Hikmah Sholat

Buah dan hikmah sholat adalah dapat menghibur hati dan membuat wajah berseri-seri.

Berdoalah Kepada Allah

Allah memerintahkan kepada hambanya untuk mengembalikan segala keluh kesah kepadaNya meminta tolong dengan sholat, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Manfaat Sujud dalam Sholat

Memperkuat saraf mata, saraf hidung, saraf telinga, saraf leher, saraf otak atau kepala. Memperkuat lutut, Memperkuat saraf pada kaki dan memperkuat organ-organ dalam tubuh, jantung, hati, pancreas, dan sebagainya.

Doa Atau Bacaan Ketika Duduk Diantara Dua Sujud


Duduk diatara dua sujud adalah merupakan salah satu rukun sholat.

Cara Duduk Antara Dua Sujud Yang Benar ialah Duduk seperti posisi duduk Tasyahud Awal dg posisi kaki kanan tegak dan telapak kai kiri diduduki yg dilakukan setelah anda melakukan gerakan Sujud Pertama.

Dasarnya adalah beberapa hadis berikut:

Dari Abu Humaid As-Saidi, ia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila duduk di antara dua sujud, beliau melipat kaki kirinya dan mendudukinya serta menegakkan telapak kaki kanannya.” (HR. Imam Syafi’i)

Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata:
“Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghamparkan kaki beliau yang kiri dan menegakkan kaki yang kanan, beliau melarang dari duduknya syaithan.” (HR. Ahmad dan Muslim)

“Beliau membentangkan kaki kirinya, lalu duduk di atasnya dengan tenang.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Muslim dan Abu ‘Awanah)

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan kaki kanannya.” (HR. Bukhari dan Baihaqi)

 “Beliau menghadapkan jari-jari kaki kanannya ke arah kiblat.” (HR. An-Nasa’i, shahih)

Bacaan Ketika Duduk Di Antara Dua Sujud
Berdasarkan hadits yang ada, terdapat beberapa macam bacaan saat duduk di antara dua sujud, di antaranya adalah:

Bacaan 1:

Dari Ibnu Abbas,
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk di antara dua sujud, beliau mengucapkan:

“ALLAHUMMAGHFIRLII, WARHAMNII, WAJBURNII, WAHDINII, WARZUQNII”

Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, cukupkanlah aku, tunjukkanlah aku dan berilah aku rezeki.” (H.R. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Bacaan 2:

Dari Ibnu Abbas, ia berkata:
“Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya dari sujud beliau mengucapkan:

“RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WAR FA’NII WARZUGNII WAHDINII”

“Ya Allah! Ampunilah aku, kasihilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki dan tunjukkanlah aku.” (HR. Baihaqi)

Bacaan 3:


“RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WAR FA’NII WARZUGNII WAHDINII WA ‘AAFINII WA’ FU‘ANNI”

“Ya Allah! Ampunilah aku, kasihilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku rezeki dan tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan ampunilah aku.”

Sumber:
wahyuengineer.wordpress.com

hdimagelib.com 

Hukum Dan Tata Cara Membaca Amin Setelah Alfatihah Dalam Sholat

Diantara amalan dalam shalat yang perlu diperhatikan dan sering dianggap remeh oleh sebagian kaum Muslimin yaitu mengucapkan kata "amien" dalam shalat . Tentang urgensitas ucapan "amîn" ini, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, "Mengucapkan "amien" (ta’mîn) adalah perhiasan shalat seperti mengangkat kedua tangan yang merupakan perhiasan shalat. Juga termasuk mengikuti sunnah dan mengagungkan perintah Allâh."


SHIGHAT TA’MIN (BENTUK LAFAZH AMIN). Para Ulama berbeda pendapat tentang lafazh âmîn yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Kesimpulannya adalah :

1. Lafazh yang disepakati kebolehannya dan sesuai dengan sunnah yaitu mengucapkan âmîn dengan dua lafazh; Pertama, âmîn (آمِيْن) dengan memanjang huruf hamzah; dan kedua, amîn (أَمِيْن) dengan tanpa memanjang huruf hamzah.

2. Lafazh yang dianggap sama dengan yang lafazh yang diperbolehkan yaitu: âmîn (آمِيْن) dengan memanjangkan hamzah ataupun tidak dengan disertai imâlah.

3. Lafazh yang diperselisihkan kebolehannya dan membatalkan shalat. Ini ada dua lafazh: Pertama, Aammin (آمِّيْن) dengan memanjang suara hamzah disertai tasydîd pada huruf mim. Yang rajah, lafazh ini membatalkan shalat. Kedua, Aamin (آمِن) dengan memanjang suara hamzah disertai membuang huruf Ya’. Yang rajah, lafazh ini terlarang dan membatalkan shalat.

4. Lafazh yang disepakati tidak boleh, namun masih diperselisihkan, apakah membatalkan shalat ? Yaitu Ammîn (أَمِّيْن) dengan tidak memanjangkan suara hamzah disertai tasydiid pada huruf Mim.

5. Lafazh yang disepakati membatalkan shalat adalah aammin (آمِّن) dengan memanjangkan bacaan Hamzah lalu tasydid pada huruf Mim dan menghapus huruf Ya’ dan ammin (أَمِّن) dengan tanpa memanjangkan bacaan hamzah lalu tasydid pada huruf Mim serta menghapus huruf Ya’ serta amin (أَمِن) dengan tanpa memanjangkan huruf Hamzah, tanpa tasydid pada huruf Mim dan menghapus huruf Ya’.

TAMBAHAN KATA PADA PENGUCAPAN LAFAZH AMIN
Terkadang ada yang menambah ucapan âmîn dengan lafazh YA RABBAL ALAMÎN setelah selesai membaca al-Fâtihah. Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat, namun yang râjih adalah pendapat yang menyatakan tidak disunnahkan menambah dengan kata atau lafazh lainnya, dengan alasan :

1. Cukup dengan ucapan âmîn adalah suatu yang sudah sesuai dengan ucapan dan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menambahkan satu katapun. Tindakan ini merupakan realisasi ittiba’ kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Tidak ada satu hadits shahih pun yang menetapkan adanya tambahan tersebut. Dan ini juga tidak dilakukan oleh para sahabat semasa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal shalat dilakukan berulang kali, baik yang fardhu ataupun yang sunnah. Dan yang terbaik bagi kita yaitu menyesuaikan dengan petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Orang yang hanya mencukupkan diri dengan membaca âmîn tidak ada yang mencela dan tidak yang menilainya meninggalkan sunnah. Ini berbeda dengan orang yang menambah, maka mungkin ada orang yang menilainya tidak mengamalkan sunnah.

4. Sedangkan dalil yang dijadikan landasan pendapat orang yang membolehkan menambah lafazh dalam âmîn dan menganggapnya sebagai tambahan yang baik, seperti hadits Rifâ’ah bin Râfi’ Radhiyallahu anhu yang berbunyi :

Pada suatu hari, Kami shalat dibelakang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya dari ruku’, dan membaca, “SAMI’ALLÂHU LIMAN HAMIDAH” maka ada seorang dibelakang beliau membaca, “RABBANÂ WALAKAL HAMDU HAMDAN KATSÎRAN THAYYIBAN MUBÂRAKAN FÎHI”. Ketika selesai shalat, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, "Siapakah yang berbicara tadi ?" Orang itu menjawab, "Aku, wahai Rasûlullâh!" Lalu Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba menjadi penulisnya pertama kali.”

Imam ibnu Abdilbarr rahimahullah menyatakan, "Semua dzikir berupa tahmîd, tahlîl dan takbîr diperbolehkan dalam shalat dan bukan ucapan yang membatalkan shalat, bahkan ia terpuji dan pelakunya disanjung berdasarkan dalil hadits ini.

Ini memang termasuk hal-hal yang sudah dijelaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebolehan menambah lafazh dzikir. Namun masalah ta’min adalah masalah khusus yang tidak ada dalil yang menjelaskan bolehnya menambahkan sesuatu padanya. Wallâhu a’lam.

HUKUM MEMBACA AMIN SETELAH AL-FAATIHAH
Membaca al-Fâtihah ada kalanya dalam shalat dan adakalanya diluar shalat. Dengan demikian maka hukum membaca âmîn setelah membaca al-Fâtihah dibagi dalam dua hukum, yaitu hukum membacanya diluar shalat dan didalam shalat.

1. Hukum Membaca Amîn Setelah Al-Fâtihah Diluar Shalat
Orang yang membaca surat al-Fâtihah disyari'atkan membaca âmîn setelahnya. Ibnu al-Humaam t menyatakan, "Pensyari'atan mengucapkan âmîn setelah membaca al-Fâtihah. Ketahuilah bahwa sunnah yang shahih dan mutawatir dengan tegas menunjukkan hal tersebut.

Adapun dasarnya :
• Hadits Wâ’il bin Hujr Radhiyallahu anhu yang berbunyi :

Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca : GHAIRIL MAGHDHÛBI ‘ALAIHIM WALADH-DHÂLÎN lalu beliau mengucapkan : âmîn dengan memanjangkan suaranya.

Nampak dalam hadits ini adanya pensyariatan ucapan âmîn setelah membaca al-Faatihah secara mutlak baik didalam shalat maupun diluarnya. Oleh karenanya imam ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: Sahabat-sahabat kami (ulama madzhab Syafi’iyyah (pen)) dan selain mereka menyatakan bahwa disunnahkan hal itu pada orang yang membacanya diluar shalat dan lebih ditekankan lagi pada diri orang yang shalat, baik sendirian, sebagai imam ataupun sebagai makmum dan dalam segalakeadaan.

• Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ آمِينَ وَقَالَتْ الْمَلَائِكَةُ فِي السَّمَاءِ آمِينَ فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian mengucapkan âmîn dan malaikat di langit juga mengucapkan âmîn lalu saling berbarengan maka diampuni dosanya yang telah lalu. [Muttafaqun ‘alaihi].

2. Hukum Membaca Âmîn Setelah Al-Faatihah Didalam Shalat
Sedangkan hukum membaca âmîn dalam shalat dapat di kategorikan dalam tiga sub pembahasan.

1. Ucapan Amîn Bagi Imam
Dalam masalah ini para Ulama memiliki dua pendapat. Mayoritas para Ulama memandang imam disyari'atkan membaca âmîn berbeda dengan imam Abu Hanîfah rahimahullah yang memandang imam disyari'atkan membacanya bahkan menurut beliau rahimahullah yang disyariatkan adalah makmum.

Yang râjih –insya Allâh- adalah pendapat mayoritas para Ulama dengan argument sebagai berikut :

• Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berbunyi :

إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Apabila imam mengucapkan ‘âmîn’ maka ucapkanlah ‘âmîn’, karena siapa yang ucapan âmînnya berbarengan dengan ucapan amiin para malaikat maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Setelah menyampaikan hadits ini, Imam Ibnu Syihâb az-Zuhri rahimahullah menjelaskan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu mengucapkan âmîn.

• Hadits Wâ’il bin Hujr Radhiyallahu anhu yang berbunyi :
سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم يَقْرَأُ : ( غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ ) فَقَالَ : آمِيْنَ مَدَّ بِهَا صَوْتَهُ .
Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca GHAIRIL MAGHDHÛBI ‘ALAIHIM WALADH-DHÂLÎN lalu beliau mengucapkan : âmîn dengan memanjangkan suaranya.

2. Pensyariatannya Bagi Makmum
Dalam masalah ini ada lima pendapat Ulama, yaitu :

• Pendapat mayoritas Ulama yang memandang makmum disyari'atkan mengucapkan âmîn secara mutlak baik dalam shalat siriyah maupun jahriyah

• Pendapat Imam Mâlik rahimahullah yang memandang makmum disyariatkan mengucapkan âmîn dalam shalat sirriyah dan dalam shalat jahriyah apabila mendengar imamnya membaca (وَلاَ الضَّالِّيْنَ).

• Pendapat sekelompok Ulama yang memandang tidak disyariatkan secara mutlak.

• Pendapat Imam Syâfi’i rahimahullah dalam al-qaulul jadîd (pendapat beliau rahimahullah setelah berada di mesir) yang memandang makmum tidak disyariatkan mengucapkan âmîn apabila imam telah mengucapkannya dengan jelas.

• Pendapat Imam Abu Hanifah rahimahullah yang memandang tidak disyariatkan dalam shalat sirriyah walaupun makmum mendengar imam mengucapkan amin.

Dari kelima pendapat ini, yang rajih adalah pendapat mayoritas Ulama karena dalil mereka kuat. Diantaranya hadits-hadits yang memerintahkan makmum mengucapkan âmîn , seperti dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berbunyi :

إِذَا أَمَّنَ الإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Apabila imam mengucapkan ‘âmîn’ maka ucapkanlah ‘âmîn’, karena siapa yang ucapan âmînnya berbarengan dengan ucapan ‘âmîn para malaikat maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Juga sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا صَلَّيْتُمْ فَأَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثُمَّ لْيَؤُمَّكُمْ أَحَدُكُمْ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا قَالَ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ. يُجِبْكُمُ اللَّهُ

Apabila kalian shalat maka luruskanlah barisan kalian kemudian hendaknya salah seorang kalian menjadi imam. Apabila imam bertakbir maka kalian bertakbir dan bila imam mengucapkan “GHAIRIL MAGHDHÛB BI’ALAIHIM WALAADH-DHÂLÎN” maka ucapkanlah: âmîn, niscaya Allâh mengabulkannya.

3. Pensyariatannya Bagi Orang Yang Shalat Sendirian.
Dalam masalah ini pun para Ulama berselisih dalam dua pendapat, yaitu:

• Mayoritas Ulama mensyariatkan orang yang shalat sendiri mengucapkan amin .
• Imam Malik rahimahullah dalam salah satu riwayatnya memandang tidak disyariatkannya dalam shalat sendirian.

Pendapat yang rajih dalam hal ini adalah pendapat mayoritas Ulama karena kuatnya dalil mereka, diantaranya adalah hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang berbunyi:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَالَ أَحَدُكُمْ آمِينَ وَقَالَتْ الْمَلَائِكَةُ فِي السَّمَاءِ آمِينَ فَوَافَقَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian mengucapkan âmîn dan malaikat di langit juga mengucapkan âmîn lalu saling berbarengan maka diampuni dosanya yang telah lalu. [Muttafaqun ‘alaihi]

Hadits ini bersifat umum, juga mencakup orang yang shalat sendirian. Wallahu a’lam.

Demikian ringkasan dari pendapat para Ulama seputar hukum membaca amin setelah bacaan al-Faatihah, semoga bermanfaat.

sumber :


Pengertian dan Cara Sujud Sahwi

Pengertian Sujud Sahwi, Sujud Sahwi adalah sujud karena lupa, maksudnya : sujud dua kali karena terlupa salah satu rukun shalat, baik kelebihan maupun kekurangan dalammelaksanakannya.

Dari Abdullah bin Buhainah Al-Asdiy bahwasanya Rasulullah SAW pernah bangkit berdiri dalam shalat Dhuhur padahal mestinya duduk (attahiyyat awwal), maka setelah selesai shalat, dalam keadaan duduk sebelum salam beliau bersujud dua kali, dan beliau bertakbir pada tiap-tiap sujud dan para makmum juga mengerjakan sebagaimana yang dikerjakan beliau untuk mengganti duduk (attahiyyat) yang terlupa itu". [HR. Muslim 1 : 399].

Telah berkata Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah shalat 'Ashar menjadi imam bagi kami, lalu beliau salam setelah 2 raka'at, maka berdirilah (seorang shahabat yang panggilannya) Dzul-yadain dan bertanya: "Ya Rasulullah ! Apakah shalat ini diqashar atau engkau lupa ?"

Rasulullah SAW menjawab, "Semua itu tidak terjadi". Dia berkata : "Ya Rasulullah ! salah satu dari (dua) itu telah terjadi". Lalu Rasulullah SAW menghadap kepada para shahabat sambil bertanya, "Benarkah Dzulyadain ?". Jawab para shahabat, "Betul, ya Rasulullah". Kemudian Rasulullah SAW menyempurnakan shalat yang kurang itu, lalu sujud dua kali dengan duduk sesudah salam. [HR. Muslim 1 : 404]

Dari 'Imran bin Hushain bahwasanya Rasulullah SAW pernah shalat 'Ashar lalu salam pada raka'at ketiga, kemudian beliau masuk ke rumahnya. Maka seorang shahabat yang bernama Khirbaq (yang panjang dua tangannya) memanggil Rasulullah SAW sambil menceritakan kejadian itu, maka Rasulullah SAW keluar dengan marah sambil menyeret selendangnya hingga sampai kepada orang banyak, lalu bertanya, "Betulkah orang ini ?" Para shahabat menjawab, "Betul". Kemudian Rasulullah SAW shalat satu raka'at, lalu salam, kemudian sujud (Sahwi) dua kali kemudian salam (lagi). [HR. Muslim 1 : 404]


Telah berkata Abdullah : Rasulullah SAW pernah shalat bersama kami lima raka'at. Setelah selesai shalat, para shahabat berbisik-bisik diantara mereka. Maka Rasulullah SAW bertanya, "Ada apa kalian ?". Mereka menjawab, "Ya Rasulullah, apakah shalat ini ditambah ?". Rasulullah SAW menjawab, "Tidak". Para shahabat berkata, "Sesungguhnya engkau telah shalat lima raka'at". Maka Nabi SAW berpaling, lalu sujud dua kali kemudian salam. [HR. Muslim 1 : 402]

Rasulullah SAW bersabda :

Dan apabila seseorang diantara kalian syak (ragu-ragu) di dalam shalatnya, hendaklah ia pilih yang mendekati benar, lalu ia sempurnakan menurut pilihan itu. Kemudian hendaklah ia sujud dua kali. [HR. Muslim 1 : 400]

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kalian syak (ragu-ragu) di dalam shalatnya, yaitu ia tidak tahu apakah ia telah shalat tiga atau empat raka'at, maka hendaklah ia buang yang syak (ragu-ragu) dan kerjakan mana yang ia yaqini, kemudian hendaklah ia sujud dua kali sebelum salam. [HR. Muslim 1: 400]

Kesimpulan:
Dari hadits-hadits di atas dapat diambil pengertian sebagai berikut :
  1. Orang yang lupa tidak duduk Attahiyat Awwal, orang yang lupa pada raka'at kedua sudah salam padahal masih ada satu atau dua raka'at lagi yang seharusnya ia sempurnakan, maupun orang yang shalat kelebihan raka'at dari yang semestinya, maka orang tersebut supaya Sujud Sahwi dua kali.
  2. Sujud Sahwi itu memakai takbir
  3. Sujud Sahwi itu bisa dilakukan sebelum salam maupun sesudah salam. Dan apabila dikerjakan sesudah salam, maka setelah Sujud Sahwi lalu salam (lagi).
  4. Kalau kita syak (ragu-ragu) tentang raka'at shalat, hendaklah kita ambil yang yaqin, lalu kita sempurnakan
  5. Tidak ada bacaan yang khusus untuk Sujud Sahwi ini.



Tempat-Tempat Yang Dilarang Untuk Sholat

Sesungguhnya di seluruh muka bumi adalah masjid bagi umat manusia, untuk sholat. Mulai dari jalan, tanah lapang, pematang sawah, hingga di ruang sempit di terminal. Sungguh begitu murahnya Allah memberikan semuanya kepada manusia untuk menyembahnya.
Meski demikian ada juga beberapa tempat yang dilarang untuk melakukan sholat, diantaranya sebagai berikut:

Gereja, Candi, dan Biara
Jumhur ulama mengharamkannya. Al Bukhari berkata: Ibnu Abas pernah sholat di dalam biara kecuali yang ada patungnya Sedangkan golongan Hanafiyah dan Syafiiyah memakruhkannya.

Kuburan, Tengah Jalan , Di Tempat Pembuangan Sampah dan Tempat Penyembelihan Hewan dan Kandang unta

Dari Ibnu Umar:

سبع مواطن: المزبلة، والمجزرة، والمقبرة، وقارعة الطريق، والحمام، ومعاطن الإبل، وفوق ظهر بيت الله تعالى

Sesungguhnya Rasulullah saw melarang menunaikan shalat tujuh tempat; tempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan (hewan), kuburan, di tengah-tengah jalan, di kamar mandi, di kandang unta dan di atas(bangunan) ka'bah. (HR. Ibnu Majah, Abd Ibnu Humaid, dan at Turmudzi)

Dari Aisyah bahwasanya Nabi SAW bersabda, ”Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kubur Nabi-nabi mereka sebagai masjid” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasa’i)

Selain hadis diatas, ada juga hadis dari Abu Darda: ”Bershalatlah kamu di kandang-kandang kambing tetapi jangan kamu shalat di tempat unta-unta berteduh” (Dari Abu Hurairah diriwayatkan oleh Abu Daud dari Al Bara)

Adapun kubur atau pekuburan, maka tidak boleh shalat di atasnya atau di tengah pekuburan atau shalat menghadapnya tanpa ada sesuatu yang memisahkan antara dirinya dengan kuburan/pekuburan semisal dinding, pagar, atau jalan. Termasuk dalam larangan ini adalah shalat di dalam masjid yang di dalamnya ada kuburan.

Kamar Mandi / Pemandian umum
Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْحَمَّامَ وَالْمَقْبَرَةَ
“Semua tempat di bumi ini adalah masjid (dapat digunakan untuk shalat atau bersujud) kecuali kamar mandi dan kuburan”. (HR. Abu Daud no. 492 dan At-Tirmizi no. 317, seta dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’: 1/320)

Di atas (atap) Ka’bah
Sedangkan shalat di dalam Ka’bah dperbolehkan Kata Ibnu Umar,”Rasulullah SAW pernah suatu kali masuk ke dalam Ka’bah ditemani Usamah, Bilal, dan Utsman ibn Abi Thalhah menguncikan pintu. Setelah pintu dibuka, aku masuk ke dalamnya dan menemui Bilal. Aku bertanya kepadanya,”Apakah Rasulullah SAW shalat di dalam Ka’bah ini? Menjawab Bilal,’Benar, diantara dua tiang Yamany”


Wallahu a’lam

Hukum Jual Beli Di Mesjid


Masjid adalah tempat yang digunakan untuk sholat, dzikir dan membaca al-Qur’an. Tetapi kita dapatkan juga Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dan menerima tamu di dalam masjid. Apakah dibolehkan melakukan transaksi jual beli di dalam masjid ?

Para ulama berbeda pendapat di dalam masalah ini, hal itu terkait dengan perbedaan pendapat di dalam memahami hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

          إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِى الْمَسْجِدِ فَقُولُوا : لاَ أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَنْشُدُ فِيهِ ضَالَّةً فَقُولُوا : لاَ رَدَّهَا اللَّهُ عَلَيْكَ

“Jika kamu melihat orang menjual atau membeli di mesjid maka katakanlah : “Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada daganganmu.” Dan jika kamu melihat orang mencari barang yang hilang di masjid, maka katakanlah :“Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu” (HR Tirmidzi ( 1231) , Ibnu Huzaimah ( 1305), Baihaqi ( 4518))

Para ulama berbeda pendapat di dalam memahami hadist di atas yang keterangannya sebagai berikut :  

Pendapat Pertama : mengatakan bahwa jual beli di masjid hukumnya makruh. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan Malikiyah, Syafi’iyah dan sebagian Hanabilah seperti IbnuTaimiyah.    

          Berkata Sulaiman al- Bujairmi asy-Syafi’I :
وَيُكْرَهُ الْبَيْعُ وَالشِّرَاءُ فِي الْمَسْجِدِ وَسَائِرُ الْعُقُودِ كَالْبَيْعِ إلَّا النِّكَاحَ فَيُسَنُّ عَقْدُهُ فِيهِ ، وَكَذَا يُكْرَهُ نَشْدُ الضَّالَّةِ فِيهِ

“Dimakruhkan untuk jual beli di masjid, dan seluruh transaksi sejenis jual beli, kecuali pernikahan, maka disunnahkan dilakukan di dalamnya. Begitu juga dimakruhkan untuk mencari barang yang hilang. “ ( Tuhfatu al-Habib ‘ala al-Khatib : 3/ 666 )        

Pendapat Kedua  : mengatakan bahwa jual beli di masjid hukumnya haram. Ini pendapat sebagian dari ulama Hanabilah.

Ikuti ulasan selanjutny di ahmadzain.com 


Manfaat Menakjubkan Wudhu Terbukti Secara Science


“Barang siapa yang berwudhu dan membaguskan wudhunya, maka akan keluarlah dosa-dosa dari badannya, sampai-sampai ia akan keluar dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah).

Rasulullah menyuruh umatnya untuk menyempurnakan wudhu, ternyata memang banyak kesalahan berwudhu yang sering kita lakukan karena masih belum memahami makna dan fakta menakjubkan di balik menyempurnakan wudhu.

Prof. Dr. Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater dan sekaligus neurology berkebangsaan Austria, meneliti tentang keharusan wudhu sebelum melakukan sholat, ia menemukan sesuatu yang menakjubkan terhadap wudhu, sehingga menyampaikannya pada hidayah Islam.

Ia mengemukakan sebuah fakta yang sangat mengejutkan bahwa pusat-pusat syaraf yang paling peka dari tubuh manusia ternyata berada di sebelah dahi, tangan, dan kaki. Pusat-pusat syaraf tersebut sangat sensitif terhadap air segar. Dari sini ia menemukan hikmah di balik wudhu yang membasuh pusat-pusat syaraf tersebut.

Pada akhirnya Leopold memeluk agama Islam dan mengganti nama menjadi Baron Omar Rolf Ehrenfels.

Selain itu, ahli syaraf/neurologist pun telah membuktikan dengan air wudhu yang mendinginkan ujung-ujung syaraf jari-jari tangan dan jari-jari kaki berguna untuk memantapkan konsentrasi pikiran.

Perhatikanlah bahwa anggota tubuh yang wajib dan sunah dibasuh air wudhu merupakan bagian tubuh yang memiliki banyak titik-titik akupuntur. Setelah dihitung-hitung… ternyata terdapat 493 titik reseptor pada anggota wudhu !

Ratusan titik akupunktur tersebut bersifat reseptor terhadap stimulus berupa basuhan, gosokan, usapan, dan tekanan/urutan ketika melakukan wudhu.

Stimulus tersebut akan dihantarkan melalui meridian ke sel, jaringan, organ dan sistim organ yang bersifat terapi. Hal ini terjadi karena adanya sistem regulasi yaitu sistem syaraf dan hormon bekerja untuk mengadakan homeostasis (keseimbangan). Maasya Allah... Bayangkan jika kita melakukan hal tersebut setiap hari paling sedikit 5 kali sehari.

Berikut ini beberapa gerakan wudhu yang sering salah kita lakukan, begini cara menyempurnakannya:

1. Rangsangan di tangan & kaki
Coba ingat-ingat saat kita membasuh telapak kaki & tangan, apakah sela-sela jari tangan dan kaki sering kita abaikan?

Kita sering sekadar cuci tangan di bawah pancuran air tanpa menggosok-gosoknya,  padahal ada fakta menarik yang perlu diketahui:

Di antara sela-sela jari tangan dan kaki terdapat masing-masing satu titik istimewa (Ba Sie pada sela-sela jari tangan & Ba Peng pada sela-sela jari kaki). Jadi, keseluruhannya terdapat 16 titik akupunktur. Berdasarkan riset pakar akupunktur, titik-titik tersebut apabila dirangsang dapat menstimulasi bio energi (Chi) guna membangun homeostasis (keseimbangan). Sehingga menghasilkan efek terapi yang memiliki multi indikasi, seperti untuk mengobati migren, sakit gigi, tangan-lengan merah, bengkak dan jari jemari kaku. Subhanallah!

2. Membersihkan rongga hidung
Selanjutnya, hal yang sering diabaikan dalam wudhu adalah menghirup air ke dalam hidung. Kita sering kali hanya membasuh hidung, dan tidak menghirup air masuk ke rongga hidung kemudian mengeluarkannya kembali (istinsyaaq).


Penelitian dari Universitas Aleksandria membuktikan bahwa kebanyakan orang yang berwudhu secara kontinyu, maka hidung mereka bersih dan bebas dari debu, bakteri dan mikroba. Lubang hidung merupakan tempat yang rentan dihinggapi mikroba dan virus, tetapi dengan membasuh hidung secara kontinyu dan melakukan istinsyaaq (memasukkan air kedalam hidung kemudian mengeluarkannya ketika berwudhu), maka lubang hidung menjadi bersih dan terbebas dari radang dan bakteri.

3. Berkumur-kumur
Yang tak kalah penting adalah kumur-kumur dan bahkan Rasulullah menganjurkan setiap kali akan shalat. Penelitian modern membuktikan bahwa berkumur dapat menjaga mulut dan tenggorokan dari radang dan menjaga gusi dari luka. Berkumur juga dapat menjaga dan membersihkan gigi dengan menghilangkan sisa-sisa makanan yang terdapat di sela-sela gigi setelah makan.

Manfaat berkumur lainnya yg juga penting adalah menguatkan sebagian otot-otot wajah dan menjaga kesegarannya. Berkumur merupakan latihan penting yang diakui oleh pakar dalam bidang olahraga, karena berkumur jika dilakukan dengan menggerakkan otot-otot wajah dengan baik dapat menjadikan jiwa seseorang tenang.

4. Reseptor syaraf telinga
Lain lagi tentang telinga, kita sering kali hanya membasahi telinga, padahal di daun telinga ternyata terkandung banyak sekali titik reseptor syaraf telinga. Maka itu saat menyapu telinga jangan hanya membasuh saja, tapi harus dengan pijatan juga. Ini namanya aurikulopressure alias pijat akupunktur telinga.

Jelas bahwa menyempurnakan wudhu sungguh bermanfaat luar biasa untuk diri kita. Semoga Allah memudahkan kita untuk menyempurnakan wudhu tiap kali hendak shalat. Aamiin.

Optimalnya Kerja Otak Ketika Anda Sujud


Pada otak manusia terdapat Prefrontal Cortex, bagian yang bertanggung jawab dalam perencanaan, organisasi, pengendalian impuls dan belajar dari kesalahan.

Ketika manusia bersujud, posisi jantung akan menjadi lebih tinggi daripada otak, maka darah akan turun ke bagian ini.

Peneliti asal Amerika Serikat, Dr Fidelma, menemukan, darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak dalam kondisi normal.

Namun berdasarkan penelitiannya, darah baru bisa masuk jika manusia dalam kondisi sujud.

Dengan begitu darah akan masuk ke otak dan Prefrontal Cortex bisa berfungsi optimal dalam mengambil keputusan.

Pada saat salat dalam kondisi sujud, darah akan masuk ke otak dan Prefrontal Cortex menerima aliran darah.

Sehingga orang yang salat bisa membuat keputusan yang lebih bijak, serta bisa berfikir mana yang baik dan buruk.

Otak merupakan bagian yang sangat penting sebagai pusat syaraf tubuh.
Bagian ini dikenal memiliki struktur yang kompleks dan memiliki banyak lekukan dan lipatan.
Namun ada hal menakjubkan, ternyata jika diperhatikan dengan seksama, struktur otak manusia menyerupai orang yang sedang dalam kondisi sujud saat Salat.

Allah SWT berfirman dalam kalam-Nya dan berkali-kali mengatakan bahwa di setiap makhluk ciptaan-Nya terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya.

Seperti dalam A-Qur’an ayat Adz Dzariyat: 20-21 dan QS. Al-Hajj: 18.

وَفِي الْأَرْضِ آَيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ  *  وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz Dzariyat: 20-21)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahawa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebahagian besar daripada manusia? ” QS. Al-Hajj: 18

Ayat di atas memperkuat bahwa struktur otak memang seperti orang yang sedang sujud.
Hal ini juga lah yang membuat kenapa salat dapat menenangkan hati ketika sedang stres.
Saat stres hormon adrenalin akan dirembeskan dan kadar pengaliran darah ke prefrontal cortex akan berkurangan.

Pada keadaan ini, manusia akan bertindak pantas tanpa berfikir. Namun ini akan mereda ketika kita melaksanakan  salat.  Dengan sujud, kita dapat membuka lebih ruang kapilari darah untuk ke prefrontal area ini.

Sujud memiliki makna bahwa manusia itu meletakkan wajahnya di tempat yang paling rendah di atas tanah ini.

Hal Ini mengingatkan bahwa dirinya berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.
Jika manusia sanggup menempatkan dahinya ditempat yang hina, tentu saja manusia tidak akan bersikap sombong terhadap Allah yang menciptakan manusia dari tanah.

Dalam kondisi ini hati akan merasakan kebesaran Allah dan ketika itulah manusia dalam hatinya selalu ingin mensucikan Zat Allah Yang Maha Tinggi disamping lidah tidak bertulang dengan mengucapkan,
Wallahu a'lam

sumber: muslimahcorner.com


Ketika Kembali ke Rumah, Musafir Tidak Boleh Qashar Shalat

Apakah musafir masih boleh qashar shalat yaitu menjadikan shalat empat raka’at menjadi dua raka’at ketika ia sudah balik ke rumahnya atau ke kotanya?

Dijelaskan dalam Ensiklopedia Fikih:
Jika musafir masuk ke negerinya, maka hilanglah hukum safar dan statusnya menjadi seorang yang mukim, baik ia masuk ke dalam negerinya untuk berniat mukim atau untuk menunaikan hajat tertentu.

Alasannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar sebagai musafir dalam beberapa peperangan. Lalu beliau kembali ke Madinah tanpa memperbaharui niatnya untuk mukim. Karena jelas, Madinah adalah tempat beliau bermukim, sehingga tak perlu lagi menegaskan niat untuk mukim kala itu.

Selama belum masuk ke dalam negeri atau kotanya, selama itu musafir masih boleh mengqashar shalat.

Ada riwayat menyebutkan bahwa ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu ketika datang dari Bashroh menuju Kufah, beliau shalat layaknya musafir. Kala itu ia telah melihat dari jauh rumah-rumah yang ada di Kufah.

Begitu pula ada riwayat yang menyebutkan bahwa Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan pada musafir, “Shalatlah dua raka’at selama engkau belum memasuki rumahmu. Namun jika engkau telah memasuki negeri atau kotamu, wajib shalat sempurna (tidak diqashar).” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27: 287).
Hanya Allah yang memberi taufik.

Sumber http://rumaysho.com

Keajaiban Sholat Shubuh Sebagai Terapi Paru-paru


Seperti kita ketahui, waktu pelaksanaan shalat shubuh adalah sejak terbit fajar sampai hampir terbit matahari. Pada saat manusia beristirahat secara jasmaniah, semua aktivitas otot dan persendian tubuh mengalami masa pasif. Ini membantu otot-otot otonomik pada organ-organ viscera dan semua sistem saraf yang terus bekerja dapat beristirahat lebih maksimal. Begitu juga dengan otak, yang mengalami penerangan pikiran secara alamiah.

Setelah masa istirahat tersebut, ketika kita bangun pagi-pagi saat shubuh, mulai aktiflah semua otot penggerak pada tiap persendian tubuh, lebih banyak energi mengalir, dan juga terjadi peregangan pada tiap persendian terutama bagian pada sendi-sendi ruas tulang belakang. Di samping itu, ada beberapa bagian tubuh penting yang menjadi aktif pada saat kita melakukan ibadah shalat shubuh, seperti telah dijelaskan sebelumnya.

Shubuh merupakan waktu yang tepat untuk proses terapi sistem pernapasan dalam paru-paru. Ini sesuai dengan waktu pagi hari karena pada saat itu udara masih bersih. Dengan bangun pada waktu shubuh, dimulailah terapi untuk membersihkan paru-paru dari sisa-sisa oksigen yang kita hirup pada malam hari.

Penelitian mutakhir dalam ilmu medis barat juga mengungkapkan manfat kebiasaan bangun pada waktu shubuh. Ditemukan bahwa pada dini hari sekitar pukul 3.00 sampai 5.00 terjadi proses detoksin (pembuangan zat racun) di bagian paru-paru. Oleh karena itu, biasanya selama durasi waktu ini, penderita batuk akan mengalami batuk yang hebat. Ini karena proses pembersihan (detoksin) telah mencapai saluran pernapasan. Penelitian ini menegaskan bahwa penjagaan pola makan dan pengaturan aktivitas sesuai dengan waktu metabolisme tubuh sangat penting agar tubuh kita dapat melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan jadwalnya.

Paru-paru dan usus besar merupakan organ yang berpasangan. Usus besar merupakan pengatur panas dalam perut. Jantung termasuk organ yang memiliki sifat panas. Apabila jantung memiliki panas yang berlebihan, dengan pernapasan yang dilakukan pada saat udara benar-benar bersih, kita dapat mengarahkan panas jantung ke paru-paru dan dengan demikian mendinginkan panas di dalam perut.

Paru-paru merupakan organ pertama yang merasakan perubahan cuaca. Jika paru-paru tidak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan, akan timbul beberapa akibat, semisal masuk angin. Paru-paru memasukkan udara dari luar melalui hidung, yang bertugas mengambil oksigen. Di dalam oksigen terdapat ion-ion medan energi dari udara yang bertanggung jawab menjaga keadaan tubuh.

Di samping itu, ion-ion ini juga membangkitkan energi pelindung tubuh yang terus-menerus menjadi semacam perisai yang mengelilingi tubuh kita. Paru-paru juga mengendalikan metabolisme yang mendistribusikan cairan tubuh ke kulit. Paru-paru sangat peka terhadap perubahan-perubahan emosional, khususnya jika kita sedang bersedih atau marah, karena paru-paru merupakan bagian yang paling awal mendapat serangan penyakit di sekitarnya, maka ia disebut juga sebagai organ rawan.

Shubuh merupakan waktu yang tepat untuk proses terapi sistem pernapasan pada rongga dalam paru-paru. Ini sesuai dengan waktu pagi hari karena pada saat itu udara masih bersih.

Dalam ilmu kesehatan cina, terapi paru-paru yang paling adalah pada pukul 3.00 sampai dengan pukul 5.00. hal ini disebabkan adanya unsur yang saling bersinggungan antara chi atau energi manusia dan chi atau energi alam sekitarnya. Dalam masa penyeimbangan sirkulasi energi panas (tubuh manusia) dan energi dingin (alam sekitarnya), terjadilah proses saling mengisi.

Dari keterangan di atas, jelaslah manfaat yang kita peroleh dengan selalu melaksanakan shalat shubuh pada waktu pagi hari. Dengan menghirup udara yang masih murni, ditambah melakukan wudhu dan shalat dengan gerakan yang benar, kita telah melakukan beberapa terapi yang bermanfaat untuk kesehatan:

1. Untuk mengerjakan shalat, kita harus bersuci dulu, baik dengan mandi wajib (jika kita junub) maupun wudhu. Dengan demikian, kita melakukan langkah-langakah higienis yang membersihkan badan kita baik dari bekas-bekas jimak maupun ihtilam (mimpi basah), juga kotoran-kotoran yang sering dikeluarkan tubuh tanpa sadar saat tidur, seperti mazi, keringat, ingus, kotoran mata.

2. Dengan membasuh beberapa anggota tubuh dengan air, kita menstimulasi pori-pori sekaligus saraf-saraf yang pada saat kita tidur, relatif tak aktif. Ini menyebabkan tubuh menjadi segar, sepenuhnya sadar, dan siap braktifitas.

3. Dengan melaksanakan gerakan-gerakan shalat, sebenarnya kita melakukan peregangan ringan. Tubuh yang kaku, terutama persendian, setelah beberapa jam sedikit bergerak, akan kembali lentuk.

4. Gerakan-gerakan shalat akan menstimulasi organ-organ untuk bekerja. Pada waktu shubuh, organ yang paling mendapat manfaat adalah paru-paru. Ini terutama disebabkan oleh sistem sirkulasi chi dan udara yang masih bersih.


Bertaubat, Haruskah Menqadha' Shalat dan Puasa yang Pernah Ditinggalkan?

Pertanyaan yang sering muncul dalam diri orang yang bertaubat dari meninggalkan shalat dan shaum, apakah ia harus menqadha’ (mengulang) shalat dan puasanya yang telah ditinggalkannya dahulu. Terkadang kebimbangan ini dimanfaatkan syetan untuk melemahkan semangatnya dalam bertaubat. Sehingga ia merasa awang-awangen (sangat tidak mampu) dalam menempuh jalan taubat itu. Akibatnya, ia berputus asa dari rahmat Allah sehingga tetap dalam penderitaan jiwanya.

Syaikh bin Bazz pernah mendapatkan pertanyaan serupa, tentang orang yang tidak pernah shalat dan puasa. Ia melakukannya dengan sengaja. Setelah mendapat petunjuk, ia bertaubat kepada Allah, menyesali dan menangisi kelalaiannya tersebut. Sampai-sampai ia menjalankan qadha’ atas shalat-shalat, puasa, dan semua ibadah yang telah ditinggalkannya dahulu. Pertanyaannya, apakah orang tadi memang diperintahkan untuk menqadha’ shalat dan puasa, ataukah cukup ia taubat dan jalankan ibadahnya sekarang?
Beliau menjawab, “Siapa yang meninggalkan shalat dan puasa lalu bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha, ia tidak harus menqadha’ apa yang pernah ditinggalkan. Karena meninggalkan shalat adalah perbuatan besar yang mengeluarkan dari agama (Islam), walaupaun orang yang meninggalkannya tidak menentang kewajibannya menurut satu dari dua pendapat ulama yang lebih shahih. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

قُل لِلَّذِينَ كَفَرُواْ إِن يَنتَهُواْ يُغَفَرْ لَهُم مَّا قَدْ سَلَفَ

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu. . . ” (QS. Al-Anfal: 38)

. . . Siapa yang meninggalkan shalat dan puasa lalu bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha, ia tidak harus menqadha’ apa yang pernah ditinggalkan . . . (Syaikh Ibnu Bazz)
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Islam menghancurkan apa yang sudah dikerjakan sebelumnya (dari kekufuran), dan taubat menutup perbuatan-perbuatan sebelumnya.”

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (QS. Thaahaa: 82)
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,. . . ” (QS. Al-Tahriim: 8)

Di antaranya sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
اَلتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ

"Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa." (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).

Bagi orang yang bertaubat disyariatkan memperbanyak amal-amal shalih setelah bertaubat. Juga sering memohon kepada Allah agar tsabat (keteguhan) di atas kebenaran dan husnul khatimah. Wallahu waliyyut taufiq.” (Selesai dari penuturan Syaikh Ibnu Bazz. Lihat: Fatawa Islamiyah yang dikumpulkan Muhammad Musnid: 4/165)

Bisa kita bayangkan, jika orang yang bertaubat dari meninggalkan shalat berbulan-bulan atau bertahun-tahun, lalu ia harus tetap menqadha’ (mengganti pelaksanaan) semua shalat dan puasa tersebut, tentunya ini akan meyersulitkannya. Ini bisa membuatnya awang-awangen (bahasa jawa,- merasa sangat berat) untuk bertaubat. Dikhawatirkan, ia berputus asa lalu nekat dengan maksiatnya. Walaupun diakui, di sana ada pendapar Jumbur ulama yang tetap mewajibkan orang yang bertaubat dari meninggalkan shalat agar menqadha’nya. Mereka berdalil dengan hadits-hadits qadha’ atas orang yang meningalkan shalat karena tertidur dan lupa. Wallahu Ta’ala A’lam.

Oleh: Badrul Tamam

www.voa-islam.com

Menguak Misteri dan Rahasia Adzan Shalat Subuh


Ada sebuah misteri dan rahasia adzan shalat subuh yang perlu para pecinta misteri ketahui. Misteri ini ada kaitannya dengan salah satu bait yang ada dari bunyi azdan subuh, yang artinya “Sholat lebih baik dari pada tidur”. Kalimat seperti ini hanya ada ketika adzan subuh dan tidak ada pada adzan yang lainnya. kalimat seperti itu tentu mengandung sebuah makna tersendiri.

Penjelasan Ilmiah tentang fungsi syaraf
Dalam sebuah studi kasus, didapat sebuah kesimpulan bahwa kebanyakan puncak terjadinya serangan jantung dimulai pada jam 6 pagi sampai dengan jam 12 siang. Itu terjadi karena telah terjadi ketegangan pada saraf simpatis dan menurunnya rasa tegang pada saraf parasimpatis. Istilah seperti itu digunakan oleh bangsa China dengan sebutan Yang dan Yin.

Syaraf simpatis yang tegang akan meningkat dan membuat tubuh kita merasa segar bahkan siap untuk beraktifitas, ketika tekanan darah meningkat maka denyut jantung menjadi lebih kuat dan organ tubuh lainnya juga mulai berfungsi.

Ketika saraf parasimpatis menjadi tegang dan terjadi peningkatan, maka tekanan darah akan turun, denyut jantung berkurang dan ritmenya mulai melambat. Akibatnya terjadi peningkatan aliran darah ke daerah perut, yang berfungsi untuk menggiling makanan dan aliran darah ke otak menjadi berkurang sehingga kita akan merasa mengantuk.

Penjelasan ilmian tentang darah
Pada saat pergantian waktu terutama menjelang dini hari hingga siang hari maka secara perlahan ada peningkatan adrenalin yang dapat mengakibatkan penyempitan pembuluh darah dan dapat meningkatkan agregrasi trombosit walaupun kita sedang tertidur. Agregrasi trombosit adalah saling menempelnya sel trambosit satu dengan yang lain agar darah menjadi beku. Kondisi tersebut dapat terjadi pada siapa saja, baik orang dewasa maupun pada bayi. Maka dari itu kebanyakan bayi akan bangun pada saat menjelang subuh, karena pola tubuh bayi masih sangat baik dan dapat membaca pergerakan alam dengan baik. Ritme seperti ini disebut dengna ritme Circadian atau sama dengan ritme sehari-hari.

Pada tahun 1980 Furchgott dan Zawadsky meneliti tentang sel dinding arteri yang ada dalam pembuluh darah. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa pembuluh darah yang masih normal atau tidak hilang akan segera melapisi dinding sel bagian dalam dan akan melebar jika ditetesi sebuah zat kimia yang disebut dengan Asetikolin. Sedangkan jika sel-sel pembuluh darah yang berada di luar tubuh dan kemudian ditetesi Asetikolin tidak melebar, itu adalah sebuah penemuan besar, yang belum pernah ada. Dengan adanya penelitian tersebut maka seluruh dunia mulai meneliti mengapa sel yang berada di dalam tubuh bereaksi terhadap zat sedangkan yang di luar tubuh tidak memberikan reaksi. Salah satu dari hasil penelitian tersebut menyebutkan adanya kandungan NO atau disebut dengan Nitrit Oksida. Hasil penelitian tersebut berhasil ditemukan oleh Ignarro dengan Murad. Dengan demikian maka Furchgott, Ignarro, dan Murad berhasil mendapat NOBEL pada tahun 1998.

Pada kenyataanya zat NO tersebut selalu diproduksi, baik dalam keadaan istirahat tidur atau pada saat sedang beraktifitas. Produksi zat tersebut dapat meningkat karena obat Nifedipin, nitrat dll, akan tetapi produksi zat tersebut juga dapat meningkat dengan cara bergerak atau berolahraga. Efek lain yang diberikan Nitrik oksida adalah dapat mencegah pembekuan darah, atau dapat mengurangi agregrasi dalam sel trombosit. Maka dari itu ketika kita bangun pada saat subuh dan melakukan beberapa aktifitas ringan seperti jalan ke mesjid dan melakukan sholat subuh maka itu akan memberikan pengaruh yang sangat baik untuk tubuh, terutama pada jantung. Ketika kadar NO yang ada dalam darah naik karena aktifitas yang kita lakukan, seperti wudhu, shalat bahkan disertai dengan jalan kaki ke masjid ,maka secara tidak langsung itu akan mencegah terjadinya penyakit jantung.

Posisi Ruku
Misteri dan rahasia adzan shalat subuh berikutnya adalah tentang berbagai macam posisi ketika kita melakukan sholat dan salah satunya adalah ruku dan juga sujud. Apakah kita tahu, bahwa ketika kita mengerjakan posisi ini maka dapat meningkatkan tonus parasimpatis.

Ketika kita berolahraga maka tubuh akan membuat NO yang berfungsi untuk melawan zat adrenalin yang meningkat, dan itu akan berakibat pada menyempitkan pembuluh darah dan akan membuat sel trombosit darah menjadi kacau bahkan saling menempel.

Petunjuk Shalat subuh
Shalat subuh sudah diperkenalkan sejak lama, terutama pada zaman nabi. Hanya saja masih banyak yang belum mengerti manfaat ketika kita menjalankan shalat Subuh seperti ini. Memang belum banyak yang meneliti secara dalam manfaat ketika kita shalat subuh dan manfaat kenapa kita harus bangun pagi. Dengan adanya hasil penelitian ini maka diharapkan bahwa mulai saat ini, ketika waktu Subuh tiba, maka kita akan bangun dan melakukan ibadah sholat. Setelah itu melakukan beberapa aktifitas yang lain. Namun jika kita merasa malas maka tubuh tidak akan mendapatkan manfaat yang lebih. Itulah sedikit penjelasan tentang misteri dan rahasia adzan shalat subuh, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Penulis: ARIS FOURTOFOUR
Sumber: http://m.log.viva.co.id