Hikmah Sholat

Buah dan hikmah sholat adalah dapat menghibur hati dan membuat wajah berseri-seri.

Berdoalah Kepada Allah

Allah memerintahkan kepada hambanya untuk mengembalikan segala keluh kesah kepadaNya meminta tolong dengan sholat, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Manfaat Sujud dalam Sholat

Memperkuat saraf mata, saraf hidung, saraf telinga, saraf leher, saraf otak atau kepala. Memperkuat lutut, Memperkuat saraf pada kaki dan memperkuat organ-organ dalam tubuh, jantung, hati, pancreas, dan sebagainya.

Bacaan Ketika Sujud dan Hukumnya


Hukum Membaca Bacaan Sujud

a. Jumhur Ulama : Sunnah
Jumhur ulama diantaranya para ulama dari mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah menyebutkan bahwa lafadz-lafadz yang dibaca saat sujud berupa takbir, tasbih dan doa hukumnya sunnah dan bukan wajib.

Apabila sama sekali tidak dibaca dan ditinggalkan baik secara sengaja atau tidak sengaja, sama sekali tidak merusak shalat. Shalatnya tetap sah tanpa membaca apapun pada saat sujud.

Dasarnya adalah hadits Nabi SAW tentang bagaimana beliau mengajarkan orang yang shalatnya buruk, dimana beliau mengajarkan tata cara sujud tanpa menyebutkan harus membaca sesuatu. Seandainya bacaan saat sujud itu wajib hukumnya, pastilah beliau SAW mengajarkan kepada orang tersebut.

b. Al-Hanabilah : Wajib
Sedangkan dalam pandangan mazhab Al-Hanabilah, membaca lafadz sujud ini hukumnya wajib. Apabila seseorang secara sengaja meninggalkannya, maka dia batal shalatnya. Namun bila meninggalkannya karena lupa, shalatnya masih sah. Namun disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi.

Dasarnya menurut mereka bahwa Rasulullah SAW mengerjakannya dan memerintahkan kita untuk mengerjakannya.

Anjuran Membaca Tasbih Saat Sujud
a. Al-Quran
Dasar perintah untuk membaca tasbih ketika sujud adalah ayat Al-Quran berikut ini :
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكِ الأَْعْلَى
Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (QS. Al-A'la : 1)

b. As-Sunnah
Di dalam hadits Rasulullah SAW telah bersabda :
لَمَّا نَزَلَتْ فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ قَال رَسُول اللَّه  اجْعَلُوهَا فِي رُكُوعِكُمْ. فَلَمَّا نَزَلَتْ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكِ الأَْعْلَى قَال: اجْعَلُوهَا فِي سُجُودِكُمْ
Dari Uqbah bin Amir bahwa ketika turun ayat (fasabbih bismirabbikal'adzhim), Rasulullah SAW bersabda, "Jadikanlah lafadz ini sebagai bacaan dalam rukukmu". Dan ketika turun ayat (sabbihismarabbikal 'ala), Rasulullah SAW memerintahkan,"Jadikanlah lafadz ini bacaan di dalam sujudmu". (HR. Abu Daud)

Maka para ulama umumnya sepakat mengatakan bahwa lafadz tasbih yang dibaca dalam sujud adalah :
سبحان ربي الأعلى
Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi

Banyaknya Bacaan Dalam Sujud
Dalam hal berapa kali dibaca lafadz tasbih ini, para ulama berbeda pendapat.

a. Mazhab Al-Hanafiyah
Mazhab Al-Hanafiyah mensyaratkan bahwa minimal membaca tasbih di dalam sujud itu tiga kali. Apabila kurang dari tiga kali, hukumnya makruh tanzih.
Apabila shalat sendirian, akan menjadi lebih utama bila dibaca lebih dari tiga kali. Sedangkan bila sedang menjadi imam dalam shalat fardhu lima waktu, jangan lebih dari tiga kali, agar orang-orang yang shalat di belakangnya tidak merasa terlalu lama.

b. Mazhab Al-Malikiyah
Mazhab Al-Malikiyah menyebutkan bahwa tasbih dalam sujud hukumnya sunnah dengan lafadz apapun. Tapi yang paling utama adalah lafadz subhana rabbiyal a'la wabihamdih. Bila diulang-ulang maka pahalanya lebih banyak lagi.
Namun imam dalam shalat fardhu lima waktu tidak dianjurkan mengulang-ulangnya karena khawatir memberatkan para makmum.

c. Mazhab Asy-Syafi'iyah
Mazhab Asy-Syafi'iyah memandang bahwa asalnya tasbih dalam sujud itu cukup sekali saja, minimal membaca subhanallah, atau subhanarabbi. Sedangkan bila mau yang sempurna adalah bacaan subhana rabbiyal a'la wabihamdih yang dibaca minimal tiga kali. Bila dibaca lima kali, tujuh kali, sembilan kali dan sebelas kali, maka akan semakin sempurna.

Namun sebagaimana mazhab lain, mazhab Asy-syafi'i melarang imam shalat fardhu untuk membaca lebih dari tiga kali, sebagai perlindungan bagi makmum.

d. Mazhab Al-Hanabilah
Sudah disebutkan di atas bahwa mazhab Al-Hanabilah mewajibkan bacaan sujud. Dan bacaan itu minimal adalah subhana rabbiyal a'la, dan minimal sekali dibaca, tanpa tambahan wabihamdih.

http://www.rumahfiqih.com

Langkah Kaki Menuju Mesjid Dapat Meninggikan Derajat Dan Menghapus Dosa


Dari abdullah bin mas'ud radiyallahu anhu'.bahwasanya dia bercerita :

" tidaklah seorang bersuci lalu dia melakukannya dengan sebaik-baiknya kemudian berangkat ke salah satu dari masjid-masjid yg ada,melainkan Allah akan menetapkan baginya bahwa setiap langkah yg diayunkannya mendapat satu kebaikan.Dengannya pula dia akan meninggikan satu derajat dan menghapuskan darinya satu keburukan... (shahih : HR Muslim (654)

Abu hurairah radiyallahu 'anhu berkata:  Rasulullah  SAW bersabda :
" shalat seorang laki-laki dengan berjamaah di banding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama(di lipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat.yang demikian itu karena bila dia berwudhu dengan menyempurnakan wudhunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid,dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjamaah,maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan di tinggikan satu derajat,dan akan di hapuskan satu kesalahannya,Apabila dia melaksanakan sholat ,maka malaikat akan turun untuk mendoakannya selama dia masih di tempat sholatnya, 'ya Allah ampunilah dia,Ya Allah rahmatilah dia' dan seseorang dari kalian senantiasa di hitung dalam keadaan sholat selama dia menanti pelaksanaan sholat " (Muttafaqun alaihi : HR al -Bukhari (647) dan Muslim (649).

Dari Abu Hurairah radiyallahu'anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda :
"barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berjalan ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah ( masjid) untuk menunaikan salah satu dari kewajiban-kewajiban yg Allah wajibkan,maka kedua langkahnya salah satunya akan menghapus dosa dan langkah yg lainnya akan mengangkat derajat" ( HR : Muslim (1553))

Imam qurthubi rahimahullah mengatakan : Ad dawudu mengemukakan : jika dia memiliki beberapa dosa,akan di hapuskan dengannya dan jika tidak punya,dengannya dia akan di tinggikan beberapa drajat" Dapat saya katakan : Hal ini menuntut bahwa yg di hasilkan dari satu langkah adalah satu derajat ,baik di hapuskan dosanya maupun di tinggikan derajatnya" yang lainnya mengatakan : yang di hasilkan dari satu langkah itu ada tiga hal,yang demikian itu di dasarkan pada sabda beliau dalam hadits lain :

"Allah telah menetapkan kebaikan baginya dari setiap langkahnya.dengannya dia akan meninggikannya satu derajat dan menghapuskan darinya satu kebaikan' (lihat Al-Mafhum limaa asykala min talkhishi kitaab muslim oleh Qurthubi ( III/290)

Sumber: http://irsanbakri.blogspot.co.id

Hal-Hal Makruh Dalam Sholat (2)


Melaksanakan sholat saat makanan sudah dihidangkan
Dari Aisyah ra, dari Nabi SAW, beliau pernah bersabda,”Jika makan malam sudah dihidangkan lalu iqamah shalat juga sudah dikumandangkan, maka mulailah dengan makan malam”

Menahan buang air kecil dan buang air besar dalam sholat
Dari Aisyah ra, dia bercerita, “ Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Tidak ada  sholat dihadapan makanan dan tidak juga pada saat ada desakan ingin buah air kecil dan buang air besar”

Meludah ke muka atau ke sebelah kanan pada saat sholat
Hadits dari Anas ra, dia bercerita, Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian berdiri dalam sholatnya maka sesungguhnya dia tengah bermunajad kepada Rabnya, sesungguhnya Rabnya berada diantara dirinya dan kiblat. Oleh karena itu janganlah salah seorang diantara kalian meludah kearah kiblatnya, tetapi hendaknya dia meludah kesebelah kiri atau dibawah kakinya.”

Melipat rambut atau pakaian saaat sholat
Hadits Ibnu Abbas ra, Dari Nabi SAW, beliau bersabda “ Aku diperintah untuk bersujud di atas tujuh tulang dan tidak melipat pakaian dan rambut”

Menutup mulut dan as-sadl dalam sholat
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW melarang as-sadl dan melarang seseorang menutup mulutnya dalam sholat.

Mengkhususkan satu tempat tertentu di mesjid untuk mengerjakan sholat secara terus menerus tanpa imam
Dari Abdul Hamid bin Salamah dari ayahnya bahwa Rasulullah SAW melarang patokan burung gagak, deruman binatang buas, serta melarang seseorang menentukan tempat tertentu di dalam sholat sebagaimana unta menempati suatu tempat tertentu”

Bersandar pada kedua tangan pada saat duduk dalam sholat
Dari Ibnu Umar ra, dia bercerita, “Rasulullah SAW melarag seseorang duduk di dalam sholat sedang dia bersandar pada kedua tanganya”

Menguap dalam sholat
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah bersabda,”menguap itu dari syetan. Oleh karena itu, jika salah seorang diantara kalian menguap, hendaklah ia menutup mulutnya semampunya .”

Dan dalam sebuah lafaz disebutkan,” Jika salah seorang di antara kalian menguap di dalam sholat, hendaklah ia menahan semampunya karena syetan bisa masuk” (HR Muslim)

Sholat di mesjid bagi orang yang memakan bawang merah, bawang putih atau daun bawang
Hadits Jabir bin Abdillah ra, bahwa Rasullullah SAW bersabda,” Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah maka hendaklah dia menjauh dari kami atau menjauhi mesjid kami dan hendaklah dia diam di rumahnya saja”

Mengerjakan sholat sunnah pada saat diliputi rasa kantuk
Dari Aisyah ra, Nabi bersabda,”Jika salah seorang diantara kalian mengantuk saat sholat, hendaklah ia berbaring hingga kantuknya hilang. Sebab jika salah seorang diantara kalian sholat sedang dia dalam keadaan mengantuk, bisa jadi dia bermaksud memohon ampunan malah justru memaki dirinya sendiri”


Sumber:  Buku “Panduan Shalat Lengkap” karya Dr.Sa’id bin Ali Wahaf al-Wahthani 

Hal-Hal Makruh Dalam Sholat (1)


Makruh adalah suatu perkara yang dianjurkan untuk tidak dilakukan akan tetapi jika dilakukan tidak berdosa dan jika ditinggalkan akan mendapat pahala dari Allah SWT.
Berikut adalah hal-hal makruh dalam sholat:

Menoleh bukan untuk suatu hal yang diperlukan
Aisyah ra bercerita bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai menoleh dalam sholat, Beliau menjawab “ Hal itu merupakan rampasan yang dirampas oleh setan dari shalat seorang diantara kalaian (HR. Muslim)

Mengangkat pandangan ke langit
Dari Anas ra. Dia bercerita , Rasulullah SAW bersabda, ”Mengapa orang-orang itu mengangkat kepala mereka ke langit dalam sholat mereka? Kemudian sabda beliau semakin keras sehingga beliau bersabda, “Hendaklah mereka menghentikan hal tersebut atau pandangan mereka akan disambar” (HR Bukhari)

Meletakkan kedua lengan di lantai saat bersujud
Hal itu didasarkan pada Hadits Anas ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda,”Beritidal (lurus) lah dalam sujud dan janganlah salah seorang dari kalian meletakkan kedua lengannya seperti yang dilakukan oleh anjing (Muttafaqun ‘alaih)

Bertolak pinggang
Dari Abu Hurairah ra, dia bercerita” Rasulullah SAW melarang seseorang mengerjakan sholat dengan bertolak pinggang”

Melihat hal-hal yang dapat melengahkan dan melalaikan
Dari Aisyah ra mengatakan bahwa Nabi SAW pernah mengerjakan shoalat dengan kain yang bergambar, Belia SAW melihatnya sekilas. Ketika berpaling Beliau SAW bersabda.’Bawa pergi kainku ini kepada Abu Jaham, dan bawakanlah kepadaku kain tebal tanpa tanda (gambar), karena kain itu telah melalaikan sholatku”

Menggerakkan anggota tubuh atau merubah posisi dalam sholat tanpa adanya kebutuhan untuk itu
Dari Mu’aikib ra, bahwa Nabi SAW pernah bersabda tentang seseorang yang meratakan/menyeka debu dalam sujud , maka beliau bersabda, “Jika engkau harus melakukannya, maka cukup sekali saja”

Menjalin jari-jemari dan membunyikannya dalam sholat

Dari Ka’ab bin Ujrah, Rasulullah SAW bersabda” Jika salah seorang dari kalian berwudhu’ lalu dia melakukan dengan baik, kemudian berangkat dengan sengaja menuju mesjid , maka hendaklah dia tidak menjalin jari-jemarinya, karena dia dalam keadaan sholat”

Sumber:  Buku “Panduan Shalat Lengkap” karya Dr.Sa’id bin Ali Wahaf al-Wahthani 

Hukum Isbal


Isbal artinya mengulurkan sesuatu (sarung, celana, jubah, dll) dari atas sampai ke bawah melampaui mata kaki. (Rawwas Qal’ahjie, Mu’jam Lughah Al Fuqoha`, hlm. 139; Sa’di Abu Jaib, Al Qamus Al Fiqhi, hlm. 111).

Hukum isbal bagi laki-laki dirinci sebagai berikut, Pertama, isbal karena sombong, hukumnya haram. Dalilnya hadis Ibnu Umar RA, dia berkata,”Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ جَرَ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang mengulurkan bajunya [melampaui mata kaki] karena sombong maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada Hari Kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim). Imam Syaukani mengatakan hadis ini menunjukkan haramnya isbal karena sombong (khuyala`). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 328).

Kedua, isbal bukan karena sombong, hukumnya tidak haram, tapi makruh. Ini pendapat jumhur ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. (Nashir bin Muhammad bin Misyri Al Ghamidi; Libasur Rajul Ahkamuhu wa Dhawabithuhu, Juz I hlm. 703).

Dalil tidak haramnya isbal jika bukan karena sombong, adalah mafhum mukhalafah (makna tersirat yang berkebalikan dari makna yang tersurat) dari hadis Ibnu Umar RA di atas. Imam Syaukani menjelaskan kata khuyala` (sombong) dalam hadis tersebut merupakan taqyid (batasan). Maka mafhum mukhalafah-nya adalah ‘siapa pun yang mengulurkan bajunya [melampaui mata kaki] bukan karena sombong, berarti tidak terkena ancaman dalam hadis itu’. Imam Syaukani –rahimahullah– menyatakan :

و ظاهر التقييد بقوله خيلاء يدل بمفهومه أن جر الثوب لغير الخيلاء لا يكون داخلا في هذا الوعيد

 “Zhahirnya taqyiid (batasan) dengan sabda Nabi SAW “khuyala`” (karena sombong), mafhum mukhalafahnya menunjukkan bahwa mengulurkan baju bagi orang yang tidak sombong tidaklah termasuk dalam ancaman ini.” (Imam Syaukani, Nailul Authar, Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000, hlm. 328).

Selain mafhum mukhalafah ini, terdapat manthuq (makna tersurat) dari nash yang tak mengharamkan isbal jika bukan karena sombong. Dari Ibnu Umar RA, dia berkata,”Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ جَرَ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَقَالَ أَبُوْ بَكْرٍ إِنَ أَحَدَ شِقَيْ إِزَارِيْ يَسْتَرْخِيْ إِلاَ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ، فَقَالَ إِنَكَ لَسْتَ مِمَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ

 “Barangsiapa mengulurkan bajunya [melampaui mata kaki] karena sombong, maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada Hari Kiamat.’ Abu Bakar kemudian berkata,’Sesungguhnya salah satu ujung sarungku selalu terulur [melampaui mata kaki] kecuali aku sengaja mengikatnya.’ Maka Rasululullah SAW bersabda,’Sesungguhnya engkau tak termasuk orang yang mengerjakan perbuatan itu karena sombong.” (HR Bukhari, Abu Dawud, dan Nasa`i). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 327; Imam Shan’ani, Subulus Salam, 4/158).

Hadis ini menunjukkan isbal bukan karena sombong tidak haram. Namun tidak haram bukan berarti hukumnya mubah, melainkan makruh. Sebab terdapat nash-nash yang melarang isbal secara mutlak, baik karena sombong maupun tidak. Dari Jabir bin Sulaim RA, Nabi SAW pernah bersabda :

وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلىَ نِصْفِ السَاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلىَ الْكَعْبَيْنِ وَإِيَاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ فَإِنَهَا مِنَ الْمَخِيْلَةِ وَإِنَ اللهَ لاَ يُحِبُ الْمَخِيْلَةِ

”Angkatlah sarungmu hingga pertengahan betis. Kalau kamu enggan, angkatlah hingga ke mata kaki. Hindarkan dirimu dari isbal pada sarung, karena isbal itu merupakan kesombongan, dan sesungguhnya Allah tidak menyukai kesombongan.” (HR Abu Dawud, Nasa`i, dan Tirmidzi). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 328).

Hadis ini menunjukkan larangan isbal secara mutlak, baik karena sombong maupun tidak. Maka isbal tidak karena sombong pun, tetap terkena larangan mutlak ini. Namun demikian, isbal yang bukan karena sombong hukumnya makruh, bukan haram. Karena terdapat qarinah yang masih membolehkan isbal asalkan tidak sombong, yaitu hadis Ibnu Umar tentang kisah Abu Bakar di atas. Jadi, isbal yang bukan karena sombong hukumnya makruh. Imam Syaukani menukilkan pendapat Imam Nawawi sebagai berikut :

قال النووي إنه مكروه وهذَا نص الشافعي قال البويطي في مختصره عن الشافعي لا يجوز السدل في الصلاة ولا في غيرها للخيلاء ولغيرها خفيف لقول النبي صلى الله عليه وسلم لأبي بكر، انتهى

“Imam Nawawi berkata,’Sesungguhnya hal itu [isbal bukan karena sombong] adalah makruh, dan inilah nash dari Imam Syafi’i. Imam Al Buwaithi telah mengatakan dalam kitab Mukhtashar-nya dari Imam Syafi’i bahwa tidak boleh isbal baik dalam sholat maupun di luar sholat bagi orang yang sombong. Adapun orang yang tidak sombong maka ada keringanan berdasarkan sabda Nabi SAW kepada Abu Bakar. Selesai kutipan.” (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 328).

Memang ada sebagian ulama yang mengharamkan isbal secara mutlak, yakni isbal karena sombong maupun tidak, seperti Qadhi ‘Iyadh, Imam Ibnul ‘Arabi, dan Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani. Namun Imam Syaukani menolak pendapat ini. Karena pendapat ini berarti tak mengamalkan hadis muqayyad (yang mengandung taqyid/batasan), yakni kata khuyala` (sombong) dalam hadis Bukhari tersebut. Padahal hadis yang mutlak (yaitu hadits Jabir bin Sulaim RA di atas) maupun yang muqayyad seharusnya diamalkan semua, dengan mengkompromikan nash mutlak dan nash muqayyad, sesuai kaidah ushul fiqih : yuhmal al muthlaq ‘ala al muqayyad wajib (membawa nash yang mutlak kepada nash yang muqayyad adalah wajib). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 328; ‘Amir bin Isa Al Lahwu, Manhaj Al Imam Al Syaukani fi Daf’i Al Ta’arudh Baina Al Adillah Al Syar’iyah, hlm. 14).

Kesimpulannya, isbal karena sombong hukumnya haram. Jika bukan karena sombong, hukumnya tidak haram, tapi makruh. Inilah hukum syara’ tentang isbal yang kami rajihkan. Wallahu a’lam. (Ustadz Siddiq Aljawi).

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id 



Apakah Hukum Berbicara Saat Wudhu?


Apakah berbicara saat wudhu itu hukumnya makruh?

Jawabanya, Tidak.

Berbicara saat wudhu tidaklah makruh. Hanya saja, sebenarnya hal itu menyibukkan seorang dari aktifitas wudhunya. Karena seorang ketika sedang berwudhu, seyogyanya menghadirkan perasaan ibadah; saat ia membasuh wajahnya, mencuci kedua tangan, mengusap kepala, dan kedua kakinya, hendaknya ia menghadirkan niat dalam hatinya.

Karena jika ia mengobrol, perasaan menghadirkan niat ini terputus, dan bisa mengganggu aktifitas wudhunya. Tidak menutup kemungkinan, akan datang perasaan was-was disebabkan obrolan itu.

Maka yang lebih utama, tidak berbicara sampai wudhunya selesai. Tapi kalaupun mengobrol, itu tidak mengapa.

Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb. Serial kaset nomor 344. Bab Thoharoh: Ma Yusannu Lahul Wudhu  (Hal-hal yang disunahkan saat wudhu).


By Ahmad Anshori di muslim.or.id

HINDARKAN Tanda Hitam di Jidat Karena Sujud


Perbanyaklah sujud (dengan shalat) namun jagalah wajahmu supaya tetap tampak TAMPAN dan HINDARKAN munculnya tanda hitam di dahi atau jidatmu karena dikhawatirkan timbul Riya'....

Abdullah bin Umar bin Khattab RA. salah seorang shahabat terkemuka membenci adanya bekas hitam di dahi seorang muslim.

عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟

Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.

Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!”(Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).

عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.

Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).

عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.

Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).

عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.

Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari ATSARIS SUJUUD (bekas sujud)’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapalen’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapalen’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).

Bahkan dalam kitab Hasiyah as-Showi,
وليس المراد به ما بصنعه بعض الجهلة المرائين من العلامة في الجبهة فانه من فعل الخوارج وفي الحديث اني لابغض الرجل واكرهه اذا رايت بين عينيه اثر السجود

“Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan TUKANG RIYA’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bid’ah)” dalam sebuah hadits disebutkan sungguh saya benci seseorang yang saya lihat diantara kedua matanya terdapat bekas sujud (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).

Semoga kita selalu dapat menjagai diri kita dari tanda Riya', Aamiin...


Dikuti dari blog: http://satoetoedjoehdelapan.blogspot.com

Khilafiyah dalam Mengeraskan Bacaan Basmalah Dalam Sholat

Pernahkah Anda temui ketika berjamaah ada imam yang mengeraskan bacaan basmallah sebelum membaca alfatihah dan ada juga imam yang seolah-olah langsung membaca hamdallah? Memang itulah perbedaan khilafiyah diantara ulama. Dan masalah fikih ini penulis merefress tulisan dan bahasan dari ustad Ahmad Sarwat, Lc yang pernah tayang di  rumahfiqih.com sebagai berikut:

Ada yang mengatakan bahwa bacaan basmalah itu harus dibaca keras, persis seperti yang kebanyakan dibaca di negeri kita oleh para imam shalat.

Tapi ada juga yang mengatakan tidak perlu dibaca keras, cukup dibaca lirih saja. Bahkan ada juga yang sama sekali tidak membaca, karena basmalah itu dianggapnya bukan bagian surat Al-Fatihah.

Mengapa kok bisa khilafiyah? Memangnya tidak ada hadits?

Jawabnya bisa saja. Sedangkan hadits juga ada. Tapi masalahnya hadits-hadits yang ada malah saling bertentangan. Karena itulah para ulama yang membaca hadits-hadits yang bertentangan itu juga akhirnya ikut-ikutan juga bertentangan.

Di antara hadits-hadits yang bertentangan itu antara lain:

Dari Aisyah ra berkata, "Nabi SAW memulai sholat dengan takbir dan (memulai) bacaan dengan Alhamdulillahi rabbil 'alamin.(HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas bin Malik ra berkata bahwasanya Nabi SAW dan Abu Bakar dan Umar, mereka memulai shalat dengan Alhamdulillahi rabbil 'alamin." (HR Bukhari-Muslim)

Juga ada hadits lainnya yang justru menerangkan sebaliknya, yaitu yang benar justru yang mengeraskan bacaan basmalah. Misalnya hadits ini:

Dari Nuaim berkata, “Aku melaksanakan salat di belakang Abu Hurairah. Ia membaca bismillahirrahmanirrahim lalu membaca ummul quran (al-Fatihah). Di akhir hadits tersebut ia berkata, ‘Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya salatku paling mirip dengan yang dilakukan oleh Rasulullah saw.’”(HR al-Nasa’I, Ibn Khuzaymah, dan Ibn Hibban)

Menurut al-Hafidz Ibn Hajar, “Ini adalah riwayat yang paling valid yang berbicara tentang basmalah.”

Karena tiap ulama yang mujtahid itu ternyata punya dalil masing-masing yang sama-sama kuat tentang hukum mengeraskan bacaan basmalah dalam shalat. Dan karena dalil masing-masing cukup kuat, akhirnya sulit untuk mendapatkan kata akhir yang mutlak.
Maka kita sebut masalah ini khilafiyah. Mungkin buat sebagian saudara kita yang sejak belajar Islam tidak diperkenalkan dengan isitlah khilafiyah, agak terasa aneh. Mungkin dalam hati mereka bertanya, "Sedikit sedikit khilafiyah, sedikit sedikit khilafiyah... khilafiyah kok cuma sedikit?"

Khilafiyah dalam Mengeraskan Bacaan Basmalah

1. Mazhab As-Syafi'i
Menurut mazhab As-Syafi`iyah, lafaz basmalah (bismillahirrahmanirrahim) adalah bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga wajib dibaca dengan jahr (dikeraskan) oleh imam shalat dalam shalat jahriyah. Dalilnya adalah hadits berikut ini:

Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan isnad yang shahih dari Ummi Salamah.

Dan dalam kitab Al-Majmu` ada 6 orang shahabat yang meriwayatkan hadits tentang basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah. (lihat kitab Al-Majmu` jilid 3 halaman 302)

2. Mazhab Al-Malikiyah
Sedangkan pandangan mazhab Al-Malikiyah, basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga tidak boleh dibaca dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Dan juga baik dalam shaalt jahriyah maupun sirriyah.

3. Mazhab Al-Hanabilah
Sedangkan dalam pandangan Al-Hanabilah, basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, namun tidak dibaca secara keras (jahr), cukup dibaca pelan saja (sirr).

Bila anda perhatikan imam masjidil al-haram di Makkah, tidak terdengar membaca basmalah, namun mereka membacanya umumnya orang-orang di sana bermazhab Hanbali.

Demikianlah perbedaan pandangan tiga mazhab yang mewakili tentang hukum mengeraskan bacaan basmalah dalam shalat. Tentu masing-masing yakin dengan kebenaran pandangannya. Dan boleh jadi anda termasuk yang memilih salah satunya.
Dan mungkin saja pilihan anda itu tidak sama dengan pilihan teman anda sendiri. Lalu apakah kita harus memerangi teman anda yang memiliki pandangan tidak sama dengan pandangan kita?

Tentu saja tidak, bukan?

Kewajiban kita adalah menghormati dan memberikan toleransi atas perbedaan pendapat itu. Kita boleh saja berpegang tegus atas apa yang kita yakini kebenarannya. Tapi bukan berarti keyakinan itu membolehkan kita menzalimi saudara kita sendiri.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Tata Cara Ruku Dan Bacaan Ketika Ruku’ Dalam Sholat


A. Tata cara ruku’

1.    Bertakbir ketika akan ruku’
Bertakbir ketika akan ruku’ sudah menjadi kesepakatan ulama, tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.  Hal ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Mas’ud a, ia berkata : “Aku melihat Rasulullah n bertakbir setiap kali bangkit, sujud, berdiri dan duduk.” (HR. Ahmad, Nasa’I dan at Tirmidzi)
Yakni takbir dengan diiringi mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan kedua pundak atau kedua telinga, dengan menjadikan kepala sejajar dengan punggung tangan.

2.    Memegang kedua lutut dengan kedua tangan dan merenggangkan jari-jemari.
 Hal ini berdasarkan hadits :  ”Jika engkau ruku letakkanlah kedua tangAnmu di atas lututumu. Kemudian renggangkanlah jari-jarimu sampai tulang belakangmu menjadi mapan ditempatnya.” (HR Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban).
Juga diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad a, ia berkata : “ Aku pernah sholat disamping ayahku (kemudian ruku’) dengan meletakkan tangan dipaha dengan jari-jemari merapat.  Lantas ayahku melarang dari hal itu, ia berkata, “Kami diperintahkan untuk meletakan tangan dilutut (dikala ruku’) (HR. Ahmad)

3.    Meluruskan punggung di saat ruku’
Diantara sifat ruku’ Nabi n di dalam sholat adalah beliau menegakkan punggungnya, dan menyeimbangkan kepala, yakni tidak menunduk dan juga tidak mendongak. Sebagaimana keterangan dari ummul mukminin Aisyah yang mengatakan : “Beliau ketika ruku’ tidak mengangangkat atau menundukkan kepala, tetapi seimbang diantara keduanya.” (HR. Muslim)

Tentang sifat punggung Rasulullah n yang lurus dalam ruku’nya, disifati oleh sayidina Ali, “ Adalah Rasulullah n ketika ruku’ seandainya diletakkan gelas yang berisi air, niscaya tidak akan tumpah.” (HR. Ahmad)
Hal ini dikarenakan lurusnya punggung dan tenangnya beliau dalam ruku.

4.    Tuma’ninah dalam ruku’
Rasulullah n bersabda : “Sejelek-jeleknya pencuri ialah orang yang mencuri dari shalatnya”.Mereka bertanya: “Ya Rasulullah. Bagaimana caranya mencuri dari shalat itu ?”Beliau menjawab : “Tidak disempurnakanNya ruku’ dan sujudnya”,atau dalam riwayat lain dikatakan, “Tidak diluruskannya punggung sewaktu ruku’ dan sujud.” (HR. Ahmad dan lainnya)

B.   Bacaan dalam ruku’
Ada beberapa macam bacaan ruku’ yang dibaca Rasulullah n dalam sholatnya. Ini artinya beliau terkadang membaca dengan sebuah bacaan namun terkadang menggantinya dengan yang lain. Berikut diantara bacaan ruku’ tersebut :

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ

“Maha suci rabbku yang maha agung.”[1]

Atau biasa juga dengan lafadz berikut :

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

“Maha Suci Rabbku yang maha Agung dan maha terpuji.”[2]
Menurut mayoritas ulama kalimat dzikir diatas batas minimalnya adalah dibaca sekali dan sempurnanya dibaca tiga kali. Pendapat ini didasarkan kepada hadits riwayat Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah n bersabda : “Apabila kalian ruku’ maka bacalah dalam ruku’ kalian ‘Subhana rabbiyal ‘adziem’ tiga kali.” (HR. Tirmidzi)

 Sebagian ulama menyukai membaca tasbih sebanyak sepuluh kali, hal ini didasarkan pada perkataan dari shahabat Anas bin Malik ketika melihat Umar bin Abdul Aziz sholat, ia berkata : “Aku tidak pernah sholat di belakang seorangpun (sepeninggal Rasulullah) yang sholatnya paling mirip dengan Rasulullah n dari pada pemuda ini (Umar bin Abdul Aziz). Sa’id bin Jubair berkata : “Maka kami kira-kirakan waktu ruku’ dan sujudnya sekitar sepuluh kali bacaan tasbih.”(HR Abu Dawud)

Namun Malikiyah mengatakan banyaknya bacaan tersebut tidak meiliki batasan.[3]
Bacaan ruku’ lainnya adalah dzikir berikut ini :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي

“Maha suci Engkau wahai rabb kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku).” (Mutafaqqun ‘alaih)

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

“Mahasuci, Maha Qudus, Rabbnya para malaikat dan ruh.” (HR. Muslim)

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.”[4]
Selanjutnya, juga bisa membaca dzikir berikut ini,

اَللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، خَشَعَ لَكَ سَمْعِيْ وَبَصَرِيْ وَمُخِّيْ وَعَظْمِيْ وَعَصَبِيْ وَمَا اسْتَقَلَّ بِهِ قَدَمِيْ

“Ya Allah, untukMu aku ruku’. KepadaMu aku beriman, kepadaMu aku berserah diri. Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, sarafku dan apa yang berdiri di atas dua tapak kakiku, telah merunduk dengan khusyuk kepada-Mu.”[5]

سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَاْلمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ

“Maha Suci (Allah) Yang memiliki Keperkasaan, Kerajaan, Kebesaran dan Keagungan.”[6]

C.   Dzikir Yang Dilarang Ketika Ruku'
Bentuk bacaan dzikir yang dilarang ketika dalam kondisi ruku’ adalah membaca ayat-ayat dari Al Quran. Berdasarkan hadits : "Bahwasanya Nabi nmelarang membaca Al Quran dalam ruku' dan sujud." (HR. Muslim)

Demikian. Wallahua’lam.

[1] Dari Huzaifah bin Al-Yaman a  “bahwa dia pernah shalat bersama nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. maka ketika ruku’ beliau membaca: “subhana rabbiyal azhim (maha suci rabbku yang maha agung),” dan ketika sujud beliau membaca: “subhana rabbiyal a’la (maha suci rabbku yang maha tinggi).” (Hadits Shahih riwayat abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan ibnu Majah)

[2] Bacaan dengan tambahan ‘wa bihamdihi’ diriwayatkan dalam hadits dengan jalur periwayatan yang banyak, sehingga  Imam Asy-Syaukani berkata bahwa riwayat-riwayat yang banyak itu saling menguatkan.” (Fiqih Sunnah I:137)

[3] Fiqh al Islami wa adillatuhu (2/57).

[4] Uqbah bin Amir berkata, manakala turun ayat, فسبح باسم ربك العظيم (Al-Waqi’ah: 74) Nabi  n bersabda, “Jadikan ia sebagai bacaan dalam ruku’ kalian.” Ketika turun ayat, سبح اسم ربك الأعلى (Al-A’la: 1) Nabi n bersabda,“Jadikan ia sebagai bacaan dalam sujud kalian.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad hasan).

[5] HR. Muslim 1/534, begitu juga empat imam hadis, kecuali Ibnu Majah.

[6] HR. Abu Dawud 1/230, An-Nasai dan Ahmad. Dan sanadnya hasan.


Sumber: http://www.konsultasislam.com

Doa Atau Bacaan Ketika Duduk Diantara Dua Sujud


Duduk diatara dua sujud adalah merupakan salah satu rukun sholat.

Cara Duduk Antara Dua Sujud Yang Benar ialah Duduk seperti posisi duduk Tasyahud Awal dg posisi kaki kanan tegak dan telapak kai kiri diduduki yg dilakukan setelah anda melakukan gerakan Sujud Pertama.

Dasarnya adalah beberapa hadis berikut:

Dari Abu Humaid As-Saidi, ia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila duduk di antara dua sujud, beliau melipat kaki kirinya dan mendudukinya serta menegakkan telapak kaki kanannya.” (HR. Imam Syafi’i)

Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata:
“Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghamparkan kaki beliau yang kiri dan menegakkan kaki yang kanan, beliau melarang dari duduknya syaithan.” (HR. Ahmad dan Muslim)

“Beliau membentangkan kaki kirinya, lalu duduk di atasnya dengan tenang.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Muslim dan Abu ‘Awanah)

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan kaki kanannya.” (HR. Bukhari dan Baihaqi)

 “Beliau menghadapkan jari-jari kaki kanannya ke arah kiblat.” (HR. An-Nasa’i, shahih)

Bacaan Ketika Duduk Di Antara Dua Sujud
Berdasarkan hadits yang ada, terdapat beberapa macam bacaan saat duduk di antara dua sujud, di antaranya adalah:

Bacaan 1:

Dari Ibnu Abbas,
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk di antara dua sujud, beliau mengucapkan:

“ALLAHUMMAGHFIRLII, WARHAMNII, WAJBURNII, WAHDINII, WARZUQNII”

Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, cukupkanlah aku, tunjukkanlah aku dan berilah aku rezeki.” (H.R. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Bacaan 2:

Dari Ibnu Abbas, ia berkata:
“Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya dari sujud beliau mengucapkan:

“RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WAR FA’NII WARZUGNII WAHDINII”

“Ya Allah! Ampunilah aku, kasihilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki dan tunjukkanlah aku.” (HR. Baihaqi)

Bacaan 3:


“RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WAR FA’NII WARZUGNII WAHDINII WA ‘AAFINII WA’ FU‘ANNI”

“Ya Allah! Ampunilah aku, kasihilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki dan tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan ampunilah aku.”

Sumber:
wahyuengineer.wordpress.com

hdimagelib.com