semakin sempurna.

Namun sebagaimana mazhab lain, mazhab Asy-syafi'i melarang imam shalat fardhu untuk membaca lebih dari tiga kali, sebagai perlindungan bagi makmum.

d. Mazhab Al-Hanabilah
Sudah disebutkan di atas bahwa mazhab Al-Hanabilah mewajibkan bacaan sujud. Dan bacaan itu minimal adalah subhana rabbiyal a'la, dan minimal sekali dibaca, tanpa tambahan wabihamdih.

http://www.rumahfiqih.com

Langkah Kaki Menuju Mesjid Dapat Meninggikan Derajat Dan Menghapus Dosa


Dari abdullah bin mas'ud radiyallahu anhu'.bahwasanya dia bercerita :

" tidaklah seorang bersuci lalu dia melakukannya dengan sebaik-baiknya kemudian berangkat ke salah satu dari masjid-masjid yg ada,melainkan Allah akan menetapkan baginya bahwa setiap langkah yg diayunkannya mendapat satu kebaikan.Dengannya pula dia akan meninggikan satu derajat dan menghapuskan darinya satu keburukan... (shahih : HR Muslim (654)

Abu hurairah radiyallahu 'anhu berkata:  Rasulullah  SAW bersabda :
" shalat seorang laki-laki dengan berjamaah di banding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama(di lipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat.yang demikian itu karena bila dia berwudhu dengan menyempurnakan wudhunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid,dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjamaah,maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan di tinggikan satu derajat,dan akan di hapuskan satu kesalahannya,Apabila dia melaksanakan sholat ,maka malaikat akan turun untuk mendoakannya selama dia masih di tempat sholatnya, 'ya Allah ampunilah dia,Ya Allah rahmatilah dia' dan seseorang dari kalian senantiasa di hitung dalam keadaan sholat selama dia menanti pelaksanaan sholat " (Muttafaqun alaihi : HR al -Bukhari (647) dan Muslim (649).

Dari Abu Hurairah radiyallahu'anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda :
"barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berjalan ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah ( masjid) untuk menunaikan salah satu dari kewajiban-kewajiban yg Allah wajibkan,maka kedua langkahnya salah satunya akan menghapus dosa dan langkah yg lainnya akan mengangkat derajat" ( HR : Muslim (1553))

Imam qurthubi rahimahullah mengatakan : Ad dawudu mengemukakan : jika dia memiliki beberapa dosa,akan di hapuskan dengannya dan jika tidak punya,dengannya dia akan di tinggikan beberapa drajat" Dapat saya katakan : Hal ini menuntut bahwa yg di hasilkan dari satu langkah adalah satu derajat ,baik di hapuskan dosanya maupun di tinggikan derajatnya" yang lainnya mengatakan : yang di hasilkan dari satu langkah itu ada tiga hal,yang demikian itu di dasarkan pada sabda beliau dalam hadits lain :

"Allah telah menetapkan kebaikan baginya dari setiap langkahnya.dengannya dia akan meninggikannya satu derajat dan menghapuskan darinya satu kebaikan' (lihat Al-Mafhum limaa asykala min talkhishi kitaab muslim oleh Qurthubi ( III/290)

Sumber: http://irsanbakri.blogspot.co.id

Hal-Hal Makruh Dalam Sholat (2)


Melaksanakan sholat saat makanan sudah dihidangkan
Dari Aisyah ra, dari Nabi SAW, beliau pernah bersabda,”Jika makan malam sudah dihidangkan lalu iqamah shalat juga sudah dikumandangkan, maka mulailah dengan makan malam”

Menahan buang air kecil dan buang air besar dalam sholat
Dari Aisyah ra, dia bercerita, “ Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Tidak ada  sholat dihadapan makanan dan tidak juga pada saat ada desakan ingin buah air kecil dan buang air besar”

Meludah ke muka atau ke sebelah kanan pada saat sholat
Hadits dari Anas ra, dia bercerita, Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian berdiri dalam sholatnya maka sesungguhnya dia tengah bermunajad kepada Rabnya, sesungguhnya Rabnya berada diantara dirinya dan kiblat. Oleh karena itu janganlah salah seorang diantara kalian meludah kearah kiblatnya, tetapi hendaknya dia meludah kesebelah kiri atau dibawah kakinya.”

Melipat rambut atau pakaian saaat sholat
Hadits Ibnu Abbas ra, Dari Nabi SAW, beliau bersabda “ Aku diperintah untuk bersujud di atas tujuh tulang dan tidak melipat pakaian dan rambut”

Menutup mulut dan as-sadl dalam sholat
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW melarang as-sadl dan melarang seseorang menutup mulutnya dalam sholat.

Mengkhususkan satu tempat tertentu di mesjid untuk mengerjakan sholat secara terus menerus tanpa imam
Dari Abdul Hamid bin Salamah dari ayahnya bahwa Rasulullah SAW melarang patokan burung gagak, deruman binatang buas, serta melarang seseorang menentukan tempat tertentu di dalam sholat sebagaimana unta menempati suatu tempat tertentu”

Bersandar pada kedua tangan pada saat duduk dalam sholat
Dari Ibnu Umar ra, dia bercerita, “Rasulullah SAW melarag seseorang duduk di dalam sholat sedang dia bersandar pada kedua tanganya”

Menguap dalam sholat
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah bersabda,”menguap itu dari syetan. Oleh karena itu, jika salah seorang diantara kalian menguap, hendaklah ia menutup mulutnya semampunya .”

Dan dalam sebuah lafaz disebutkan,” Jika salah seorang di antara kalian menguap di dalam sholat, hendaklah ia menahan semampunya karena syetan bisa masuk” (HR Muslim)

Sholat di mesjid bagi orang yang memakan bawang merah, bawang putih atau daun bawang
Hadits Jabir bin Abdillah ra, bahwa Rasullullah SAW bersabda,” Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah maka hendaklah dia menjauh dari kami atau menjauhi mesjid kami dan hendaklah dia diam di rumahnya saja”

Mengerjakan sholat sunnah pada saat diliputi rasa kantuk
Dari Aisyah ra, Nabi bersabda,”Jika salah seorang diantara kalian mengantuk saat sholat, hendaklah ia berbaring hingga kantuknya hilang. Sebab jika salah seorang diantara kalian sholat sedang dia dalam keadaan mengantuk, bisa jadi dia bermaksud memohon ampunan malah justru memaki dirinya sendiri”


Sumber:  Buku “Panduan Shalat Lengkap” karya Dr.Sa’id bin Ali Wahaf al-Wahthani 

Hal-Hal Makruh Dalam Sholat (1)


Makruh adalah suatu perkara yang dianjurkan untuk tidak dilakukan akan tetapi jika dilakukan tidak berdosa dan jika ditinggalkan akan mendapat pahala dari Allah SWT.
Berikut adalah hal-hal makruh dalam sholat:

Menoleh bukan untuk suatu hal yang diperlukan
Aisyah ra bercerita bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai menoleh dalam sholat, Beliau menjawab “ Hal itu merupakan rampasan yang dirampas oleh setan dari shalat seorang diantara kalaian (HR. Muslim)

Mengangkat pandangan ke langit
Dari Anas ra. Dia bercerita , Rasulullah SAW bersabda, ”Mengapa orang-orang itu mengangkat kepala mereka ke langit dalam sholat mereka? Kemudian sabda beliau semakin keras sehingga beliau bersabda, “Hendaklah mereka menghentikan hal tersebut atau pandangan mereka akan disambar” (HR Bukhari)

Meletakkan kedua lengan di lantai saat bersujud
Hal itu didasarkan pada Hadits Anas ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda,”Beritidal (lurus) lah dalam sujud dan janganlah salah seorang dari kalian meletakkan kedua lengannya seperti yang dilakukan oleh anjing (Muttafaqun ‘alaih)

Bertolak pinggang
Dari Abu Hurairah ra, dia bercerita” Rasulullah SAW melarang seseorang mengerjakan sholat dengan bertolak pinggang”

Melihat hal-hal yang dapat melengahkan dan melalaikan
Dari Aisyah ra mengatakan bahwa Nabi SAW pernah mengerjakan shoalat dengan kain yang bergambar, Belia SAW melihatnya sekilas. Ketika berpaling Beliau SAW bersabda.’Bawa pergi kainku ini kepada Abu Jaham, dan bawakanlah kepadaku kain tebal tanpa tanda (gambar), karena kain itu telah melalaikan sholatku”

Menggerakkan anggota tubuh atau merubah posisi dalam sholat tanpa adanya kebutuhan untuk itu
Dari Mu’aikib ra, bahwa Nabi SAW pernah bersabda tentang seseorang yang meratakan/menyeka debu dalam sujud , maka beliau bersabda, “Jika engkau harus melakukannya, maka cukup sekali saja”

Menjalin jari-jemari dan membunyikannya dalam sholat

Dari Ka’ab bin Ujrah, Rasulullah SAW bersabda” Jika salah seorang dari kalian berwudhu’ lalu dia melakukan dengan baik, kemudian berangkat dengan sengaja menuju mesjid , maka hendaklah dia tidak menjalin jari-jemarinya, karena dia dalam keadaan sholat”

Sumber:  Buku “Panduan Shalat Lengkap” karya Dr.Sa’id bin Ali Wahaf al-Wahthani 

Hukum Isbal


Isbal artinya mengulurkan sesuatu (sarung, celana, jubah, dll) dari atas sampai ke bawah melampaui mata kaki. (Rawwas Qal’ahjie, Mu’jam Lughah Al Fuqoha`, hlm. 139; Sa’di Abu Jaib, Al Qamus Al Fiqhi, hlm. 111).

Hukum isbal bagi laki-laki dirinci sebagai berikut, Pertama, isbal karena sombong, hukumnya haram. Dalilnya hadis Ibnu Umar RA, dia berkata,”Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ جَرَ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang mengulurkan bajunya [melampaui mata kaki] karena sombong maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada Hari Kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim). Imam Syaukani mengatakan hadis ini menunjukkan haramnya isbal karena sombong (khuyala`). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 328).

Kedua, isbal bukan karena sombong, hukumnya tidak haram, tapi makruh. Ini pendapat jumhur ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. (Nashir bin Muhammad bin Misyri Al Ghamidi; Libasur Rajul Ahkamuhu wa Dhawabithuhu, Juz I hlm. 703).

Dalil tidak haramnya isbal jika bukan karena sombong, adalah mafhum mukhalafah (makna tersirat yang berkebalikan dari makna yang tersurat) dari hadis Ibnu Umar RA di atas. Imam Syaukani menjelaskan kata khuyala` (sombong) dalam hadis tersebut merupakan taqyid (batasan). Maka mafhum mukhalafah-nya adalah ‘siapa pun yang mengulurkan bajunya [melampaui mata kaki] bukan karena sombong, berarti tidak terkena ancaman dalam hadis itu’. Imam Syaukani –rahimahullah– menyatakan :

و ظاهر التقييد بقوله خيلاء يدل بمفهومه أن جر الثوب لغير الخيلاء لا يكون داخلا في هذا الوعيد

 “Zhahirnya taqyiid (batasan) dengan sabda Nabi SAW “khuyala`” (karena sombong), mafhum mukhalafahnya menunjukkan bahwa mengulurkan baju bagi orang yang tidak sombong tidaklah termasuk dalam ancaman ini.” (Imam Syaukani, Nailul Authar, Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000, hlm. 328).

Selain mafhum mukhalafah ini, terdapat manthuq (makna tersurat) dari nash yang tak mengharamkan isbal jika bukan karena sombong. Dari Ibnu Umar RA, dia berkata,”Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ جَرَ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ إِنَ أَحَدَ شِقَيْ إِزَارِيْ يَسْتَرْخِيْ إِلاَ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ، فَقَالَ إِنَكَ لَسْتَ مِمَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ

 “Barangsiapa mengulurkan bajunya [melampaui mata kaki] karena sombong, maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada Hari Kiamat.’ Abu Bakar kemudian berkata,’Sesungguhnya salah satu ujung sarungku selalu terulur [melampaui mata kaki] kecuali aku sengaja mengikatnya.’ Maka Rasululullah SAW bersabda,’Sesungguhnya engkau tak termasuk orang yang mengerjakan perbuatan itu karena sombong.” (HR Bukhari, Abu Dawud, dan Nasa`i). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 327; Imam Shan’ani, Subulus Salam, 4/158).

Hadis ini menunjukkan isbal bukan karena sombong tidak haram. Namun tidak haram bukan berarti hukumnya mubah, melainkan makruh. Sebab terdapat nash-nash yang melarang isbal secara mutlak, baik karena sombong maupun tidak. Dari Jabir bin Sulaim RA, Nabi SAW pernah bersabda :

وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلىَ نِصْفِ السَاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلىَ الْكَعْبَيْنِ وَإِيَاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَهَا مِنَ الْمَخِيْلَةِ وَإِنَ اللهَ لاَ يُحِبُ الْمَخِيْلَةِ

”Angkatlah sarungmu hingga pertengahan betis. Kalau kamu enggan, angkatlah hingga ke mata kaki. Hindarkan dirimu dari isbal pada sarung, karena isbal itu merupakan kesombongan, dan sesungguhnya Allah tidak menyukai kesombongan.” (HR Abu Dawud, Nasa`i, dan Tirmidzi). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 328).

Hadis ini menunjukkan larangan isbal secara mutlak, baik karena sombong maupun tidak. Maka isbal tidak karena sombong pun, tetap terkena larangan mutlak ini. Namun demikian, isbal yang bukan karena sombong hukumnya makruh, bukan haram. Karena terdapat qarinah yang masih membolehkan isbal asalkan tidak sombong, yaitu hadis Ibnu Umar tentang kisah Abu Bakar di atas. Jadi, isbal yang bukan karena sombong hukumnya makruh. Imam Syaukani menukilkan pendapat Imam Nawawi sebagai berikut :

قال النووي إنه مكروه وهذَا نص الشافعي قال البويطي في مختصره عن الشافعي لا يجوز السدل في الصلاة ولا في غيرها للخيلاء ولغيرها خفيف لقول النبي صلى الله عليه وسلم لأبي بكر، انتهى

“Imam Nawawi berkata,’Sesungguhnya hal itu [isbal bukan karena sombong] adalah makruh, dan inilah nash dari Imam Syafi’i. Imam Al Buwaithi telah mengatakan dalam kitab Mukhtashar-nya dari Imam Syafi’i bahwa tidak boleh isbal baik dalam sholat maupun di luar sholat bagi orang yang sombong. Adapun orang yang tidak sombong maka ada keringanan berdasarkan sabda Nabi SAW kepada Abu Bakar. Selesai kutipan.” (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 328).

Memang ada sebagian ulama yang mengharamkan isbal secara mutlak, yakni isbal karena sombong maupun tidak, seperti Qadhi ‘Iyadh, Imam Ibnul ‘Arabi, dan Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani. Namun Imam Syaukani menolak pendapat ini. Karena pendapat ini berarti tak mengamalkan hadis muqayyad (yang mengandung taqyid/batasan), yakni kata khuyala` (sombong) dalam hadis Bukhari tersebut. Padahal hadis yang mutlak (yaitu hadits Jabir bin Sulaim RA di atas) maupun yang muqayyad seharusnya diamalkan semua, dengan mengkompromikan nash mutlak dan nash muqayyad, sesuai kaidah ushul fiqih : yuhmal al muthlaq ‘ala al muqayyad wajib (membawa nash yang mutlak kepada nash yang muqayyad adalah wajib). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 328; ‘Amir bin Isa Al Lahwu, Manhaj Al Imam Al Syaukani fi Daf’i Al Ta’arudh Baina Al Adillah Al Syar’iyah, hlm. 14).

Kesimpulannya, isbal karena sombong hukumnya haram. Jika bukan karena sombong, hukumnya tidak haram, tapi makruh. Inilah hukum syara’ tentang isbal yang kami rajihkan. Wallahu a’lam. (Ustadz Siddiq Aljawi).

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id