Hikmah Sholat

Buah dan hikmah sholat adalah dapat menghibur hati dan membuat wajah berseri-seri.

Berdoalah Kepada Allah

Allah memerintahkan kepada hambanya untuk mengembalikan segala keluh kesah kepadaNya meminta tolong dengan sholat, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.

Manfaat Sujud dalam Sholat

Memperkuat saraf mata, saraf hidung, saraf telinga, saraf leher, saraf otak atau kepala. Memperkuat lutut, Memperkuat saraf pada kaki dan memperkuat organ-organ dalam tubuh, jantung, hati, pancreas, dan sebagainya.

Kosmologi Shalat (4)


Manusia diberi berbagai keistimewaan oleh Sang Pencipta, Allah SWT, seperti satu-satunya makhluk yang  diciptakan langsung oleh kedua tangan Tuhan (khalaqtu bi yadayya) (QS Shad [38]: 75), makhluk-makhluk lain termasuk malaikat hanya diciptakan dengan satu tangan Tuhan (khalaqtu bi yadi).

Hanya kepada manusia berlaku konsep taskhir, yaitu penundukan segenap alam semesta kepadanya (wa sakhkhara lakum ma fis samawati wa ma fil ardli jami’an) (QS at-Jatsiyah [45]: 13).

Alquran menegaskan manusia makhluk paling sempurna di antara seluruh makhluk (laqad khalaqnal insan fi ahsani taqwim (QS at-Tin [95]: 4).
Namun demikian, keutamaan-keutamaan itu hendaknya tidak membuat manusia lupa diri dan semena-mena tanpa batas mengeksploitasi alam semesta di luar ambang batas daya dukungnya karena alam semesta paling taat dan paling ikhlas di dalam mendirikan shalat.

Makhluk makrokosmos tidak pernah mengusik pengabdian kepada Tuhannya dengan membanggakan diri  (istikbar), dengan mengunggulkan asal usul kejadiannya, sebagaimana dilakukan iblis.
“Hai iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu  menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS Shad [38]:74).

Makhluk makrokosmos juga tidak pernah mengangkat diri tinggi-tinggi (‘alin), dengan mengunggulkan prestasi spiritualnya, sebagaimana dilakukan Malaikat. “(Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman  kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’

Mereka berkata, ‘Apakah Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?’  Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 30).

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
http://www.republika.co.id


Doa Iftitah

Doa iftitah adalah doa yang dibaca pada waktu shalat setelah takbiratul ihram. Baik sholat wajib maupun sunnah. Membaca doa iftitah hukumnya sunnah.

Adapun bacaan doa iftitah yang masyhur dibaca setelah takbiratul ihram (rakaat pertama) sebelum surat al-fatihah, adalah:

Doa Iftitah Pertama



(Allahu akbar, kabirau walhamdu  lillahi katsira, wa subhanallahi bukrotaw washila inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal arha hanifam muslimaw wa ma ana minal musyrikin inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin la syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin)

Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyak pujian. Dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore. Kuhadapkan wajahku kepada Dzat yang mencipta langit dan bumi dalam keadaan lurus dan pasrah. Dan aku bukanlah dari golongan orang-orang yang menyekutukan Allah. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan Semua Alam, tiada sekutu bagi-Nya. dan begitulah aku diperintahkan dan aku dari golongan orang muslim.

Doa Iftitah Kedua


Allaah-humma baa-‘id bai-nii wa bai-na kha-thaa-yaa-ya kamaa baa-‘ad-ta bai-nal masy-riqi wal magh-rib. Allaah-humma naqqi-nii min khathaa-yaa-ya kamaa yunaq-qats-tsaubul ab-ya-dlu minad danas. Allaah-hummagh-sil-nii min khathaa-yaa-ya bil maa-i wats-tsalji wal barad. (HR. Bukhari dan Muslim).

Artinya: “Ya Allah jauhkanlah antara diriku dengan kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara Timur dan Barat,Ya Allah bersihkanlah diriku dari segala kesalahan sebagaimana bersihnya kain putih dari kotoran,Ya Allah cucilah segala kesalahanku dengan air, salju, dan embun.”

Doa Iftitah Ketiga

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

Subhaana-kallaah-humma wa biham-dika wa tabaa-rakas-muka wa ta-‘aa-laa jadduka wa laa-ilaaha ghai-ruk. (HR. Abu Daud dan dishahihkan Al Albani).

Doa Iftitah Keempat

Seperti do’a iftitah di atas, tetapi dengan tambahan bacaan berikut:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ (ثَلاَثًا)  اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا (ثَلاَثًا)

Laa-ilaaha-illallaah (3 kali) allaahu akbar kabii-raa (3 kali).
Keterangan: Do’a iftitah ini dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat shalat malam. (HR. Abu Dauddan dishahihkan Al Albani).

Doa Iftitah Kelima

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

Allaahu akbar kabiiraa wal hamdu lillaahi katsiiraa wa subhaa-nallaa-hi buk-rataw wa ashii-laa. (HR. Muslim)

Keterangan: Do’a iftitah ini dibaca oleh salah seorang sahabat ketika shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda: “Aku kagum dengan do’a ini. Pintu-pintu langit telah dibuka karena do’a ini.” Kata Ibn Umar: “Sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian Saya tidak pernah meninggalkan do’a ini.” (HR. Muslim)

Doa Iftitah Keenam
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Al hamdu lil-laahi hamdan katsii-ran thayyi-ban mubaa-rakan fiih (HR. Muslim)
Keterangan: Do’a ini dibaca oleh salah seorang sahabat ketika shalat jamaah. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat 12 malaikat berlomba siapakah di antara mereka yang mengantarkannya (kepada Allah, pen.)) (HR. Muslim).

Doa Iftitah Ketujuh

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Allaa-humma rabba jib-riila wa mii-kaa-iil wa israafiil. Faa-thiras samaa-waati wal ardl. ‘aali-mal ghai-bi was syahaa-dah. Anta tahkumu bai-na ‘ibaa-dik fii-maa kaa-nuu fiihi yakh-tali-fuun. Ihdi-nii limakh-tulifa fiihi minal haqqi bi-idznik. Innaka tahdii man tasyaa-u ilaa shiraa-tim mustaqiim.

Do’a iftitah ini adalah do’a yang dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat malam.

Sumber:


Kosmologi Shalat (3)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, “Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Alkitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS al-An’am [6]:38). 

Pada ayat lain, “Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.” (QS ar-Rahman [55]:6).

Bahkan, makhluk yang selama ini dipersepsikan sebagai benda mati pun shalat. “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS al-Isra’ [17]:44).

Shalat bagi manusia selain berfungsi sebagai pernyataan kehambaan diri kepada Tuhan, juga untuk membantu mengendalikan diri mereka sebagai khalifah.

Pada bagian pertama dari artikel ini dijelaskan shalat sebagai bentuk persembahan khusus kepada Sang Khalik dari para makhluk-Nya, baik makhluk makrokosmos (alam semesta) maupun mikrokosmos (manusia).

Walaupun bentuk dan cara sholat mereka masing-masing berbeda satu sama lain namun intinya shalat mereka merupakan ekspresi penghambaan diri terhadap Sang Khaliq yang sekaligus sebagai Tuhannya.

Manusia sebagai makhluk mikrokosmos, selain kapasitasnya sebagai hamba, juga  diamanati tugas ganda sebagai khalifah, yakni representatif Tuhan di dalam mengelola alam ini.

Karena itu, shalat bagi manusia selain berfungsi sebagai pernyataan kehambaan diri kepada Tuhan, juga untuk membantu  mengendalikan diri mereka sebagai khalifah di jagat raya (khalaif al-ardh).

Hal ini ditegaskan di dalam Alquran surah al-‘Ankabut ayat 45, “Sesungguhnya shalat mencegah kepada keburukan dan kemungkaran.”

Allah SWT juga menjamin orang-orang yang rajin menunaikan shalat akan berdampak positif di dalam penampilannya, yaitu ada bekas sujud tercermin di wajahnya (simahum fi wujuhihim min atsaris sujud) (QS al-Fath [48]: 29).

Dalam Alquran juga disebutkan shalat berpengaruh penting untuk mewujudkan kesadaran dan konsentrasi manusia (aqimis shalata li dzikri) (QS Thaha [20]:14), bahkan shalat menghadirkan ketenangan jiwa (ala bi dzikrillah tathmainnul qulub) (QS  ar-Ra’d [13]:28).

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
http://www.republika.co.id


Kosmologi Shalat (2)


Sedangkan, makhluk bershalawat kepada Allah SWT dalam arti doa disebutkan pada ayat, “Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS an-Nur [24]: 41).

Shalat dalam arti umum ialah persembahan dari makhluk kepada Sang Khalik. Di dalam Alquran dijelaskan bahwa yang melaksanakan shalat bukan hanya manusia, melainkan semua makhluk, termasuk benda mati. Bentuk dan kaifiyah-nya tentu berbeda satu sama lain.

Malaikat melakukan sholat  disebutkan dalam ayat, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS al-Baqarah [2]: 30).

Para manusia menunaikan shalat disebutkan dalam berbagai ayat, di antaranya dalam (QS an-Nur [24]: 41).

Langit, bumi, bintang-bintang, pepohonan, dan berbagai jenis binatang juga shalat, sebagaimana disebutkan di dalam ayat, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauhul Mahfuz) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS al-Hajj [22]:70).

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
http://www.republika.co.id


Indahnya Shalat Tahajud Rasulullah

Muhammad adalah seorang Rasulullah, walaupun beliau orang yang maksum tetapi tetap memiliki sebuah amalan ibadah ibadah yang luar biasa. Amalan itu adalah shalat Tahajud. Bahkan shalat Tahajud ini merupakan gemblengan Allah kepada genarasi awal untuk meneguhkan mereka. Sehingga mereka mampu untuk mengemban misi menyebarkan dan mempertahankan tauhid di muka bumi ini.

Rasulullah adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah, orang yang paling taqwa dan orang yang paling dicintai allah. Tak seorang pun yang dapat menyamai rasulullah dalam hal ini, apalagi melebihinya. Makanya, dalam setiap kesempatan beliau selalu menyibukkan diri beribadah kepada Allah, tak terkecuali waktu tengah malam saat manusia terlelap dalam tidur panjangnya. Beliau selalu mengisi malam-malam dengan shalat tahajud dan bermunajat kepada Allah.

Dari ‘Aisyah ia berkata : “Rasulallah mengerjakan shalat malam setelah mengerjakan shalat isya’ hingga waktu fajar menyingsing.” (HR. Ahmad).

Abdullah bin Rawahah mensifati Nabi dengan berkata : “Beliau tidur malam (hanya sebentar), lambungnya jauh dari tempat tidurnya. Walaupun sebenarnya bagi orang-orang musyrik meninggalkan tempat tidur itu sangat berat.” (HR. Al Bukhari).

Pemanasan Sebelum Tahajud
Rasulullah bila hendak melaksanakan shalat tahajud, beliau membuka dengan shalat ringan dua rakaat. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan rasa kantuk dan agar ringan dalam melaksanakan shalat Tahajud.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata : “Adalah Rasulullah jika bangun di malam hari untuk melaksanakan shalat, maka beliau membuka shalatnya dengan mengerjakan shalat dua rakaat ringan.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat yang lain dari Abu Hurairah, Nabi bersabda : “Jika salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat di malam hari, maka hendaklah ia membukanya dengan dua rakaat ringan.” (HR. Muslim).

Lama berdiri Rasulullah
Rasulullah suka memanjangkan waktu berdiri dalam mengerjakan shalat Tahajud. Ketika beliau ditanya, “Shalat seperti apa yang paling utama?” Beliau menjawab : “Shalat yang panjang berdirinya.” (HR. Ad Darimi).

Dalam hadits yang diriwayatkan dari huzaifah bahwa ia berkata : “Aku pernah mengerjakan shalat bersama nabi pada suatu malam. Beliau membuka rakaat dengan bacaan surat Al Baqarah, dan baru ruku’ kira-kira pada ayat ke seratus. Beliau melanjutkan shalatnya, kemudian membaca kelanjutan surat Al Baqarah pada satu rakaat berikutnya hingga selesai, baru kemudian rukuk. Pada rakaat berikutnya beliau membaca surat An Nisa’ hingga selesai, dan dilanjutkan kemudian dengan membaca surat Ali Imran secara perlahan hingga selesai pula. Jika melewati ayat yang berisi tasbih, beliau pun bertasbih, jika melewati ayat tentang permohonan beliau pun memohon, dan jika melewati ayat tentang perlindungan maka beliau pun memohon perlindungan. Sesudah itu, beliau pun rukuk dan membaca, Subhaana rabbiyal ‘adzim (Maha suci rabbku yang agung).” Lama rukuk beliau kurang lebih sama dengan lamanya berdiri. Sesudah itu, beliau mengucapkan, “Sami allahu liman hamidah (Allah maha mendengar orang yang memuji-Nya).” Sesudaha itu, beliau berdiri lagi cukup lama, kurang lebih hampir sama dengan waktu rukuk. Selanjutnya, beliau bersujud dan membaca “Subhana rabbiyal a’la(Maha suci allah yang maha tinggi).” (HR. Abu Dawud).

Kesungguhan Rasulullah

Rasulullah adalah contoh orang yang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan shalat Tahajud. Sebagai bukti hingga kaki beliau bengkak. Sebagaimana dijelaskan hadits dari Mughirah bin Syu’bah, bahwa Nabi Shalat hingga kedua kakinya bengkak. Kemudian beliau ditanya, : “Mengapa engkau terlalu memaksakan diri seperti ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab : “Tidak bolehkan aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat yang lain ‘Aisyah, ia berkata : Rasulullah apabila shalat malam beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak.” A’isyah bertanya: “Mengapa engkau berbuat seperti ini, padahal allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang”. Maka Nabi menjawab: “Tidak bolehkan aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah tidak pernah meninggalkan shalat tahajud walaupun sakit. Sebagaimana diriwayatkan ‘Aisyah berkata : “Hendaklah kalian melakukan qiyamullail karena Rasulullah tidak pernah meninggalkannya, jika beliau sakit maka beliau melakukannya sambil duduk.” (HR. Ahmad dan Muslim).
Penutup shalat malam

Setelah mengerjakan shalat malam Rasulullah menutupnya dengan shalat Witir. Ini berdasarkan riwayat dari A’isyah, bahwa Nabi mengerjakan shalat malam, sementara itu, ‘Aisyah tidur melintang di hadapan beliau. Ketika tinggal mengerjakan shalat witir, maka beliau membangunkannya, lalu ia pun ikut shalat Witir.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat yang lain Rasulullah ketika tinggal mengerjakan shalat Witir, maka beliau berkata kepada ‘Aisyah: “Bangunlah dan kerjakanlah shalat witir wahai ‘Aisyah.” Inilah protret keluarga yang sakinah mawaddah warahmah dengan senantiasa membiasakan shalat malam. (Anwar/Annajah)


http://www.an-najah.net

Sujud Tilawah


Sujud tilawah (Arab, سجود التلاوة) adalah gerakan sujud yang dilakukan ketika membaca ayat sajadah dalam Quran. Sujud tilawah terdiri dari sekali sujud. Sujud tilawah dapat dilakukan di saat sedang melakukan shalat atau di luar shalat. Sujud tilawah adalah ibadah yang disyariatkan oleh Rasulullah berdasarkan pada hadits-hadits sahih. Hukumnya sunnah muakkad menurut madzhab Syafi'i, Hanbali, Maliki dan wajib menurut madzhab Hanafi.


PENGERTIAN
Secara etimologis (lughawi) ia adalah masdar (verbal noun) dari fi'il madhi sa-ja-da. Asal dari sujud adalah merendahkan diri pada Allah. Dalam terma syariah sujud berarti meletakkan dahi atau sebagiannya pada bumi atau sesuatu yang berhubungan dengannya.

Sedangkan sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan karena membaca salah satu ayat Quran yang mengandung sajadah. Sujud tilawah tidak diawali dengan takbirotul ihrom dan tidak diakhiri dengan salam.


DALIL DASAR SUJUD TILAWAH
- Hadits riwayat Bukhari

كَانَ النَّبِيُّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏يَقْرَأُ عَلَيْنَا السُّورَةَ فِيهَا السَّجْدَةُ فَيَسْجُدُ وَنَسْجُدُ حَتَّى مَا يَجِدُ أَحَدُنَا مَوْضِعَ جَبْهَتِهِ

Artinya: Rasulullah SAW membacakan kami suatu surat, kemudian beliau bersujud dan kami pun bersujud

- Hadits riwayat Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ ، اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي يَقُولُ : يَا وَيْلَهُ وَفِي رِوَايَةِ أَبِي كُرَيْبٍ يَا وَيْلِي أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ 

Artinya: Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.

- Hadits riwayat Bukhari

عن عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رَضِي اللَّه عَنْه – قَرَأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِسُورَةِ النَّحْلِ حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ نَزَلَ فَسَجَدَ وَسَجَدَ النَّاسُ ، حَتَّى إِذَا كَانَتِ الْجُمُعَةُ الْقَابِلَةُ قَرَأَ بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ قَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ ، وَلَمْ يَسْجُدْ عُمَرُ رَضِي اللَّه عَنْهم

Artinya: Dari Umar bin Khattab dia pada hari Jum’at membaca di atas mimbar surat an-Nahl, hingga bila sampai pada ayat sajdah beliau turun lalu sujud sehingga orang-orang pun sujud. Saat Jum’at berikutnya, beliau membaca lagi surat tersebut hingga sampai pada ayat sajdah, beliau berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kita melewati ayat sajdah. Barang siapa bersujud sungguh ia telah benar, dan barang siapa tidak bersujud maka tiada dosa baginya.’ Dan Umar sendiri tidak bersujud.

- Hadits riwayat Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Malik

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَأَهُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَجْدَةً فِي الْقُرْآنِ ، مِنْهَا ثَلَاثٌ فِي الْمُفَصَّلِ وَفِي سُورَةِ الْحَجِّ سَجْدَتَانِ

Artinya: Rasulullah saw telah mengajarkan kepadanya akan lima belas ayat sajdah dalam Al-Qur’an diantaranya, tiga ayat pada surat yang pendek dan dalam surat Al-Hajj ada dua sajdah.

- Hadits riwayat Muslim

… وإذا سَجَدَ قَالَ : اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Artinya: Dan ketika sujud Nabi berdoa: Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta]

- Hadits riwayat Muslim

عَنْ أَبِي رَافِعٍ – رضي الله عنه – قَالَ : صَلَّيْتُ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – صَلَاةَ الْعَتَمَةِ فَقَرَأَ إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ ، فَسَجَدَ فِيهَا فَقُلْتُ لَهُ : مَا هَذِهِ السَّجْدَةُ ، فَقَالَ : سَجَدْتُ بِهَا خَلْفَ أَبِي الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَا أَزَالُ أَسْجُدُ بِهَا حَتَّى أَلْقَاهُ

Artinya: Dari Abu Rofi’, dia berkata bahwa dia shalat Isya’ (shalat ‘atamah) bersama Abu Hurairah, lalu beliau membaca “idzas samaa’unsyaqqot”, kemudian beliau sujud. Lalu Abu Rofi’ bertanya pada Abu Hurairah, “Apa ini?” Abu Hurairah pun menjawab, “Aku bersujud di belakang Abul Qosim (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) ketika sampai pada ayat sajadah dalam surat tersebut.” Abu Rofi’ mengatakan, “Aku tidaklah pernah bersujud ketika membaca surat tersebut sampai aku menemukannya saat ini.


HUKUM SUJUD TILAWAH: SUNNAH DAN WAJIB
Ulama ahli fiqih sepakat bahwa sujud tilawah itu mashruiyah (berdasarkan syariah) berdasarkan pada dalil Quran dan hadits. Akan tetapi mereka berbeda pendapat dalam soal sifatnya apakah sunnah atau wajib.

Madzhab Syafi'i dan Hanbali berpendapat bahwa sujud tilawah adalah sunnah muakkad, tidak wajib. Madzhab Maliki menyatakan sunnah. Mereka mendasarkan pada dalil dari QS Al-Isra' 17:107-109; dan hadits dari Abdullah bin Umar yang berkata: Rasulullah pernah membaca surat yang ada ayat sajadah-nya, lalu beliau sujud dan kami ikut sujud.

Sujud tilawah menurut ketiga madzhab di atas tidak wajib karena ada hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah terkadang tidak melakukannya. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit ia berkata: Aku pernah membaca Quran Surah An-Najm di depan Nabi, tapi Nabi tidak bersujud tilawah (H.R. Bukhari Muslim).

Adapun yang menganggap sujud tilawah wajib adalah madzhab Hanafi. Wajib bagi pembaca dan pendengar berdasarkan pada hadits: Sujud tilawah wajib bagi orang yang mendengar dan membacanya.


SYARAT SUJUD TILAWAH
Dalam pelaksanaan sujud tilawah ada syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai berikut:

  1. Suci dari hadats kecil dan besar pada badan, pakaian dan tempat. Karena sujud tilawah itu seperti shalat atau bagian dari shalat maka disyaratkan seperti syaratnya shalat. Dalam sebuah hadits dikatakan: Shalat tidak diterima tanpa dalam keadaan suci.
  2. Menutup aurat, menghadap kiblat, niat melaksanakan sujud tilawah.
  3. Masuknya waktu sujud. Yaitu setelah selesainya atau sempurnanya membaca ayat yang mengandung sajadah. Jadi, kalau melakukan sujud sebelum ayat sajadah selesai dibaca, maka tidak sah.

BACAAN SUJUD TILAWAH
- Boleh membaca bacaan yang biasa dibaca saat sujud shalat yaitu (سبحان ربي الأعلى) Subhana Robbiyal A'la sebanyak 3x.

- Dapat juga ditambah dengan bacaan berikut (berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi):

سجد وجهي للذي خلقه وشق بصره وسمعه بحوله وقوته ، فتبارك الله أحسن الخالقين

- Juga disunnahkan membaca bacaan berikut (berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi):

اللهم اكتب لي بها عندك أجراً ، وضع عني بها وزراً ، وتقبَّلها مني كما تقبَّلتها من عبدك داود عليه السلام


CARA SUJUD TILAWAH DI LUAR SHALAT
Sujud tilawah dapat dilakukan saat sedang shalat atau di luar shalat. Adapun cara sujud tilawah di luar shalat adalah sebagai berikut:

1. Niat dan Membaca takbir dan mengangkat kedua tangan untuk melaksanakan sujud sebagaimana cara mengangkat tangan saat sujud takbirotul ihrom (takbir pertama) saat shalat.
2. Lalu sujud tanpa mengangkat tangan saat turun hendak sujud.
3. Sujud hanya satu kali dan sunnah membaca "سبحان ربي الأعلى" tiga kali dan membaca doa berikut
[سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ]
4. Lalu mengangkat kepala dari sujud dengan membaca takbir.
5. Duduk tanpa membaca tahiyat (tasyahud) dan
6. Diakhiri dengan mengucapkan salam.


CARA SUJUD TILAWAH SAAT SHALAT
Kalau sujud tilawah dilakukan saat sedang shalat karena membaca ayat Quran yang mengandung sajadah, maka tatacaranya sedikit berbeda yakni tanpa diakhiri dengan salam. Detailnya sebagai berikut:
  1. Niat dan Mengucapkan takbir untuk sujud
  2. Saat sujud mengucapkan "سبحان ربي الأعلى" tiga kali. Jumlah sujud hanya sekali.
  3. Mengucapkan takbir saat bangun dari sujud.
  4. Selesai sujud berdiri tegak kembali dan meneruskan bacaan shalat kalau masih ada ayat yang hendak dibaca. Kalau tidak ada lagi ayat yang ingin dibaca, maka ia dapat melakukan rukuk shalat.

AYAT-AYAT SAJADAH DALAM QURAN 
Ulama ahli fiqih sepakat bahwa ayat sajadah terdapat dalam 10 ayat dalam Al-Quran. Berikut ayat-ayat sajadah yang sunnah melakukan sujud tilawah setelah selesai membaca ayat tersebut.

1. Quran Surat Al-A'raf ayat 206
2. QS Ar-Ra'd ayat 15
3. QS An-Nahl ayat 49
4. QS Al-Isra ayat 107
5. QS Maryam ayat 58
6. QS Al-Haj ayat 18
7. QS An-Naml ayat 25
8. QS As-Sajadah ayat 15
9. QS Al-Furqan ayat 60
10. QS Fussilat ayat 38
11. QS Al-Haj ayat 77
12. QS An-Najm ayat 62
13. QS Al-Insyiqaq ayat 21
14. QS Al-Alaq ayat 19
15. QS Shad ayat 28


WAKTU MAKRUH MELAKUKAN SUJUD TILAWAH

Sujud tilawah makruh dilakukan pada waktu-waktu yang makruh melakukan shalat sunnah yaitu:

1. Setelah shalat subuh sampai terbit matahari.
2. Saat terbit matahari sampai naik setinggi panah atau sekitar 25 detik.
3. Saat matahari tepat berada di atas yakni sekitar 3 detik.sebelum masuk waktu dhuhur.
4. Sepertiga jam sebelum terbenam matahari.
5. Ketika terbenam matahari

Sumber : http://www.alkhoirot.net

Kosmologi Shalat (1)


Di dalam Alquran dijelaskan bahwa yang melaksanakan shalat bukan hanya manusia, melainkan semua makhluk, termasuk benda mati.

Secara etimologi shalat berasal dari akar kata shala-yushla, kemudian membentuk kata shalla berarti doa, zikir, dan ketaatan (al-du’a, al-dzikr, wa  al-itha’ah).

Secara terminologi biasa diartikan dengan perbuatan tertentu beserta syarat-syarat tertentu dilakukan dalam waktu tertentu yang unsurnya terdiri atas berdiri, rukuk, duduk, sujud, tasbih, dan tahlil yang dimaksudkan sebagai salah satu bentuk ibadah khusus (mahdhah) kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Dalam tradisi ilmu hakikat shalat merupakan suatu hakikat idhafiyah(sandaran) antara “da’i” dan “mad’u” atau antara hamba dan Tuhan.

Para ahli hakikat memaknai shalat itu sebagai rangkaian secara fungsional dari berbagai derivasi yang muncul dari kata shalat, yaitu wushlah (sambungan), shila (hubungan), washl (tersambung), wishal (ketersambungan), shaulah (sambungan), dan shalaa  (ketersambngan).

Shalat berfungsi sebagai wushlah karena menyambung antara dua bagian menjadi satu yang sebelumnya berpisah. Shalat berfungsi sebagaishilah karena sebagai media penyampaian sebuah pemberian yang dimohon oleh sang pemohon.

Shalat berfungsi sebagai shaulah karena menjadi sarana penghubung antara Sang Mahakuasa dengan sang makhluk yang lemah.

Shalat juga berfungsi sebagai salwu karena menyungkurkan diri sang penyembah kepada Tuhannya yang disembah. Sedangkan, du’au ialah permohonan untuk sampaikan apa yang dimintanya dari tempat berdoa itu.

Menurut Dawud al-Qaishari dalam Syarah Fushush al-Hikam, kata shalawat yang disandarkan kepada Allah SWT untuk hamba-Nya berarti rahmat, shalawat dari malaikat kepada manusia bermakna istighfar, dan shalawat dari manusia kepada Tuhannya berarti doa.

Allah SWT bershalawat kepada hamba-Nya dalam arti memberi rahmat, sebagaimana dicontohkan di dalam Alquran, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzab [33]: 56).

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar
http://www.republika.co.id


Sholat Adalah Amal Pertama Dihisab


Albani dalam kitab, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah ,menyebutkan Nabi SAW bersabda”Yang pertama kali ditanya kepada seorang hamba pada hari kiamat adalah perhatian kepada sholatnya. Jika shalatnya baik, dia akan beruntung. Dan jika sholatnya rusak, dia akan gagal dan merugi. (HR Tabrani, Tirmidzi dan An Nasa-i)

Dari Anas bin Malik ra, Nabi SAW bersabda,
 “Yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya, jika sholatnya baik akan baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak , rusak pula seluruh amalnya
(HR Abu Daud:At-Tirmizi, Shahih Al-Jami’,  al-Albani)

Oleh sebab itu perbaiki shalat, bukan sekedar melepaskan kewajiban semata, namun menjaga segala adab, tatacara, kekhusukan dan segala hal terkait dengan yang membuat sholat menjadi baik dan sempurna.

Jangan pernah menyerah jika Anda atau kita semua belum mampu untuk mengerjakan sholat dengan sempurna, teruslah berusaha. Seiring dengan waktu Anda akan mampu (dengan pertolongan dan izin Allah SWT) untuk melaksanakan sholat dengan khusuk dan sempurna. Insya Allah.

Salah satu upaya melengkapi sholat dengan sempurna adalah dengan mengerjakan sholat sunnah rawatib.


Nabi SAW bersabda "Sesungguhnya pertama-tama yang akan diperhitungkan (hisab) dari amal perbuatan manusia pada Hari Kiamat kelak adalah shalat. Rabb kita akan berfirman kepada malaikat-malaikat-Nya. Karena Dia Dzat Yang Maha Mengetahui, "Wahai para malaikat-Ku, periksalah shalat hamba-Ku, sudahkah sempurna shalatnya atau masih kurang? Apabila didapatkan sudah cukup sempurna, akan dicatat sudah sempurna. Akan tetapi, apabila didapati kurang sempurna, Allah akan berfirman, "Periksa kembali, apakah hamba-Ku itu memiliki amalan shalat sunah (tathaawwu’)?” Apabila didapati bahwa ia memiliki amalan sunah tambahan (shalat sunah tathawwu’), Allah akan berfirman, "Cukupkan dan sempurnakan shalat fardhu hamba-Ku itu oleh shalat sunahnya.” Kemudian, amal perbuatan sang hamba itu diperhitungkan menurut cara seperti ini.” (HR Abu Daud).

Rahasia Mengapa Shalat Harus di Awal Waktu


Rasulullah saw sangat menganjurkan umatnya untuk melaksanakan shalat fadhu di awal Seperti yang beliau sabdakan,”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt adalah Shalat pada waktunya, Berbakti kepada kedua orang tua, dan Jihad di jalan Allah Swt.” (HR Bukhari & Muslim)

Ternyata anjuran tersebut ada hikmahnya. Menurut para ahli, setiap perpindahan waktu sholat, bersamaan dengan terjadinya perubahan tenaga alam dan dirasakan melalui perubahan warna alam. Kondisi tersebut dapat berpengaruh pada kesehatan, psikologis dan lainnya. Berikut ini kaitan antara shalat di awal waktu dengan warna alam.

Waktu Subuh
Pada waktu subuh, alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersesuaian dengan frekuensi tiroid (kelenjar gondok). Dalam ilmu Fisiologi (Ilmu biologi yang mempelajari berlangsungnya sistem kehidupan) tiroid mempunyai pengaruh terhadap sistem metabolisma tubuh manusia. Warna biru muda juga mempunyai rahasia tersendiri berkaitan dengan rejeki dan cara berkomunikasi. Mereka yang masih tertidur nyenyak pada waktu Subuh akan menghadapi masalah rejeki dan komunikasi. Mengapa? Karena tiroid tidak dapat menyerap tenaga biru muda di alam ketika roh dan jasad masih tertidur. Pada saat azan subuh berkumandang, tenaga alam ini berada pada tingkatan optimal. Tenaga inilah yang kemudian diserap oleh tubuh kita terutama pada waktu ruku dan sujud.

Waktu Zuhur
Alam berubah menguning dan ini berpengaruh kepada perut dan sistem pencernaan manusia secara keseluruhan. Warna ini juga punya pengaruh terhadap hati. Warna kuning ini mempunyai rahasia berkaitan dengan keceriaan seseorang. Mereka yang selalu ketinggalan atau melewatkan sholat Zuhur berulang kali akan menghadapi masalah dalam sistem pencernaan serta berkurang keceriaannya.

Waktu Ashar
Alam berubah lagi warnanya menjadi oranye. Hal ini berpengaruh cukup signifikan terhadap organ tubuh yaitu prostat, rahim, ovarium/ indung telur dan testis yang merupakan sistem reproduksi secara keseluruhan. Warna oranye di alam juga mempengaruhi kreativitas seseorang. Orang yang sering ketinggalan waktu Ashar akan menurun daya kreativitasnya. Di samping itu organ-organ reproduksi ini juga akan kehilangan tenaga positif dari warna alam tersebut.

Waktu Maghrib
Warna alam kembali berubah menjadi merah. Sering pada waktu ini kita mendengar banyak nasehat orang tua agar tidak berada di luar rumah. Nasehat tersebut ada benarnya karena pada saat Maghrib tiba, spektrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis. Pada waktu ini jin dan iblis amat bertenaga karena mereka ikut bergetar dengan warna alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan sholat Maghrib terlebih dahulu. Hal ini lebih baik dan lebih selamat karena pada waktu ini banyak gangguan atau terjadi tumpang-tindih dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama atau hampir sama dan bisa menimbulkan fatamorgana yang bisa mengganggu penglihatan kita.

Waktu Isya
Pada waktu ini, warna alam berubah menjadi nila dan selanjutnya menjadi gelap. Waktu Isya mempunyai rahasia ketenteraman dan kedamaian yang frekuensinya sesuai dengan sistem kontrol otak. Mereka yang sering ketinggalan waktu Isya akan sering merasa gelisah. Untuk itulah ketika alam mulai diselimuti kegelapan, kita dianjurkan untuk mengistirahatkan tubuh ini. Dengan tidur pada waktu Isya, keadaan jiwa kita berada pada gelombang Delta dengan frekuensi dibawah 4 Hertz dan seluruh sistem tubuh memasuki waktu rehat. Selepas tengah malam, alam mulai bersinar kembali dengan warna-warna putih, merah jambu dan ungu. Perubahan warna ini selaras dengan kelenjar pineal (badan pineal atau “mata ketiga”, sebuah kelenjar endokrin pada otak) kelenjar pituitary, thalamus(struktur simetris garis tengah dalam otak yang fungsinya mencakup sensasi menyampaikan, rasa khusus dan sinyal motor ke korteks serebral, bersama dengan pengaturan kesadaran, tidur dan kewaspadaan) dan hypothalamus (bagian otak yang terdiri dari sejumlah nucleus dengan berbagai fungsi yang sangat peka terhadap steroid, glukokortikoid, glukosa dan suhu). Maka sebaiknya kita bangun lagi pada waktu ini untuk mengerjakan sholat malam (tahajud).

Kita sebagai umat Islam sepatutnya bersyukur karena telah di’karuniakan’ syariat shalat oleh Allah Swt sehingga jika dilaksanakan sesuai aturan maka secara tak sadar kita telah menyerap tenaga alam ini. Inilah hakikat mengapa Allah Swt mewajibkan shalat kepada kita sebagai hambaNya. Sebagai Pencipta Allah swt mengetahui bahwa hambaNya amat sangat memerlukan-Nya. Shalat di awal waktu akan membuat badan semakin sehat. Silahkan share artikel ini kepada teman-teman yang lain.


Sumber: syaamilquran.com 

Sholat Sunat Akan Mendatangkan Cinta Allah Pada Hambanya

Abu Hurairah ra. bercerita, dalam hadits Qudsi,  Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi telah berfirman, ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Kunyatakan perang padanya. Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri pada-Ku dengan sesuatu yang Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku itu masih tetap mendekatkan diri  kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah sehingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendegarannya yang dia pergunakan untuk mendengar, pandangannya yang dia pergunakan untuk memandang, tanganya yang dia pergunakan untuk menyerang, dan kakinya yang dia pergunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta kepada-Ku pasti akan Aku kabulkan, dan jika memohon perlindungan kepada-Ku, Aku pasti akan melingdungi. Dan aku tak pernah ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan, keraguanku pada jiwa seorang mukmin yang membenci kematian dan Aku tidak suka menyakitinya. (HR Bukhari).

Hadits Qudsi diatas menyebutkan bahwa kecintaan kepada Allah pada seorang hamba itu akan terwujud berbarengan dengan upaya seorang hamba untuk senantiasa mengerjakan kewajiban-kewajibannya. Sementara keabadian cinta itu akan terwujud dengan upaya mendekatkan diri dengan amalan-amalan sunat yang dikerjakan setelah menunaikan kewajiban-kewajiban.

Dari Abdullah bin Amru bin Al Ash radhiyallahu ‘anhuma berkata : Rasulullah shallallahu ‘laihi wa sallam bersabda :” Sesungguhnya puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasa Dawud. Dan shalat yang paling disukai Allah adalah shalatnya Dawud, dia tidur disetengah malam lalu bangun disepertiga malam dan tidur lagi di seperenam malam. Dia berpuasa pada satu hari dan berbuka pada hari berikutnya.”(HR. Bukhari dan Muslim).

sumber: buku Panduan Sholat. Dr. Sa'id bin Ali



Sholat Sebagai Terapi Penguat Tulang

Didalam tubuh manusia, tulang akan selalu melewati dua tahapan yang berurutan secara berkesinambungan. Kedua tahapan tersebut adalah tahapan pertumbuhan dan tahapan pengeroposan.

Keaftifan dan Kekuatan tulang secara umum tergantung pada kekuatan tekanan dan tarikan yang diperankan oleh otot-otot dan urat-urat ketika ia meregang dan mengendur. Hal ini disebabkan, otot dan urat ini menempel dan melekat di tulang.

Akir-akhir ditemukan bahwa didalam tulang terdapat aliran listrik yang mempunyai dua kutub berbeda yang berpengaruh terhadap pembagian tugas sel-sel tulang. Tentunya sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing, yaitu sel pertumbuhan dan sel pengeroposan. Disamping juga berfungsi dalam mengarahkan aktifitas sel-sel ini.

Aliran listrik ini akan berkurang dan tulang akan kehilangan materi-materi zat yang membentuknya sehingga tulang akan mengecil dan melemah, ketika seseorang berada dalam kondisi lengah atau istirahat. Artinya dalam keadaan banyak bermalasan atau berdiam, maka tulang akan menjadi kecil dan melemah.

Tulang menjadi kuat dengan latihan, tulang juga akan menjadi kuat jika dilatih dengan olahraga rutin. Penelitian menunjukkan, para wanita dan pria muda yang rutin berolahraga ternyata memiliki tulang dengan tingkat kepadatan yang lebih tinggi. Rutin berolahraga juga penting untuk mencegah pengeroposan tulang yang umum terjadi seiring bertambahnya usia.

Tapi, tak semua jenis olahraga memiliki fungsi yang sama. Jenis olahraga yang paling tepat untuk kesehatan tulang adalah olahraga weight-bearing, yaitu olahraga yang sifatnya membuat Anda 'melawan' gravitasi. Jenis olahraga ini bermanfaat untuk memberi beban pada tulang yang diperlukan untuk mendorong perkembangan tulang yang kuat dan sehat. Bukankah sholat itu sebahagian besar gerakannya adalah gerakan-gerakan yang melawan gravitasi bumi?

Dengan demikian tidak diragukan lagi sholat menjadi komponen penguat tulang. Sehingga membuat tulang menjadi kuat dan sehat. Kita bisa perhatikan pada masyarakat muslim yang senantiasa menjaga sholatnya, hampir tidak ditemukan  adanya pembengkokan punggung yang sering terjadi seiring dengan ebrtambahnya usia.

Seorang dokter forensic yaitu  dokter spesialis orthopedic (dokter tulang) terkenal asal Prancis, suatu saat kala ia berlibur ke Mesir. Di sela-sela kunjungannya di antara mesjid-mesjid Mesir, ia menemukan praktik pengobatan baru untuk penyakit-penyakit punggung.

Resep (terapi) sakit punggung yang diajukan adalah dengan cara melakukan gerakan-gerakan shalat lima kali sehari. Pasalnya, aktivitas sujud dan ruku’ adalah gerakan-gerakan yang berfungsi untuk memperkuat tulang punggung, dan berguna untuk melemaskan tulang belakang (sumsum).


Dari berbagai sumber

Syarat-Syarat Sah Sholat

Syarat sah sholat ada 9:

1. Islam
Dalam Alquran surat at-Taubah ayat 17, Allah SWT berfirma: “Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka itu kekal didalam neraka.”

2. Berakal
Nabi Muhammad bersabda” yang terlepas dari hukum itu ada tiga golongan : orang gila yang hilang akalnya sehingga kembali sadar, orang yang tidur hingga bangun, dan anak kecil hingga baligh” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

3. Mumayyiz
Mumayyiz atinya dapat membedakan yang baik dan buruk. Atau dalam Bahasa fikihnya adalah baligh.

4. Suci dari hadats,
yaitu dengan cara berwudhu untuk meghilangkan hadats kecil, dan mandi junub untuk menghilangkan hadats besar.

Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda,”Tidak diterima sholat orang berhadats sehingga dia berwudhu’”

5. Suci dari najis dari badan, pakaian dan tempat sholat.
Badan, tidak dibolehkan ada sedikitpun najis di badannya. Yang menunjukkan  hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim, no. 292, dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, dia berkata: Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam melewati dua kuburan, kemudian beliau berkomentar: ”Bahwa sesungguhnya keduanya (sedang) disiksa. Dan tidaklah keduanya disiksa dikarenakan dosa besar. Salah satunya karena dia biasa menyebarkan namimah (fitnah) dan yang lain karena tidak membersihkan (najis) dari kencing...” Al-hadits.

Pakaian. Yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Bukhari, no. 227, dari Asma binti Abu Bakar radhiallahu’anhuma, dia berkata: Seorang wanita datang (menemui) Nabi sallallahu’alaihi wasallam dan bertanya: “Bagaiamana pendapat anda, salah seorang di antara kami sedang haid, lalu mengenai baju. Apa yang dia perbuat? (beliau) menjawab: “Hendaknya dia  garuk, kemudian dibersihkan dan disiram dengan air, lalu dia boleh shalat (dengan memakai baju tersebut)”.

Tempat dimana dia shalat. Yang menunjukkan akan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, dia berkata: ”Ada orang badui datang dan kencing di pojok masjid, orang-orang menghardiknya (sementara) Nabi sallallahu’alaihi wasallam melarang (menghardiknya), ketika dia selesai kencing, Nabi sallallahu’alaihi wasallam menyuruh (mengambil) satu timba air dan disiramkan (ke tempat dia kencingi).


6. Menutu Aurat.
Ibnu Abdul Bar rahimahullah berkata: “(Para Ulama) telah sepakat (ijma) akan rusaknya shalat orang yang menanggalkan bajunya sementara dia mampu menutupinya dan dia shalat (dalam kondisi) telanjang”.

Aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut sedangkan aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah.

7. Masuknya Waktu Sholat
Quran Surat an-Nisa ayat 103 “Maka dirikanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Seseungguhnya (sholat itu) kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”

8. Menghadap Kiblat.
Quran Surat Al Baqarah ayat 144 “ Sungguh Kami melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajhmu ke atah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu kepadanya”

Sebelum turun ayat ini, kaum muslim sholat menghadap ke arah Baitul Maqdis selama lebih kurang 16 atau 17 bulan, lalu Nabi SAW meminta kepada Allah supaya diizinkan untuk peindah kiblat mengarah MAsjidil Haram, lalu turunlah surat Albqarah tersebut. Sejak itu kaum muslim sholat menghadap MAsjidil Haram.

9. Niat.
Barangsiapa menunaikan shalat tanpa niat, maka shalatnya batal. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dari Umar bin Khattab radhiallahu’anhu, dia berkata, "Aku  mendengar Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya amal (ibadah) itu dengan niat. Dan sesungghnya setiap orang itu (tergantung) apa yang dia niatkan”. Maka Allah tidak akan menerima amal (ibadah) tanpa niat.

Sumber : kitab “Panduan Sholat Lengkap” karya Dr. Sa’id bin Ali bin Wahaf al-Wahthani dan http://islamqa.info