Hikmah Sholat

Buah dan hikmah sholat adalah dapat menghibur hati dan membuat wajah berseri-seri.

Berdoalah Kepada Allah

Allah memerintahkan kepada hambanya untuk mengembalikan segala keluh kesah kepadaNya meminta tolong dengan sholat, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Manfaat Sujud dalam Sholat

Memperkuat saraf mata, saraf hidung, saraf telinga, saraf leher, saraf otak atau kepala. Memperkuat lutut, Memperkuat saraf pada kaki dan memperkuat organ-organ dalam tubuh, jantung, hati, pancreas, dan sebagainya.

Tidak Ada Sholat Witir Dua Kali Dalam Satu Malam


Tidak ada sholat witir dua kali dalam satu malam dan sholat yang dilakukan setelah sholat witir tidak menjadi batal.

Hal ini didasarkan pada hadits Dari Thalq bin Ali, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘
لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ

tidak ada dua witir dalam semalam
( Hr. Ahmad: 15704, Abu Daud: 1227, Nasa’i: 1661, dan Tirmidzi: 432).

Nabi juga pernah mengerjakan sholat dua rakaat setelah mengerjakan sholat witir. Oleh karena itu jika seorang muslim hendak mengerjakan sholat witir sebelum tidur, dan ia kemudian dimudahkan Allah untuk bangun pada malamnya untuk mengerjakan sholat sunnah lainnya dua rakaat dua rakaat, dan ia tidak perlu untuk menutupnya dengan sholat witir. Cukuplah sholat witirnya hanya yang ia lakukan pada saat sebelum tidur. Dan sholat witirnya itu tetap sah sama seperti tidak batalnya sholat sunnah setelahnya.

Wallahua’lam



Manfaat Sholat Dhuha Secara Medis


Abu Dzar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Setiap tulang dan persendian badan dari kamu ada sedekahnya; setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap amar ma’ruf adalah sedekah, dan setiap nahi munkar adalah sedekah. Maka, yang dapat mencukupi hal itu hanyalah dua rakaat yang dilakukannya dari Shalat Dhuha.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud).

Abu Hurairah r.a. berkata, “Kekasihku, Muhammad Saw. Berwasiat kepadaku agar melakukan tiga hal: Berpuasa tiga hari pada setiap bulan(Hijriah, yaitu puasa putih atau Bidl, tanggal 13,14,15), dua rakaat shalat Dhuha, dan agar aku melakukan shalat Witir dulu sebelum tidur.” (HR Bukhari-Muslim).

Rasulullah Saw. bersabda: “Shalat Dhuha itu shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim)

Buraidah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Dalam tubuh manusia terdapat 360 persendian, dan ia wajib bersedekah untuk tiap persendiannya.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang sanggup, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ludah dalam masjid yang dipendamnya atau sesuatu yang disingkirkannya dari jalan. Jika ia tidak mampu,maka dua rakaat Dhuha sudah mencukupinya.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Peregangan sungguh mutlak diperlukan, untuk kesiapan kita menyongsong hari penuh tantangan. Dan, Rasulullah Saw. menyinggungnya dengan ungkapan santun: “hak dari setiap persendian.” Semuanya cukup dengan dua rakaat dhuha.

Shalat memang memiliki kombinasi unik dari tiap gerakannya bagi tubuh. Hanya saja untuk Dhuha, waktunyalah yang memang unik; waktu ketika tubuh memerlukan energy namun juga harus bersiap menghadang stress yang menerpa.

Dr. Ebrahim Kazim-seorang dokter, peneliti, serta direktur dari Trinidad Islamic Academy-menyatakan, “Repeated and regular movements of the body during prayers improve muscle tone and power, tendon strength, joint flexibility and the cardio-vascular reserve.” Gerakan teratur dari shalat menguatkan otot berserta tendonnya, sendi serta berefek luar biasa terhadap system kardiovaskular.

Itulah peregangan dan persiapan untuk menghadapi tantangan, tapi bedanya dengan olah raga biasa adalah: pahalanya luar biasa! Abu Darda r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Wahai anak Adam kerjakanlah shalat empat rakaat kepada-Ku pada permulaan siang niscaya Aku akan member kecukupan kepadamu sampai akhir siang.” (HR at-Tirmidzi).

Terlebih lagi shalat Dhuha tidak hanya berguna untuk mempersiapkan diri menghadapi hari dengan rangkaian gerakan teraturnya, tapi juga menangkal stress yang mungkin timbul dalam kegiatan sehari-hari, sesuai dengan keterangan dr. Ebrahim Kazim tentang shalat: “Simultaneously, tension is relieved in the mind due to the spiritual component, assisted by the secretion of enkephalins, endorphins, dynorphins, and others.”

Ada ketegangan yang lenyap karena tubuh secara fisiologis mengelurakan zat-zat seperti enkefalin dan endorphin. Zat ini sejenis morfin,termasuk opiate. Efek keduanya juga tidak berbeda dengan opiate lainnya. Bedanya, zat ini alami, diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga lebih bermanfaat dan terkontrol.

Jika barang-barang terlarang macam morfin bisa memberi rasa senang-namun kemudian mengakibatkan ketagihan disertai segala efek negatifnya- endorphin dan enkefalin tidak. Ia memberi rasa bahagia, lega, tenang, rileks, secara alami. Menjadikan seseorang tampak ebih optimis, hangat, menyenangkan, serta seolah menebarkan aura ini kepada lingkungan di sekelilingnya.

Subhanallah….Maka, shalat Dhuha-lah, peregangan sekaligus pereda stress. Inilah rehat yang tidak sekadar rehat. Daripada sekadar duduk-duduk mengobrol, ayo rehat dengan ber-Dhuha dan segera kembali beraktivitas setelahnya. Kemudian, rasakan bedanya!.

Semoga bermanfaat.


Sumber: http://www.sholat-dhuha.info

Empat Rakaat Sunnah Yang Bisa Membuka Pintu Langit


Ada banyak amalan-amalan sunnah dengan janji imbalan melimpah dari Allah Ta’ala. Sebelum diperintahkan untuk diteladani, amalan-amalan ini sudah lebih dahulu dilakukan oleh Rasulullah Saw. Karenanya, ketika amalan-amalan tersebut dikerjakan, ia sudah memenuhi kriteria untuk disebut sebagai amalan yang ikhlas sebab dikerjakan karena Allah Ta’ala dan mencontoh Rasulullah Saw.

Di antara banyak amalan sunnah itu, ada banyak amalan-amalan yang hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Saw. Bahkan, tatkala beliau terlewatkan melakukan amalan itu karena banyak sebab, Rasulullah Saw menggantinya dalam kesempatan yang lain.

‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq meriwayatkan, “Ketika Rasulullah Saw belum shalat empat raka’at sebelum Zhuhur,” lanjutnya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Baihaqi, “beliau melakukan setelahnya.”

Mengomentari hadits ini, Abu Isa at-Tirmidzi menerangkan, “Hadits tersebut menunjukkan perintah untuk menjaga amalan-amalan sunnah sebelum shalat wajib.”

Jika Nabi Saw amat menjaga sebuah amalan, maka di dalamnya terdapat rahasia yang amat besar. Lantas, ada rahasia dan keutamaan seagung apakah yang terkandung di dalam shalat sunnah empat raka’at sebelum Zhuhur ini sehingga Nabi Saw amat menjaganya?

Secara marfu’ mursalan, Abu Shalih sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah menyampaikan sabda Rasulullah Saw, “Empat raka’at sebelum Zhuhur setara dengan shalat menjelang Subuh.”

Sedangkan dari jalur lain dari Abu Ayyub al-Anshari, Imam Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan, “Empat rakaat sebelum Zhuhur dapat membuka pintu langit.”

Lantaran keutamaan shalat sunnah empat raka’at sebelum Zhuhur ini, Dr. Muhammad bin Ibrahim an-Nu’aim dalam bukunya “Mizan, Jurus Jitu Memperberat Timbangan Amal” memasukkan amalan ini ke dalam jajaran amal yang setara dengan shalat Sunnah Tahajjud (Qiyamullail) selain shalat Isya’ dan Subuh berjama’ah awal waktu di masjid, mendirikan shalat Tarawih sampai tuntas di belakang imam, membaca seratus ayat al-Qur’an di malam hari, membaca dua ayat terakhir surah al-Baqarah di malam hari, memiliki akhlak yang mulia, menyantuni janda dan orang miskin, menjaga sunnah di hari Jum’at, Ribath di jalan Allah Ta’ala, niat shalat malam sebelum tidur dan mengajari orang lain tentang amalan-amalan tersebut.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk melakukan amalan-amalan tersebut. Sebab melalui amalan sunnah ini, seorang hamba bisa semakin dicintai Allah Ta’ala. Aamiin.

Sumber
http: kisahikmah.com

Shalat Perspektif Syariah, Tarekat, dan Hakikat (3)

Para ahli hakikat dalam ilmu huruf memaknai kata shalawat tersusun dari seluruh hakikat pertalian berdasarkan dari pecahan katanya, yaitu, wushlah, shila, washlu, wishal, shaulah, dan shalaa.

Sifat-sifat tersebut merupakan subtansi atau hakikat pertalian, penggabungan, dan hubungan. Perkongsian makna yang menghimpun dalam susunan-susunan ini adalah penggabungan, pendekatan, pengikutan, dan penyatuan.

Makna wushlah adalah bersambungnya sesuatu yang bergabung dan bergabungnya sesuatu yang bersambung yang sebelumnya telah berpisah. Sedangkan, shilah ialah menyampaikan pemberian yang diingini dan diminta dari Sang Pemberi kepada yang diberi.

Kemudian, shaulah adalah terkoneksinya sambungan gerakan qahriyah dari Allah kepada hamba. Adapun salwu ialah mencondongkan punggung untuk khusyuk. Terakhir, du’au ialah permohonan untuk sampainya apa yang dimintanya dari tempat berdoa itu.

Adapun “shalawat” hamba kepada Allah adalah merupakan pengembalian kembali dirinya kepada hakikat ciptaannya sebagai al-insaniya al-kamaliyyah al-kulliyah al-ahadiyah al-jam’iyyah dan mengikatnya dengan kehadiran (khadhrah) yang dari sananya memikul bentuknya dan darinya pula berawal dan berkembang.

Sementara, lima kulliyah berdasarkan al-hadharaatul khamsah al-ilahiyah adalah pertama hakikatnya, yaitu al-‘ain al-tsabit yang bentuknya hanya dalam pengetahuan Allah sejak pertama pada zaman azali dan berakhirnya.

Kedua, Ruhnya. Hakikat nafas rahmani yang  terakses dari al-‘ain al-tsabit di atas. Ketiga, jasmaninya, yaitu bentuk dan posturnya secara fisik. Keempat, hakikat hati, ahadiyah jam’i rohaninya dan tabiatnya.

Terakhir akal, adalah kekuatan yang dengannya dapat mencermati berbagai hakikat dan merasionalkannya, mengetahui berbagai ilmu pengetahuan, baik secara global maupun detail.


Prof Dr Nasaruddin Umar
http://www.republika.co.id/

6 Bukti Shalat Tahajud itu Menyehatkan

Rasulullah SAW bersabda:
“Hendaklah kalian bangun malam. Sebab hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian. Wahana pendekatan diri kepada Allah SWT, penghapus dosa dan pengusir penyakit dari dalam tubuh”. (HR at-Tirmidzi).

Bisa dikatakan, shalat Tahajud adalah satu-satunya shalat sunah yang Allah firmankan di Alquran, yakni surat Al-Muzzammil ayat 1 sampai 20 terutama pada ayat 1 sampai 10. Kemudian Surat Al-Isra ayat 79. Sedangkan shalat sunah lainnya ‘hanya’ dianjurkan pada tataran hadits.

Apa sajakah bukti-bukti bahwa shalat Tahajud pada 1/3 malam terakhir itu menyehatkan, ini dia sedikit ulasannya:

1. Menyembuhkan Kanker
“Saya dulu pernah kena penyakit kanker kulit. Dokter sudah angkat tangan. Namun tahajud menyelamatkan saya. Tahun 1982 sampai 1987, setelah itu saya dinyatakan sembuh sama sekali,” ungkap Prof Dr Mohammad Sholeh, pengasuh Klinik Terapi Tahajud dan trainer salat khusyuk. Tahun 2000, beliau berhasil mempertahankan disertasi doktornya di jurusan Psikoneuroi munologi Unair mengenai shalat tahajud untuk sistem imun tubuh.

“Kalau orang itu mau shalat tahajud berlama-lama seperti Rasulullah SAW, dua rakaat saja semalam, nantinya akan ada metabolisme tubuh kita akan bercucuran keringat, bahkan di ruangan ber-AC sekalipun. Keluarnya keringat ini menyehatkan. Karena di dalam tubuh kita ada metabolisme kolesterol-kolesterol akan dibakar ATP/ADP sehingga menjadi energi yang merangsang kelenjar keringat untuk berkeringat. Jadi, kalau tidak berkeringat tidak banyak membawa dampak fisik. Kebanyakan orang shalat tahajud itu hanya sekadar memburu-buru pahala atau mengejar maqamam mahmuda dalam pengertian sempit,” paparnya lagi.

2. Meningkatkan Imunitas Tubuh
Dr. Abdul Hamid Diyab dan Dr. Ah Qurquz mengatakan, shalat malam dapat meningkatkan daya tahan (imunitas) tubuh terhadap berbagai penyakit yang menyerang jantung, otak dan organ-organ tubuh yang lain.

Karena orang yang bangun tidur malam hari, berarti menghentikan kebiasaan tidur dan ketenangan terlalu lama yang merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya penyumbatan pembuluh darah.

3. Menghindarkan Penyakit Punggung
Bangun malam dapat menjadikan tubuh bugar dan bersemangat, serta terhindar dari penyakit punggung pada usia tua. Dalam salah satu penelitian medis terbukti bahwa orang-orang yang terbiasa Shalat malam relatif lebih aman dari serangan penyakit pada tulang punggung dari pada orang-orang yang tidak shalat malam.

4. Pereda Stres
Shalat Tahajud memiliki kandungan aspek meditasi dan relaksasi yang cukup besar, dan memiliki pengaruh terhadap kejiwaan yang dapat digunakan sebagai strategi penanggulangan adaptif pereda stres. Stres punya pengaruh yang besar terhadap ketahanan tubuh seseorang. Dan stres, baik fisik maupun psikis menyebabkan terjadinya pengeluaran cairan tubuh (hormon) cukup banyak dan penguapan dari tubuh yang lebih cepat.

5. Menimbulkan Motivasi Positif
Shalat Tahajud yang dikerjakan dengan penuh kesungguhan, khusuk, tepat, ikhlas dan kontinyu diyakini dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif. Dan respons emosi positif (positive thinking) dapat menghindarkan reaksi stres.

6. Pikiran lebih terang dan khusyu
Sangatlah tepat jika Allah berkehendak agar Shalat Tahajud dikerjakan setelah tidur. Bukannya begadang, lalu diakhiri dengan shalat Tahajud.
Sabda Rasulullah: “…Shalat dan tidurlah karena sesungguhnya tubuhmu punya hak yang harus kau penuhi dan sesungguhnya matamu punya hak yang harus kau penuhi…” (HR. Al-Bukhari).

Tidur adalah keadaan istirahat alami pada berbagai makhluk hidup, termasuk manusia. Pada manusia, tidur adalah penting untuk kesehatan.

Dalam tidur normal biasanya fungsi saraf motorik dan saraf sensorik untuk kegiatan yang memerlukan koordinasi dengan sistem saraf pusat akan diblokade/dihambat, sehingga pada saat tidur cenderung untuk tidak bergerak dan daya tanggap berkurang.

Saat bangun tidur pasti pikiran kita lebih terang. Bayangkan dalam 1 hari, jantung kita berdetak 100.000 kali, darah kita mengalir melalui 17 juta mil arteri, urat darah halus/kapiler dan juga pembuluh vena.

Tanpa kita sadari rata-rata sehari kita berbicara 4.000 kata, bernafas sebanyak 20.000 kali, menggerakkan otot-otot besar sebanyak 750 kali dan mengoperasikan 14 miliar sel otak. Dan tidur adalah istirahat yang sangat baik menurut ilmu kesehatan, karena terjadi proses pemulihan sel tubuh, penambahan kekuatan dan otak kita kembali berfungsi dengan sangat baik.

Shalat Tahajud setelah tidur, tentu merangsang vitalitas pikiran dan tubuh.


sumber: http://ummi-online.com

Pentingnya Berwudhu Sebelum Pergi Ke Mesjid.


Jika Seorang muslim hendak melakukan sholat berjamaah di masjid, maka sangat-sangat dianjurkan untuk berwudhu terlebih dulu dari rumah atau dari tempat dia berada misalnya kantor. Karena banyak kebaikan-kebaikan yang didapat jika hal itu dilakukan. Kebaikan yang utama adalah disetiap langkahnya dia akan diampuni dosanya dan diangkat derajatnya. Alangkah mulianya mereka. Dan inilah pentingnya ilmu. Orang yang berilmu akan semakin mendapat pahala dan derajat yang tinggi jika mengetahui keutamaan-keutamaan yang kelihatan spele dan gampang sekali diabaikan oleh kebanyak muslim.

Perhatikan hadits Nabi SAW dari bukhari dan muslim berikut:   


صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ
Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya kemudian dia keluar menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.[H.R Bukhari & Muslim]”

Kesimpulan dari hadits ini penulis ringkas dari khayrah.com adalah sebagai berikut:

1. Berwudhu sebelum berangkat menuju masjid, pada kalimat "...bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya kemudian dia keluar menuju masjid," ini menujukkan bahwa wudhu yang dimaksud adalah wudhu sebelum keluar dari tempat tinggal/ berada sebelum menuju masjid, bearti wudhunya dilakukan ditempat dimana kita berada sebelum berangkat ke masjid dengan niat untuk shalat berjama'ah. 

2. Yang dimaksud dengan kalimat "...bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya" adalah melakukan wudhu dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan tuntunan wudhu yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu`alayhi wasallam.

3. Setiap langkah dalam perjalanan menuju masjid akan diberi ganjaran berupa ditinggikan derajat dan diampuni dosa. Dan menunggu shalat saat tiba di masjid sebelum shalat jama'ah dimulai akan senantiasa didoakan oleh malaikat. Ini adalah keutamaan yang sangat besar, apalagi jika langkahnya banyak karena jaraknya menuju masjid agak jauh. Rasulullah shalallahu`alayhi wasallam bersabda:

إِنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَبْعَدُهُمْ إِلَيْهَا مَمْشًى فَأَبْعَدُهُمْ وَالَّذِي يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الْإِمَامِ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ الَّذِي يُصَلِّيهَا ثُمَّ يَنَامُ

Manusia paling besar pahalanya dalam shalat adalah yang paling jauh perjalannya, lalu yang selanjutnya. Dan seseorang yang menunggu shalat hingga melakukannya bersama imam, lebih besar pahalanya daripada yang melakukannya (sendirian) kemudian tidur.” [HR. Muslim]

Jadi mari jadikan amalan berwudhu sebelum ke masjid ini menjadi kebiasaan, semoga menjadi ladang amal yang dapat meninggikan derajat kita disisiNya. Amiin


Shalat Perspektif Syariah, Tarekat, dan Hakikat (2)


Shalat berfungsi sebagai shilah karena sebagai media penyampaian sebuah pemberian yang dimohon sang pemohon.

Shalat berfungsi sebagai shaulah karena menjadi sarana penghubung antara Sang Mahakuasa dengan sang makhluk yang lemah.

Shalat berfungsi sebagai salwun karena sang hamba penyembah menyungkurkan diri kepada Zat Tuhannya Yang Mahamulia. Sedangkan du’aun ialah permohonan dari sang hamba yang butuh kepada Tuhan Sang Pemberi (al-Wahhab).

Wushlah (komunikasi)  antara Tuhan dengan hamba-Nya dapat terjadi dalam berbagai bentuk, antara lain, dengan cara penjelmaan, tanazul (turun), dan tadalli (pendekatan) sebagai rahmat, nikmat, kelembutan, karunia, pemuliaan, kebaikan, dan berbagai kemungkinan lainnya.

Shalawat Allah kepada hamba-Nya adalah dengannya (shalawat tersebut) menyampaikan hamba-Nya yang sempurna menuju kepada-Nya dan menjadikannya sebagai khalifah bagi-Nya kepada makhluk dan sebagai mushalliyan.

Artinya, mengikuti kebenaran (haq) yang diamanahkan (mustakhlaf fih) untuk ditampakkan berdasarkan bentuk-Nya dan penampakan sempurna dalam zat, sifat-sifat, asmaul husna, serta memeberitakan tentang-Nya.

Demikian juga, shilah (hubungan) Allah kepada hamba-Nya melalui penjelmaan khusus secara zat dan penjelmaan asma bagi berbagai hakikat pilihan dan ujian dan Ia memberinya (hamba) shaulah (koneksi) yang berasal dari kehendak dan kekuatan-Nya terhadap seluruh musuhnya. Inilah makna shalawat dalam pembahasan kita ini.


Prof Dr Nasaruddin Umar
http://www.republika.co.id/

Kosmologi Shalat (5)


Dalam hadis, sebagaimana dikutip dari Imam al-Gazali, disebutkan setelah malaikat mengungkit prestasi spiritual mereka, mereka “diusir” dari halaman Istana ‘Arasy, lalu turun ke miniatur ‘Arasy yang dipersiapkan Tuhan di Baitul Makmur.

Sesungguhnya manusia harus malu kepada makhluk makrokosmos karena ternyata manusia menggabungkan kedua sifat-sifat tercela dari iblis (istikbar) dan malaikat (‘alin).
Sinyalemen banyak ayat dalam Alquran dan dalam kenyataan manusia banyak berperilaku angkuh (istikbar) dan suka mengangkat diri tinggi-tinggi karena prestasi (‘alin).

Manusia harus banyak belajar tawadhu sebagai bekas sujud (atsar sujud) sebagaimana makhluk makrokosmos. Bahkan manusia menambahkan satu lagi sifat tercela, yaitu ambisi.
Hal ini tercermin di  dalam ayat, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh”. (QS al-Ahzab [33]:72).

Lebih khusus lagi manusia tidak boleh membanggakan diri dengan munculnya tanda-tanda hitam di jidat dengan klaim sebagai bekas sujud (atsar sujud) sebab tanda bekas sujud yang dimaksud di dalam Alquran ialah Simahum fi wujuhihim min atsar al-sujud, yaitu tanda bekas sujud tercermin pada keseluruhan wajah (wujuh, bentuk jamak dari kata wajhun), bukannya dikatakan simahum fi jabhatin min atsharis sujud.


Jidat dalam bahasa Arab ialah jabhatun. Sedangkan, penggunaan kata wajhun (wajah) dalam Alquran termasuk lafaz musytarak, yang memilki banyak makna.

Perbuatan dengan sengaja menghitamkan jidat boleh jadi perbuatan dosa karena merusak keindahan ciptaan Allah SWT. Lain halnya kalau tanda hitam itu muncul betul-betul alami karena bekas keseringan sujud maka tentu Allah SWT Maha Mengetahui.

Konsep atsar al-sujud lebih merupakan pantulan atau resonansi shalat di dalam perilaku sehari-hari di kelompok sosial manapun yang kita dikategorikan. Wallahu a’lam. 


Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
http://www.republika.co.id

Shalat Perspektif Syariah, Tarekat, dan Hakikat (1)

Sesuai dengan namanya, shalat berasal dari kata shala-yushla, kemudian membentuk kata shalla-shalah(t) yang berarti doa, zikir, dan ketaatan. 

Derivasi kata tersebut lahir kata wushlah (sambungan), shilah (hubungan), washl (tersambung), wishal (ketersambungan), shaulah (sambungan), dan shalaa (ketersambungan).

Shalawat Allah kepada hamba-Nya artinya menyampaikan ajakan kepada hamba-Nya yang utama untuk mendekati diri-Nya dan menjadikannya sebagai khalifah di jagat raya.

Hamba Tuhan tersebut disebut mushalliyan, yakni hamba yang mengikuti jalan kebenaran yang diamanahkan kepadanya (mustakhlaf fih). Hamba yang demikian ini menjadi wahana penampakan (madhhar) diri-Nya sebagaimana tergambar di dalam al-Asma’ al-Husna.

Shalawat Allah kepada hambanya dilukiskan dengan indah di dalam ayat, "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS al-Ahzab [33]:56).

Shalawat dapat disandarkan kepada hamba dari satu sisi dan pada sisi lain dapat pula dinisbahkan kepada Tuhan. Jika shalawat disandarkan kepada Tuhan (al-Haq) maka kalimat shalawat tersebut bermakna rahmat, kasih sayang, limpahan, kelembutan, kenikmatan, cinta,  belas kasih, kebaikan, ampunan, dan ridha.

Jika dinisbahkan kepada manusia maka shalawat bermakna doa, kepatuhan, ketenteraman, khusyuk, ketaatan kepada yang dicintai dan diridhainya. Kata shalawat mengimplikasikan makna kedekatan, keakraban, dan cinta-kasih antara kedua belah pihak, yakni subjek dan objek shalat.

Hubungan antara Allah dan hamba-Nya melalui hubungan khusus (shaulah) membuat hamba itu merasa tenteram, tenang, aman, damai, dan bahagia. Inilah yang yang dimaksud di dalam ayat, "Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha [20]:14). Dan, "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’d [13]:28).

Dengan demikian, shalat berfungsi sebagai wushlah karena menyambung antara dua bagian menjadi satu yang sebelumnya berpisah.


Prof Dr Nasaruddin Umar
http://www.republika.co.id/

Kesalahan Bacaan Sholat Terkait Baca Do’a Iftitah:

Doa iftitah adalah doa yang dibaca ketika setelah takbir ratul ikhram. Hukumnya Sunnah saja. Namun ada hal-hal yang perlu diketahui tentang tata cara pembacaan doa ini. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang akan membuat sholat tidak sempurna, perlu diketahui apa saja kesalahan terkait bacaan doa ini. Dikutip dari

1. Tidak membaca do’a iftitah padahal ada kesempatan untuk membacanya. Karena sikap ini berarti menyia-nyiakan sunah dalam shalat. Imam Syafi’i rahimahullah mencela sikap orang yang tidak meniru cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Makmum yang ketinggalan menyibukkan diri dengan membaca doa iftitah, padahal imam sudah mau rukuk.

Koreksi ini bukanlah saran agar do’a iftitah ini ditinggalkan total ketika menjadi makmum. Namun jika waktu yang dimiliki oleh makmum itu terbatas karena imam sebentar lagi mau rukuk maka sebaiknya makmum mendahulukan yang wajib dari pada yang sunah. Dan telah diketahui bersama bahwa do’a iftitah hukumnya sunah sedangkan membaca al fatihah hukumnya wajib. Oleh karena itu, selayaknya makmum yang ketinggalan dan imam sudah mau rukuk maka sebaiknya makmum tidak perlu membaca iftitah namun langsung membaca al fatihah. Dikisahkan bahwa Ibnul Jauzi pernah shalat dibelakang gurunya Abu Bakr Ad Dainuri. Ibnul Jauzi ketinggalan dan imam sudah mau rukuk. Tetapi Ibnul Jauzi malah sibuk membaca do’a iftitah. Ketika mengetahui hal ini, gurunya menasehatkan:

“Sesungguhnya ulama berselisih tentang wajibnya membaca surat al fatihah di belakang imam, namun mereka sepakat bahwa do’a iftitah adalah sunnah. Maka sibukkanlah dirimu dengan yang wajib dan tinggalkanlah yang sunah.” (Al Qoulul Mubin, dinukil dari Talbis Iblis).

3. Imam membaca do’a iftitah terlalu panjang. Yang lebih tepat adalah selayaknya imam memilih doa iftitah yang pendek.

4. Memilih do’a iftitah satu saja dan meninggalkan do’a yang lain. Kemudian do’a yang dipilih tersebut dibaca dalam semua shalat dari sejak SD sampai tua. Kesalahan ini memberikan dampak buruk sebagai berikut:
  • Sunah adanya bacaan iftitah yang lain menjadi hilang dan tidak lestari. Karena ketika banyak orang meninggalkannya maka orang akan menganggap itu bukan ajaran Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Munculnya sikap fanatisme golongan. Sebagimana yang terjadi di tempat kita. Orang yang iftitahnya: Allaahumma baa’id bainii… dianggap golongan A, sedangkan yang iftitahnya: Allaahu akbar kabiiraa …dianggap golongan B. Ini adalah musibah yang menimpa kaum muslimin indonesia. Kita ucapkan innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.
  • Orang yang shalat menjadi kurang bisa khusyu’. Karena orang yang hafal satu bacaan iftitah saja maka setiap memulai shalat secara otomatis dia akan membaca do’a tersebut tanpa merenungkan terlebih dahulu. Berbeda dengan orang yang hafal beberapa macam do’a iftitah, maka sebelum membaca dia akan merenungkan terlebih dahulu do’a apa yang harus dia baca.




Cara Menentukan arah kiblat


Menghadap kiblat dalam shalat adalah syarat sah shalat. Para ulama telah sepakat akan masalah ini. Kewajiban menghadap kiblat ini adalah berdasarkan al-Qur’an, al-Sunnah dan ijma. Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah menegaskan bahwa tidak ada perselisihan pendapat dalam kewajiban menghadap kiblat

Jika anda hidup di wilayah indonesia dan sekitarnya, pergeseran arah kiblat sebesar 1 derajat saja bisa melencengkan arah sekitar 100 km dari titik Ka’bah. Semakin jauh kita dari Ka’bah lencengan arah ini akan semakin besar. Jadi, sangat dianjurkan untuk setepat mungkin menentukan arah kiblat ini, baik bagi masjid dan mushola maupun ketika kita sholat di rumah atau kantor.

Untungnya menentukan arah kiblat bisa dengan berbagai cara. Disini penulis berikan du acara.

Pertama dengan melihat pergerakan arah matahari. Cara ini bahkan bisa lebih teliti dibandingkan dengan menggunakan kompas yang sangat mudah terpengaruh dengan medan magnet di sekitarnya.

Dalam satu tahun masehi, matahari berada tepat di atas Ka’bah sebanyak dua kali setahun yaitu  pada tanggal 28 Mei (atau 27 di tahun kabisat) pukul 12:18 waktu Mekah dan 16 Juli (atau 15 di tahun kabisat) pukul 12:27. Bagi yang di Indonesia, waktu kejadian tersebut adalah 28 Mei jam 16:18 WIB dan 16 Juli jam 16:27 WIB. Caranya dengan melihat bayangan benda yang tegak lurus di atas tanah, maka bayangan tersebut akan membentuk garis arah kiblat.

Jadi, bagi yang ingin mengecek atau melihat benar tidaknya arah kiblat yang digunakan selama ini silakan keluar pada waktu tersebut dan lihat matahari (atau bayangannya).

Kedua dengan menggunakan program-program kompas arah kiblat. Program-program ini banyak tersedia di plystore. Jika Anda memiliki HP berbasis android, Anda bisa mengunduhnya dari plystore. Selamat mencoba

referensi:
Image: play.google.com



Kosmologi Shalat (4)


Manusia diberi berbagai keistimewaan oleh Sang Pencipta, Allah SWT, seperti satu-satunya makhluk yang  diciptakan langsung oleh kedua tangan Tuhan (khalaqtu bi yadayya) (QS Shad [38]: 75), makhluk-makhluk lain termasuk malaikat hanya diciptakan dengan satu tangan Tuhan (khalaqtu bi yadi).

Hanya kepada manusia berlaku konsep taskhir, yaitu penundukan segenap alam semesta kepadanya (wa sakhkhara lakum ma fis samawati wa ma fil ardli jami’an) (QS at-Jatsiyah [45]: 13).

Alquran menegaskan manusia makhluk paling sempurna di antara seluruh makhluk (laqad khalaqnal insan fi ahsani taqwim (QS at-Tin [95]: 4).
Namun demikian, keutamaan-keutamaan itu hendaknya tidak membuat manusia lupa diri dan semena-mena tanpa batas mengeksploitasi alam semesta di luar ambang batas daya dukungnya karena alam semesta paling taat dan paling ikhlas di dalam mendirikan shalat.

Makhluk makrokosmos tidak pernah mengusik pengabdian kepada Tuhannya dengan membanggakan diri  (istikbar), dengan mengunggulkan asal usul kejadiannya, sebagaimana dilakukan iblis.
“Hai iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu  menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS Shad [38]:74).

Makhluk makrokosmos juga tidak pernah mengangkat diri tinggi-tinggi (‘alin), dengan mengunggulkan prestasi spiritualnya, sebagaimana dilakukan Malaikat. “(Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman  kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’

Mereka berkata, ‘Apakah Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?’  Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 30).

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
http://www.republika.co.id